Di tengah tingginya kunjungan wisatawan yang mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), kondisi jalan menuju kawasan wisata Pondok Halimun (PH) di Kabupaten Sukabumi justru memprihatinkan. Akses yang rusak parah dikeluhkan pengunjung karena dinilai mengganggu kenyamanan perjalanan ke destinasi unggulan tersebut.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi jalan terlihat berupa tanah yang rusak dan berlumpur, dengan permukaan tidak rata. Di beberapa titik, genangan air tampak menutupi jalur, membuat kendaraan harus melambat bahkan berisiko tergelincir. Sejumlah pengendara roda dua terlihat kesulitan melintas, terutama saat harus melewati jalur yang licin dan becek.
Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sukabumi pun angkat bicara. Kepala Dispar, Ali Iskandar, mengakui bahwa persoalan aksesibilitas menjadi salah satu kendala utama dalam pengembangan destinasi wisata tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, sebuah destinasi wisata idealnya memiliki tiga unsur penting, yakni atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. Ketiganya harus berjalan seimbang agar memberikan pengalaman maksimal bagi wisatawan.
Namun, perbaikan jalan menuju kawasan yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango itu tidak bisa dilakukan secara langsung oleh pemerintah daerah. Pasalnya, status jalan tersebut bukan milik Pemkab Sukabumi.
"Jalan itu berada di atas lahan milik PTPN. Pengelolaannya juga ada di unit kerja lain, yakni Dinas PU. Kami sudah berulang kali berkomunikasi agar ini jadi perhatian, tapi memang ada kendala aset dan kemungkinan anggaran," kata Ali di Pendopo Kabupaten Sukabumi yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Waudoyong, Kota Sukabumi, Rabu (1/4/2026).
Jalan sepanjang kurang lebih 1,2 kilometer itu saat ini dalam kondisi memprihatinkan. Selain rusak, penerangan jalan umum juga minim sehingga menambah risiko bagi pengendara, terutama saat malam hari.
Menghadapi kondisi tersebut, Dispar Sukabumi tengah mencari solusi alternatif. Salah satunya dengan membuka peluang kerja sama dengan investor untuk pengembangan kawasan wisata Pondok Halimun.
"Kita sedang menjajaki kerja sama melalui MoU atau PKS dengan pihak agrowisata, seperti yang dikembangkan di Gunung Mas Bogor," ucap Ali.
Selain itu, opsi perbaikan sementara melalui gotong royong bersama masyarakat juga dipertimbangkan, terutama jika kerja sama dengan pihak PTPN dapat terealisasi.
Di balik kondisi infrastruktur yang kurang memadai, Pondok Halimun tetap menjadi destinasi favorit wisatawan. Hal ini terlihat dari kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Selama libur Idul Fitri 1447 H, dari 18 sampai 26 Maret 2026, jumlah pengunjung mencapai 3.603 tiket dengan total PAD Rp21.618.000," ungkapnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Pondok Halimun memiliki potensi besar sebagai destinasi unggulan. Pemerintah daerah pun diharapkan segera menemukan solusi agar perbaikan akses jalan bisa terealisasi.
"Semoga ke depan bisa segera terealisasi, sehingga identitas wisata kita semakin baik," pungkas Ali.
(dir/dir)
