Pemilik peternakan babi di Sragen, Angga Wiyana Mahardika (44), menyebut pendiri Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kedungbanteng, Desa Banaran, Sragen, awalnya mengaku akan membangun minimarket. Namun, lahan tersebut justru dibangun dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Pertamanya kan minimarket. Pertama itu kan lahannya kakak saya nomor satu, dijual. Dijual ke pihak MBG. Nah, saya tanya katanya mau dibangun minimarket. Loh, kok tahu-tahunya dibangun MBG, kok nggak ada konfirmasi, kulo nuwun ke saya," katanya saat ditemui awak media di rumahnya, Selasa (6/1/2026).
Angga mengaku bersedia jika harus direlokasi, asalkan kompensasi yang diberikan tidak merugikan dirinya. Hanya saja, Angga enggan mengungkapkan nominal kompensasi yang dimaksud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau mau direlokasi atau kompensasi, saya juga mau, tapi jangan merugikan pihak saya. Harus saling menguntungkan gitu loh, biar semua bisa kerja. Saya kan mintanya segini, tapi sana keberatan, saya turunkan lagi. Tapi mintanya (penawaran mereka) kan jauh dari angan-angan saya," ucapnya.
Ia menilai bahwa sejak awal pembangunan dapur MBG, pihak yayasan seharusnya sudah tahu jika ada peternakan babi di lokasi tersebut.
"Bangunan ya tetap kelihatan, orang saya sama tukang-tukangnya setiap hari ngobrol, kok. Harusnya tetap tahu, kalau bilang tidak tahu itu bohong. Bau babi kan tidak bisa dibohongi, masa bangun-bangun terus tidak tahu," terangnya.
Angga kembali menegaskan bahwa sejak awal informasi yang ia terima adalah pembangunan minimarket. Ia menyebut bahwa pendiri SPPG sempat meminta izin terkait potensi kebisingan selama pembangunan.
"Awal mau bangun, izin ke saya, tapi izinnya itu buat minimarket, bukan buat MBG. Izinnya mau dibuat minimarket, Pak. Nanti kalau ada debu atau suara bising mohon maaf. Oh ya, tidak apa-apa, saya juga baik-baik saja," terangnya.
Ditemui terpisah, PIC SPPG Kedungbanteng, Aan Juliyatmoko, mengakui memang awalnya pihaknya ingin membangun minimarket di sana. Namun, setelah ada program MBG, pihaknya memilih untuk membangun dapur MBG.
"Dulu kita beli mau bikin minimarket, betul. Itu bukan izinnya, tapi kita beli tanah rencananya mau bikin minimarket. (Kapan) Ya tidak ada lima tahun yang lalu. Dulu penginnya ada minimarket, tapi karena ada BGN (Badan Gizi Nasional) kita dukung program pemerintah, jadi kita bikin dapur MBG," ucapnya.
Ia mengaku bahwa sejak awal tidak diberi tahu adanya kandang babi di sebelah lahan tersebut.
"Sebetulnya kita kan tidak tahu ada kandang saat kita beli. Saat beli tanah di situ, pemilik tanah sebelumnya tidak memberikan informasi bahwa ada kandang babi di sebelahnya," tuturnya.
Terkait kompensasi, Aan mengatakan sudah ada pertemuan dengan pemilik kandang babi pada 13 Agustus 2025 dan 10 November 2025. Kemudian dia menyebut ada permintaan Rp 2 miliar yang kemudian terus turun hingga Rp 1 miliar.
"Beliau minta kompensasi untuk memindah kandang babi. Itu kita sebetulnya saat itu sudah kulo nuwun (permisi) juga dan dimediasi oleh pihak setempat. Ternyata beliau mintanya Rp 2 miliar saat itu. Lalu kemarin katanya diturunkan jadi Rp 1,5 miliar dan sekarang bilang Rp 1 miliar," katanya.
Dia menyebut sempat lega karena peternak bersedia memindah kandang karena sudah ada lahan di dekat sungai Bengawan Solo. Dia juga menyatakan siap membantu. Akan tetapi nilai yang diminta tersebut cukup tinggi baginya.
"Misalkan beliau mau pindah, kita bantu semampu kita. Karena kita juga baru mulai usaha, belum berdiri sepenuhnya. Tapi dengan angka Rp 1,5 miliar itu, kita sangat terkejut," ungkapnya.
Aan menyebut pemilik peternakan sempat meminta agar seluruh lahannya dibeli sekalian Rp 5 miliar. Menurut Aan itu angka yang luar biasa.
"Intinya kita oke untuk pindah, tapi ternyata beliau minta kompensasi Rp 1,5 miliar. Kalau tidak, ya dibeli semuanya seharga Rp 5 miliar. Menurut saya sebagai pengusaha, itu angka yang luar biasa hanya untuk kompensasi. Kecuali kalau kita benar-benar menggusur lahan milik dia," pungkasnya.
(alg/apu)
