Drama Yaya Sithole dan Kartu Merah Pertama di Piala Dunia 2026

Drama Yaya Sithole dan Kartu Merah Pertama di Piala Dunia 2026

Baban Gandapurnama - detikJabar
Jumat, 12 Jun 2026 09:47 WIB
MEXICO CITY, MEXICO - JUNE 11: Sphephelo Sithole of South Africa (L) fights for the ball with Brian Gutierrez of Mexico (R) during the FIFA World Cup 2026 Group A match between Mexico and South Africa at Mexico City Stadium on June 11, 2026 in Mexico City, Mexico. (Photo by Alejandro Espino/Eurasia Sport Images/Getty Images)
Sphephelo 'Yaya' Sithole (Foto: Getty Images/Eurasia Sport Images)
Bandung -

Gelandang bertahan andalan Afrika Selatan, Sphephelo 'Yaya' Sithole, mencatatkan namanya sebagai pemain pertama yang menerima kartu merah pada gelaran akbar Piala Dunia 2026.

Insiden dramatis pengusiran Yaya Sithole ini terjadi di tengah atmosfer panas laga pembuka Grup A saat Afrika Selatan menantang ketangguhan sang tuan rumah, Meksiko, di Stadion Azteca, Jumat (12/6/2026) waktu Indonesia. Pertandingan pembuka yang sarat gengsi tersebut akhirnya berujung pada kekalahan pahit Bafana Bafana dengan skor akhir 0-2.

Detik-Detik Petaka Menit ke-49 di Stadion Azteca

Memasuki paruh kedua pertandingan dengan ketertinggalan satu gol, Afrika Selatan mencoba tampil lebih menekan guna menyamakan kedudukan. Namun, petaka justru datang dari sebuah skema serangan balik cepat yang diperagakan oleh anak-anak asuh Meksiko pada menit ke-49.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berawal dari lini tengah, gelandang Meksiko mengirimkan umpan terobosan akurat membelah pertahanan Afrika Selatan. Penyerang lincah Meksiko, Brian Gutierrez, dengan kecerdikan luar biasa berhasil lolos dari jebakan offside yang dipasang oleh barisan pertahanan lawan. Gutierrez langsung menggiring bola dengan kecepatan penuh menuju gawang Afrika Selatan yang dikawal ketat.

MEXICO CITY, MEXICO - JUNE 11: Referee Wilton Sampaio issues a red card to Sphephelo Sithole #13 of South Africa during the FIFA World Cup 2026 Group A match between Mexico and South Africa at Mexico City Stadium on June 11, 2026 in Mexico City, Mexico. (Photo by Kevin C. Cox/Getty Images)Wasit Wilton Sampaio memberikan kartu merah kepada Sphephelo 'Yaya' Sithole saat laga Grup A Piala Dunia FIFA 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan di Stadion Mexico City. (Foto: Getty Images/Kevin C. Cox)

Sithole, yang menyadari dirinya kalah langkah, mencoba melakukan aksi defensif darurat. Ia berlari kencang dari koridor tengah lapangan menuju area kotak penalti untuk memutus momentum pergerakan Gutierrez. Tepat sekitar satu meter sebelum garis kotak terlarang, dalam situasi satu lawan satu yang krusial, Sithole melakukan kontak fisik keras dengan menabrak badan Gutierrez dari arah belakang hingga sang penyerang tersungkur di lapangan.

ADVERTISEMENT

Wasit asal Brasil yang memimpin jalannya laga, Wilton Sampaio, berada dalam posisi pandang yang sangat ideal. Tanpa keraguan sedikit pun, Sampaio langsung meniup peluit tanda pelanggaran berat dan segera merogoh saku belakangnya untuk mengacungkan kartu merah langsung ke arah wajah Sithole pada menit ke-49. Keputusan tegas ini seketika meruntuhkan moral bertanding skuad Bafana Bafana.

Edukasi Aturan: Mengenal Istilah DOGSO dalam Regulasi IFAB

Keputusan wasit Wilton Sampaio mengeluarkan kartu merah langsung tanpa didahului kartu kuning pertama didasarkan pada aturan tegas sepak bola modern yang dirumuskan oleh International Football Association Board (IFAB), yakni Hukum 12 mengenai pengusiran akibat pelanggaran DOGSO (Denying an Obvious Goal-Scoring Opportunity).

Dalam regulasi resmi IFAB, DOGSO didefinisikan sebagai tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh seorang pemain bertahan terhadap pemain lawan yang sedang menguasai bola atau memiliki peluang sangat nyata untuk mencetak gol, di mana tindakan ilegal tersebut menggagalkan peluang emas tersebut secara tidak sah.

Untuk menjatuhkan hukuman DOGSO berupa kartu merah langsung, korps wasit harus mempertimbangkan empat parameter utama di lapangan:

  1. Jarak antara lokasi pelanggaran dengan gawang lawan.
  2. Arah umum permainan yang mengarah langsung ke gawang.
  3. Kemungkinan besar pemain penyerang untuk menguasai atau mengontrol bola.
  4. Posisi serta jumlah pemain bertahan lain yang berada di sekitar area kejadian.

Dalam kasus pelanggaran Sithole terhadap Gutierrez, sang gelandang Afrika Selatan dinilai sebagai orang terakhir di lini pertahanan (last man) yang menghentikan laju lawan secara ilegal dalam situasi berbahaya di luar kotak penalti. Karena pelanggaran terjadi di luar garis kotak terlarang, hukuman yang diberikan adalah kartu merah langsung disertai tendangan bebas langsung bagi pihak lawan, tanpa adanya kompromi penalti.

Blunder Ganda dan Rekor Hujan Kartu dalam Laga Pembuka

Kartu merah pada menit ke-49 seolah menyempurnakan malam kelabu bagi Sphephelo Sithole. Jauh sebelum insiden pengusiran tersebut, sang pemain sudah melakukan kesalahan fatal di awal babak pertama, tepatnya pada menit ke-9.

Sithole yang mencoba menguasai bola di area pertahanan sendiri kehilangan konsentrasi akibat tekanan tinggi (pressing) yang diterapkan gelandang Meksiko, Erik Lira. Bola berhasil direbut secara bersih oleh Lira, yang kemudian dengan cepat melepaskan umpan matang kepada Julian Quinones. Tanpa kesulitan berarti, Quinones menceploskan bola ke gawang Afrika Selatan untuk membawa Meksiko memimpin 1-0.

Sphephelo Sithole of South Africa see the red card during the FIFA World Cup 2026 Group A match between Mexico and South Africa at Mexico City Stadium on June 11, 2026 in Mexico City, Mexico. (Photo by Jose Breton/Pics Action/NurPhoto via Getty Images)Sphephelo Yaya Sithole diganjar kartu merah saat pertandingan Grup A Piala Dunia FIFA 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan di Stadion Mexico City. (Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto)

Laga pembuka ini pada akhirnya tidak hanya dicatat karena kartu merah perdana Sithole, melainkan juga karena intensitas keras menjurus kasar yang diperagakan kedua tim. Wilton Sampaio terpaksa mengeluarkan total tiga kartu merah sepanjang laga-sebuah rekor kartu merah terbanyak dalam satu laga pembuka sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia. Rekan setim Sithole, Themba Zwane, juga turut diusir keluar lapangan setelah menerima kartu merah di sisa waktu babak kedua.

Meksiko akhirnya berhasil mengunci poin penuh di hadapan publik sendiri setelah penyerang berpengalaman Raul Jimenez mencetak gol tambahan di paruh kedua, memastikan kemenangan telak tuan rumah dengan skor 2-0 atas Afrika Selatan yang bermain dengan 9 orang.

Profil Sphephelo 'Yaya' Sithole: Jenderal Lini Tengah dari Durban

Pemain tangguh yang kini tengah menjadi buah bibir publik sepak bola dunia ini memiliki nama lengkap Sphephelo S'Miso Sithole. Lahir pada tanggal 3 Maret 1999 di Durban (beberapa rujukan basis data lokal Afrika Selatan juga mencatat kota Ulundi sebagai tanah kelahirannya), Sithole kini menginjak usia emas 27 tahun.

Karier sepak bola profesionalnya banyak dihabiskan di tanah Eropa, khususnya di kompetisi Portugal. Saat ini, Sithole berstatus sebagai pemain resmi untuk klub divisi kedua Portugal, CD Tondela.

Sebelumnya, ia sempat mengecap pengalaman berharga saat menjalani masa pinjaman di klub kasta tertinggi Portugal, Gil Vicente, serta menimba ilmu sepak bola di akademi muda Sporting CP-salah satu akademi pencetak bakat terbaik di dunia. Di level internasional, Sithole mulai dipercaya mengenakan seragam tim nasional senior Afrika Selatan sejak tahun 2022.

Ia merupakan salah satu pilar penting di lini tengah yang sukses membawa skuad Bafana Bafana merebut medali perunggu atau peringkat ketiga pada turnamen bergengsi Piala Afrika (AFCON) tahun 2023 lalu. Sayang, debut impiannya di panggung Piala Dunia 2026 justru harus ternoda oleh goresan tinta merah sejarah pertahanan sepak bola.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Euforia Piala Dunia 2026 Bawa Rezeki ke Penjahit Bendera di Polman"
[Gambas:Video 20detik]
(bbp/bbp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads