Fakta-Fakta Perjuangan Zainuddin Temukan Ibunya Setelah Terpisah 32 Tahun

Round up

Fakta-Fakta Perjuangan Zainuddin Temukan Ibunya Setelah Terpisah 32 Tahun

Tim detikJateng - detikJateng
Kamis, 08 Jan 2026 07:00 WIB
Mohammad Zainuddin berfoto dengan san ibu.
Mohammad Zainuddin berfoto dengan sang ibu. (Foto: Dok. Pribadi Zainuddin)
Solo -

Pria asal Cilacap, Mohamad Zainuddin (39), membagikan kisah pertemuannya kembali dengan sang ibu setelah berpisah selama 32 tahun. Dia terpisah sendiri dengan keluarga sejak masih berusia 7 tahun.

Lelaki yang kini bekerja di perusahaan jasa pengiriman di Bekasi itu akhirnya menemukan kembali rumah masa kecilnya di Dusun Jakatawa, Desa Bulaksari, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap.

Terpisah Saat Usia 7 Tahun

Zainuddin mengaku saat berusia 7 tahun dia cukup bandel dan sering dimarahi. Suatu ketika dia terpikir untuk kabur. Dia mengingat saat itu tahun 1993 waktu magrib, kaki kecilnya berjalan menuju rel kereta api.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya pergi dari rumah sekitar umur 7 tahun. Waktu itu sering bandel, sering dimarahin orangtua, jadi sering kabur," kata Zainuddin kepada saat dihubungi detikJateng, Rabu (7/1/2025).

"Pas banget ada kereta berhenti, saya langsung naik saja. Saya sudah tahu itu kereta ke arah Jakarta, tapi nggak tahu nanti turun di mana," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Ia sempat turun di salah satu stasiun yang tak dikenalnya, kebingungan dan sempat terpikir untuk pulang. Namun malam sudah larut, dan ia kembali naik kereta hingga akhirnya tiba di Stasiun Jakarta Kota saat pagi hari.

"Sempat kepikiran mau balik lagi tapi kondisinya malam, bingung juga. Akhirnya saya naik lagi sampai turun di Jakarta, sampai sana pagi sudah terang," tuturnya.

Terlantar dan Kelaparan

Di kota besar itu, Zainuddin kecil sendirian, panik, dan cemas. Keinginan untuk pulang muncul, namun ia tak tahu harus memulai dari mana.

"Sampai di stasiun saya panik, takut dan cemas mau pulang tapi bingung soalnya jalurnya kan banyak. Ya sudah pasrah saja, akhirnya terlantar di sana kurang lebih satu minggu," kenangnya.

Selama hidup di jalanan, Zainuddin bertemu dengan anak-anak terlantar lainnya. Untuk bertahan hidup, ia mengemis di lampu merah demi mendapatkan makanan.

"Ada satu titik saya benar-benar sudah mau mati kelaparan. Alhamdulillah ada orang baik kasih ikan ukuran gede, memang rada basi tapi mau nggak mau saya terima, menghargai pemberian orang," ucapnya lirih.

Tinggal di Yayasan Sosial

Beruntung, Zainuddin bertemu seseorang dari yayasan sosial dan memintanya tinggal sekaligus sekolah. Dia pun bersedia dan kehidupannya mulai berubah.

"Ketemu orang yayasan, nawarin buat hidup di sana terus disekolahin juga, jadi saya mau," katanya.

Zainuddin tinggal di yayasan tersebut sejak 1993. Namun pada 1997, ia memilih keluar karena terjadi pergantian kepemilikan dan banyak anak merasa tidak betah.

"Di asrama itu sekitar tahun 1997 saya keluar karena sudah beda kepemilikan. Anak-anak lain juga pada nggak betah, saya kabur dari yayasan. Informasinya sekarang yayasan itu sudah nggak ada," ujarnya.

Ia kemudian ikut salah satu pengasuh yayasan yang juga keluar dan merintis yayasan baru. Mereka sempat berpindah-pindah lokasi, dari Depok hingga akhirnya menetap di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

"Saya ikut kakak pengasuh yang keluar. Dia bikin yayasan baru, sempat pindah-pindah, pernah di Depok, terakhir di Pasar Minggu," katanya.

Mencari Asal-usul Berbekal Denah

Saat itu Zainuddin kecil belum bisa membaca bahkan tidak tahu nama daerah tempat asalnya. Dia hanya memiliki bayangan samar soal tempat tinggalnya. Seorang anak jalanan sempat menebak dia berasal dari Semarang. Zainuddin kemudian ditemani pihak yayasan datang ke Semarang, namun hasilnya nihil.

"Waktu itu saya juga pernah dimasukin ke koran, majalah, sampai radio RRI soal orang hilang, tapi tetap nggak ketemu," katanya.

Waktu terus berlalu namun Zainuddin tidak menyerah untuk bisa pulang. Dia mencoba menggambar denah daerah sekitar rumahnya sesuai dengan ingatan yang dia punya. Zainuddin mencoba mencocokkan dengan peta digital.

"Sejak 2018 atau 2019 saya bikin denah gambar soal lingkungan rumah saya. Saya cocokin di Google Maps, saya susurin daerah Jawa, tapi nggak nemu-nemu," kata Zainuddin.

Titik Terang dari Netizen

Pada 19 Desember 2025, usai pulang kerja malam, Zainuddin merasa terdorong untuk menuliskan kronologi kehilangan dirinya secara panjang lebar.

"Saya nulis detail itu sampai jam 5 subuh. Itu ikhtiar terakhir saya. Kalau ketemu ya terima apa adanya," ujarnya.

Tulisan panjang tersebut kemudian ia unggah ke Twitter dan Facebook. Tak disangka, unggahan itu memantik kepedulian warganet yang ikut membantu mencocokkan denah buatan Zainuddin.

"Awalnya banyak yang ngarahin ke daerah Maos, Cilacap. Saya cek memang mirip, tapi feeling saya bukan. Banyak juga yang nyuruh saya cek langsung ke sana," tuturnya.

Hingga akhirnya, pada hari ketiga pencarian yang bertepatan dengan Hari Ibu, salah satu komentar netizen memberikan titik terang.

"Ada satu netizen yang komen, saya nggak kenal siapa. Tapi pas saya lihat, titik yang dia tunjuk itu sama plek dengan yang saya gambar, cuma memang ada sedikit perbedaan di pertemuan sungainya," kata Zainuddin.

Pulang ke Pelukan Ibu

Zainuddin pun mengambil cuti. Malam 24 Desember 2025, ia berangkat bersama istri dan anaknya menuju Cilacap. Melalui netizen tersebut, ia mendapatkan kontak keluarganya. Bahkan sebelum berangkat, ia sempat melakukan video call dengan sang ibu. Kemudian dia berkomunikasi dengan adiknya.

"Saya di-share lokasi sama adik saya. Baru sadar kalau sekarang rumahnya di Dusun Jakatawa, dulu di Dusun Klepukerep, masih satu desa," tuturnya.

Tangis pecah ketika ia akhirnya menginjakkan kaki di rumah masa kecilnya pada 25 Desember 2025. Sang ayah telah meninggal dunia. Yang tersisa adalah ibunya yang kini berusia 85 tahun dan beberapa adiknya.

"Rasanya campur aduk. Terima kasih sama netizen, luar biasa, terutama TikTok. Dan tentu saja sama Allah Yang Maha Kuasa," ucapnya.

Kini, sang ibu ia bawa ke Bekasi untuk tinggal sementara, meski sang ibu mengaku lebih betah di desa karena masih senang menggarap sawah.

"Saya 39 tahun, ibu sekarang 85. Beliau masih pengin balik ke kampung karena masih kuat nyangkul," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Yamaha NMAX: Saksi Perjuangan 3 Generasi"
[Gambas:Video 20detik]
(alg/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads