Tedjowulan Sebut Kedua Paku Buwono XIV Belum Siap Jadi Raja, Kenapa?

Tedjowulan Sebut Kedua Paku Buwono XIV Belum Siap Jadi Raja, Kenapa?

Tara Wahyu NV - detikJateng
Kamis, 25 Des 2025 17:12 WIB
KGPA Tedjowulan saat berada  di Loji Gandrung.
KGPA Tedjowulan saat berada di Loji Gandrung. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng.
Solo -

Mahamenteri Kanjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA), Tedjowulan, menyebut dua Raja Keraton Solo yang mengukuhkan diri belum siap untuk menjadi Sinuhun Paku Buwono XIV. Ketidaksiapan itu ia lihat dari beberapa faktor, baik dari sisi spiritual maupun pengetahuan.

"Kalau saya pikir mereka belum siap. (Secara spiritual, dari segi pengetahuan juga?) Belum, belum, belum siap. Kalau untuk menduduki jabatan sebagai seorang ratu (raja), belum siap," katanya dalam podcast bersama detikJateng, Rabu (24/12/2025).

Lebih lanjut, Tedjowulan menyebut bahwa salah satu indikator seorang raja yakni dipegang sabda pandita ratunya. Sehingga, ketika mereka akan berbicara, maka harus melalui proses yang panjang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satu indikatornya belum siap bahwa ratu itu yang dipegang adalah sabda pandita ratu. Iya, begitu. Jadi jangan celometan (asal bicara), berbicara itu harus melalui proses yang sangat mendalam. Lah ini malah, tapi dengan bekal pendidikan yang tadi, itu dia pendidikan hukum, harusnya tahu persislah. Ngomong seperti itu, itu namanya melukai," ujarnya

"Jangan sampai menyakiti orang, dia itu justru melindungi, menenangkan, dan lain sebagainya, begitu. Itu tidak tersirat sampai sekarang," sambungnya.

ADVERTISEMENT


Tedjowulan pun berseloroh bahwa untuk menjadi raja harus ada psikotes untuk mengetahui kemampuan. Apalagi, kata dia, untuk menjadi raja harus mempunyai sisi spiritual hingga religius yang harus dijalankan.

"Ya, itu tadi mestinya harus melalui psikotes. (Harus ada fit and proper test?) Ya, untuk melihat kemampuan dan sebagainya. Kalau di Jawa ada spiritual sampai dengan religius, itu harus dijalankan. Termasuk selama 40 hari itu. Apa susahnya mendoakan yang sudah surud (meninggal) Itu maksud saya. Mendoakan seperti adat yang biasa kita lakukan, begitu. Iya, harapan saya adalah agar nanti bisa tenang, berpikir jernih, dan mengendap dulu," tuturnya.

Disinggung mengenai kehadiran saat penobatan Paku Buwono XIV Mangkubumi, ia menegaskan tidak mendukung salah satu raja. Dirinya berada di sana karena saat itu mengundang para putra-putri Paku Buwono XII.

"Berbicara tentang dukung-mendukung, yang mau didukung yang mana? Sebenarnya, harapan saya ini bisa ketemu dulu begitu. Jadi, berdasarkan pengalaman saya, pengalaman saya dengan Paku Buwono XIII waktu itu bertemu, jadi menyinggung rekonsiliasi dan kesepahaman dan lain sebagainya," katanya.

"Tapi ketika saya memanggil saudara-saudara saya atau putra-putri Paku Buwono XII, saya tidak tahu (rencana penobatan), karena saya benar-benar tidak tahu apa-apa. Lalu ada acara seperti itu," pungkasnya.




(apl/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads