Wasit Somalia Jadi Korban Kebijakan AS, Gagal Tugas di Piala Dunia 2026

Soccer Update

Wasit Somalia Jadi Korban Kebijakan AS, Gagal Tugas di Piala Dunia 2026

Mohammad Resha Pratama - detikJabar
Selasa, 09 Jun 2026 19:00 WIB
Omar Artan  looks on  during the AFCON Group F match between Gabon and Ivory Coast at Marrakech stadium, Marrakech, Morocco on December 31, 2025.  (Photo by Ulrik Pedersen/NurPhoto via Getty Images)
Omar Artan (Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto)
Jakarta -

Piala Dunia 2026 kembali diwarnai polemik soal kebijakan imigrasi Amerika Serikat. Kali ini, yang menjadi korban adalah wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, yang justru ditolak masuk ke negara tuan rumah meski telah mengantongi visa resmi.

Insiden itu terjadi pada Senin (8/6) saat Artan tiba di Bandara Internasional Miami. Alih-alih melanjutkan perjalanan untuk bertugas di Piala Dunia, wasit yang dinobatkan sebagai wasit terbaik Afrika 2026 tersebut justru ditahan oleh petugas imigrasi sebelum akhirnya dideportasi ke Istanbul.

Melansir detikSport, kasus ini langsung memicu sorotan tajam terhadap FIFA. Sebab sebelumnya, badan sepak bola dunia itu berulang kali menegaskan bahwa seluruh peserta dan ofisial Piala Dunia akan mendapatkan perlakuan yang setara tanpa diskriminasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, Artan diketahui telah memiliki visa yang sah untuk memasuki Amerika Serikat. Keberangkatannya bahkan difasilitasi oleh Kedutaan Besar Somalia di Kenya yang membantu penerbitan paspor diplomatik guna menghindari kendala administrasi perjalanan.

ADVERTISEMENT

Namun seluruh persiapan tersebut ternyata tidak cukup.

Penolakan terhadap Artan diduga berkaitan dengan statusnya sebagai warga negara Somalia, yang termasuk dalam daftar negara yang terdampak kebijakan pembatasan perjalanan yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Situasi ini semakin memperjelas keterbatasan FIFA dalam menghadapi kebijakan domestik negara tuan rumah. Meski menjadi penyelenggara turnamen terbesar sepak bola dunia, FIFA mengakui tidak memiliki kewenangan untuk mencampuri urusan imigrasi Amerika Serikat.

"FIFA tidak terlibat dalam proses imigrasi negara tuan rumah, termasuk penentuan visa, dan telah diberitahu oleh pihak berwenang bahwa status Mister Artan tidak akan diubah saat ini," kata juru bicara FIFA.

"Seperti di event-event FIFA sebelumnya, negara tuan rumah yang menentukan siapa yang mendapat visa dan diperbolehkan masuk negara mereka."

Pernyataan tersebut memicu kritik karena dianggap bertentangan dengan jaminan FIFA sebelumnya terkait akses bagi seluruh peserta dan perangkat pertandingan.

Di sisi lain, otoritas imigrasi Amerika Serikat menegaskan bahwa kepemilikan visa tidak otomatis menjamin seseorang dapat memasuki wilayah negara tersebut.

Menurut pihak Customs and Border Protection (CBP), setiap keputusan tetap ditentukan saat pemeriksaan di pintu masuk berdasarkan berbagai pertimbangan keamanan dan imigrasi.

"Penentuan kelayakan masuk dilakukan berdasarkan kasus per kasus menggunakan informasi penegakan hukum, keamanan nasional, dan imigrasi saat dilakukan pemeriksaan," kata CBP.

Kasus Omar Abdulkadir Artan menjadi insiden terbaru yang memperlihatkan bagaimana kebijakan imigrasi Amerika Serikat dapat berdampak langsung terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Sebelumnya, sejumlah pemain, ofisial, hingga staf dari beberapa negara juga sempat menghadapi persoalan serupa menjelang turnamen dimulai.


Artikel ini sudah tayang di detikSport




(mrp/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads