Sekilas, Australia dan Greenland tampak tidak jauh berbeda. Keduanya merupakan daratan raksasa yang seluruh sisinya dikelilingi samudra. Bahkan, jika hanya melihat ukurannya, Australia memang jauh lebih besar dengan luas sekitar 7.682.300 kilometer persegi, sedangkan Greenland memiliki luas sekitar 2.166.086 kilometer persegi.
Meski demikian, dalam pelajaran geografi keduanya justru memiliki status yang berbeda. Melansir detikTravel, Australia dikenal sebagai benua terkecil di dunia, sementara Greenland tetap menyandang predikat sebagai pulau terbesar di Bumi.
Lantas, apa yang membedakan keduanya? Mengapa Australia tidak disebut sebagai pulau raksasa, sedangkan Greenland tidak pernah dikategorikan sebagai benua?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maupun Encyclopaedia Britannica, benua didefinisikan sebagai daratan yang sangat luas dengan bagian tengah yang tidak dipengaruhi angin laut. Sementara itu, pulau adalah daratan yang seluruh sisinya dikelilingi oleh air.
Sayangnya, definisi tersebut belum sepenuhnya mampu menjawab pertanyaan itu. Sebab, apabila hanya berpatokan pada luas wilayah atau bentuk daratan, batas antara pulau dan benua menjadi sangat kabur.
Karena itulah, para ilmuwan menggunakan pendekatan yang lebih komprehensif. Mengutip NASA dan Live Science, setidaknya terdapat tiga faktor utama yang menjadi dasar mengapa Australia diakui sebagai benua, sedangkan Greenland tetap diklasifikasikan sebagai pulau.
Berdiri di Atas Lempeng Benuanya Sendiri
Alasan pertama terletak jauh di bawah permukaan bumi.
Secara geologis, Australia berdiri di atas Lempeng Australia, yakni lempeng tektonik yang membentuk satu kesatuan daratan benua. Keberadaan lempeng yang berdiri sendiri inilah yang menjadi salah satu syarat utama sebuah wilayah dapat dikategorikan sebagai benua.
Berbeda dengan Australia, Greenland hingga kini masih merupakan bagian dari Lempeng Amerika Utara. Meski selama jutaan tahun pulau tersebut perlahan bergerak menjauh akibat pergerakan lempeng tektonik, struktur kerak buminya tetap menyatu dengan benua Amerika Utara. Dengan kata lain, secara geologis Greenland bukanlah benua yang berdiri sendiri.
Terisolasi Selama Jutaan Tahun
Perbedaan berikutnya terlihat dari sejarah kehidupan yang berkembang di atas kedua daratan tersebut.
Australia telah terpisah dari daratan lain selama puluhan juta tahun. Isolasi yang sangat panjang membuat proses evolusi berlangsung secara unik sehingga melahirkan beragam flora dan fauna endemik yang hampir tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Kanguru, koala, hingga pohon eukaliptus menjadi contoh paling dikenal dari kekayaan hayati khas Australia.
Sebaliknya, Greenland tidak mengalami proses isolasi biologis yang sama. Sebagian besar satwa dan tumbuhan yang hidup di sana juga ditemukan di wilayah Arktik lainnya, seperti Kanada maupun Skandinavia. Beruang kutub, serigala Arktik, serta vegetasi tundra merupakan contoh spesies yang penyebarannya melintasi berbagai kawasan di sekitar Kutub Utara.
Sejarah Manusianya Berbeda
Bukan hanya kondisi alamnya, sejarah manusia yang menghuni kedua wilayah tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan.
Australia memiliki masyarakat adat Aborigin yang berkembang secara terpisah selama ribuan tahun. Sejarah, budaya, hingga karakter genetik mereka menjadi identitas yang sangat khas dan melekat pada daratan Australia.
Sementara itu, penduduk asli Greenland, yakni suku Inuit, bukanlah kelompok yang hanya hidup di pulau tersebut. Jejak budaya dan garis keturunan Inuit tersebar luas di kawasan Kutub Utara, mulai dari Kanada, Alaska di Amerika Serikat, hingga Siberia di Rusia.
Artikel ini sudah tayang di detikTravel
(dir/dir)
