Kisah Tukar Guling Lahan Sang Proklamator di Palabuhanratu

Kisah Tukar Guling Lahan Sang Proklamator di Palabuhanratu

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Senin, 06 Jul 2026 08:30 WIB
Hotel Bunga Ayu di Pesisir Palabuhanratu
Hotel Bunga Ayu di Pesisir Palabuhanratu (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Pesisir Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, bukan sekadar hamparan pasir dan deburan ombak. Di balik keelokan lanskapnya, tersimpan kepingan sejarah yang berkelindan erat dengan sosok Ir. Soekarno. Sebuah tebing karang yang menjorok angkuh ke samudera menjadi titik awal dari narasi besar sang Proklamator di tanah selatan Jawa ini.

Di atas tebing itulah berdiri Pesanggrahan Tenjo Resmi, atau yang kini lebih karib menyandang nama Istana Presiden Palabuhanratu. Konon, Bung Karno jatuh hati pada pandangan pertama saat melihat lokasi tersebut. Baginya, tempat itu adalah pelarian sempurna untuk sejenak menanggalkan beban politik ibu kota. Ia menjulukinya Cliff House, rumah di tebing, sebuah titik pandang istimewa di mana lengkungan Teluk Palabuhanratu tersaji utuh tanpa sekat.

Namun, ada cerita yang jarang tersingkap di balik kemegahan istana tersebut. Lahan eksotis itu mulanya bukan aset negara, melainkan milik seorang pria bernama Mayor Mantiri. Sejarah mencatat, berdirinya istana ini melibatkan sebuah kesepakatan besar yang hingga kini masih diingat jelas oleh Yan Bastian, pria yang akrab disapa Opung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Opung, yang kini mengelola Hotel Bunga Ayu di Pantai Karang Pamulang, menuturkan bahwa perpindahan kepemilikan lahan tersebut terjadi melalui proses tukar guling.

ADVERTISEMENT

"Pemilik awal Bunga Ayu dulu tanahnya di sana, yang sekarang jadi Istana Presiden. Karena Pak Soekarno ngotot ingin bikin tempat peristirahatan di sana, akhirnya pada tahun 60-an ditukar guling dengan lahan yang ada di Karang Pamulang ini," ungkap Opung saat berbincang belum lama ini.

Visi Soekarno memang tak main-main. Memasuki awal dekade 1960-an, ia berambisi menyulap Teluk Palabuhanratu menjadi destinasi wisata kelas dunia. Tak tanggung-tanggung, dua arsitek legendaris, F.S. Silaban dan R.M. Soedarsono, dikerahkan untuk merancang pesanggrahan impiannya. Proyek ini berjalan simultan dengan pembangunan Samudera Beach Hotel (SBH) yang didanai dari pampasan perang Jepang.

Hotel Bunga Ayu di Pesisir PalabuhanratuHotel Bunga Ayu di Pesisir Palabuhanratu Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Seiring waktu, lahan pengganti seluas 7.000 meter persegi di Karang Pamulang pun mulai bersalin rupa. Pada era 1990-an hingga awal milenium, Hotel Bunga Ayu mencapai masa kejayaannya. Kawasan ini menjadi magnet bagi pelancong mancanegara, terutama para peselancar asal Jepang yang menjadikannya markas utama.

Karakter ombaknya unik, panjang namun cukup ramah bagi pemula, menjadikannya alternatif terbaik saat ombak di Pantai Cimaja sedang terlalu liar. Kala itu, pesona hotel ini tak tertandingi, dengan garis laut yang menyentuh langsung pondasi bangunan saat air pasang tiba.

Namun, kejayaan itu kini tinggal kenangan yang getir. Ambisi pembangunan infrastruktur pada 2015 menjadi titik balik yang tragis. Proyek Pelabuhan Laut Pengumpan Regional (PLPR) yang direncanakan di Karang Pamulang justru mangkrak, meninggalkan tumpukan beton pemecah ombak (breakwater) yang memicu bencana ekologis.

Pantai yang dulunya bening kini terkubur sedimen pasir yang masif. Laut seolah dipaksa menjauh, digantikan oleh semak belukar dan menjadi sarang biawak. Akses publik terputus, dan ombak yang dulu bersahabat kini berubah mematikan akibat arus backwash. Di atas hamparan pasir yang gersang, sisa-sisa perahu nelayan membusuk, menciptakan pemandangan serupa kuburan kapal. Dampaknya pun telak, tingkat hunian Hotel Bunga Ayu merosot tajam hingga lebih dari separuh karena hilangnya pesona Karang Pamulang.

Di tengah situasi yang mencekik ini, Opung menolak untuk menyerah pada keadaan. Di atas lahan sedimen yang telah merenggut masa depan bisnisnya, ia mulai menanam pohon ketapang dan cemara laut. Selama enam tahun terakhir, ia merawat tunas-tunas itu dengan telaten hingga kini mulai rimbun menghijau.

"Maksudnya, suatu saat mungkin ini bisa jadi taman kota," ucap Opung pelan, menyiratkan asa yang masih tersisa di matanya.

Kisah Bunga Ayu dan Karang Pamulang hari ini adalah sebuah ironi sejarah. Sebuah kawasan yang lahir dari visi besar wisata nasional sang Proklamator, sempat mencicipi status surga dunia, namun kini harus berjuang sendirian melawan dampak pembangunan yang justru menghancurkan jati dirinya.




(sya/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads