Nestapa Karang Pamulang: Proyek Mangkrak Ubah Pantai Jadi 'Kuburan'

Nestapa Karang Pamulang: Proyek Mangkrak Ubah Pantai Jadi 'Kuburan'

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Jumat, 03 Jul 2026 08:00 WIB
Opung memperlihatkan Pesisir Karang Pamulang Yang Tak Lagi Enak Dipandang
Foto: Kondisi Pesisir Karang Pamulang yang tak lagi enak dipandang (Syahdan Alamsyah/detikJabar).
Sukabumi -

Matahari bersinar terik menyinari hamparan pasir yang kini menutupi sebagian besar kawasan Pantai Karang Pamulang, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Di bawah rimbunnya bayangan pohon besar, Yan Bastian, atau yang akrab disapa Opung, berdiri merenung.

Pria paruh baya berkaus oblong hitam polos itu mengangkat tangan kanannya, menunjuk lurus ke arah hamparan laut dan tumpukan beton pemecah ombak (breakwater) di kejauhan. Raut wajahnya serius, seolah sedang memanggil kembali memori masa lalu yang kini terkubur sedimen pasir.

"Di sini dulunya tempat surfing, ikon Palabuhanratu. Dulu, bule-bule banyak yang menginap untuk selancar, terutama dari Jepang. Cocok untuk pemula sebagai alternatif kalau ombak Cimaja terlalu besar," tutur pengelola Hotel Bunga Ayu tersebut, memulai ceritanya kepada detikJabar, Kamis (2/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, pesona Karang Pamulang itu perlahan redup sejak tahun 2015. Proyek pembangunan Pelabuhan Laut Pengumpan Regional (PLPR) Palabuhanratu yang digadang-gadang oleh pemerintah menjadi dermaga pariwisata megah justru membawa petaka ekologis bagi pesisir tersebut.

Alih-alih mendatangkan wisatawan, proyek yang bertahun-tahun berstatus mangkrak ini mengubah wajah pantai secara drastis.

ADVERTISEMENT

Opung mengenang bagaimana ia dan mendiang rekannya, Profesor Edi, seorang pakar lingkungan, pernah mempresentasikan penolakan mereka secara langsung ke Kementerian Perhubungan dan Kementerian Kelautan.

Opung memperlihatkan Pesisir Karang Pamulang Yang Tak Lagi Enak DipandangOpung memperlihatkan Pesisir Karang Pamulang Yang Tak Lagi Enak Dipandang (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar).

Mereka sudah memperingatkan bahwa pemaksaan lokasi dermaga akan berdampak fatal terhadap sirkulasi arus laut.

"Studi kelayakannya tidak benar, Amdal juga sebetulnya tidak keluar. Kami sudah sampaikan kalau dibangun di sini, keadaannya akan seperti pantai di Cisolok. Nanti tidak ada air, malah jadi sedimen pasir," keluhnya.

Kini, peringatan tersebut menjadi kenyataan pahit. Garis pantai yang dulunya berada tepat di ujung fondasi hotel, kini merangsek menjauh akibat tumpukan pasir.

Akses wisata yang dulu terbuka lebar dan menjadi tempat bermain anak-anak, kini tertutup semak belukar liar dan beralih fungsi menjadi sarang biawak. Lebih tragis lagi, sisa-sisa perahu nelayan dibiarkan hancur terbengkalai, mengubah bekas kawasan wisata premium ini menjadi semacam 'kuburan' perahu.

Bagi pengunjung, kawasan ini tak lagi ramah. Perubahan arus akibat beton pemecah ombak menciptakan backwash (arus balik) yang sangat mematikan.

"Bisa ada korban kalau berenang sampai melewati pemecah ombak itu. Arusnya keras sekali, orang tidak akan bisa balik lagi," tegas Opung mengingatkan.

Dampak dari proyek yang tertunda kelanjutannya ini sangat memukul sektor perhotelan lokal. Hotel Bunga Ayu yang telah berdiri kokoh sejak era '80-an mengalami anjloknya tingkat hunian (okupansi) hingga lebih dari 50 persen.

Wisatawan yang datang berniat mencari pantai indah seperti era sebelum 2012, kerap membatalkan niatnya begitu melihat kondisi lingkungan yang berubah kumuh.

Meski dirugikan, Opung menolak menyerah pada keadaan alam yang terlanjur rusak. Menggunakan biaya dan inisiatif sendiri, ia menanam bibit pohon ketapang dan cemara di atas sedimen pasir tersebut. Enam tahun berselang, pepohonan itu mulai rimbun menghijau.

"Mau bilang bagaimana lagi? Sudah begini keadaannya. Saya tanami saja pohon-pohon. Maksudnya, suatu saat nanti mungkin ini bisa jadi taman kota," ucapnya pelan, menyiratkan secercah asa di tengah pesisir yang telanjur menjadi korban perencanaan gegabah.




(sya/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads