9 Teks Pidato Isra Miraj Singkat Beserta Dalilnya, Cocok untuk Lomba-Ceramah

9 Teks Pidato Isra Miraj Singkat Beserta Dalilnya, Cocok untuk Lomba-Ceramah

Nur Umar Akashi - detikJateng
Senin, 12 Jan 2026 10:22 WIB
Ilustrasi pidato, khutbah Jumat, dan ceramah
Ilustrasi pidato Isra Miraj. Foto: storyset/Freepik
Solo -

Isra Miraj adalah peristiwa menakjubkan yang senantiasa diperingati oleh umat Islam Indonesia. Pada tanggal 27 Rajab tiap tahunnya, beragam kegiatan digelar, seperti ceramah, diskusi ilmiah, hingga lomba pidato.

Tahun ini, 27 Rajab bertepatan dengan Jumat, 16 Januari. Oleh pemerintah, tanggal itu dijadikan libur nasional sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Nomor 1497, 2, dan 5 Tahun 2025.

Sejak Januari atau bahkan akhir 2025, panitia Isra Miraj sudah mulai sibuk bersiap-siap dengan beragam kegiatannya. Begitu juga para ustadz yang sudah dikontak untuk mengisi ceramah maupun peserta lomba sebagai perwakilan sekolah atau mandiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teks pidato mesti dibuat sedemikian rupa agar ilmu di dalamnya tersampaikan. Juga supaya berhasil menyentuh hati juri. Diksinya mesti disusun padat, ringkas, tetapi tidak menghilangkan makna yang ingin dibawakan.

Butuh contoh? Cek teks pidato Isra Miraj singkat yang cocok untuk lomba dan ceramah berikut ini!

ADVERTISEMENT

Teks Pidato Isra Miraj Singkat untuk Lomba dan Ceramah

Teks Pidato Isra Miraj #1

(sumber: khutbah Jumat berjudul Hikmah Isra Miraj yang ditulis H Ahmad Misbah di laman NU Banten)

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah Pertama sekali marilah kita bersyukur ke hadirat Allah yang telah memberikan berjuta kenikmatan kepada kita sekalian, sehingga masih bisa melaksanakan Shalat Jumat di masjid yang mulia ini.

Shalawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad yang telah membimbing kita menuju dunia yang terang dan jelas, yaitu addinul Islam. Semoga kita selalu mencintainya dan bershalawat kepadanya sehingga kita diakui sebagai umatnya yang mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti, amin.

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Selaku khatib kami mengajak kepada hadirin sekalian dan diri kami pribadi, marilah kita selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah dengan terus berusaha menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sehingga kita selalu dalam keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Amin.

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Pada khutbah kali ini khatib ingin menyampaikan judul hikmah Isra Miraj. Isra Miraj adalah peristiwa luar biasa dan tidak masuk akal di zamannya, yaitu Allah SWT memanggil dan memperjalankan serta memberikan keistimewaan kepada Nabi Muhammad SAW untuk melakukan perjalanan dari Masjidilharam Makkah menuju Masjidilaqsha Palestina. Kemudian dari Masjidilaqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT. Sebagaimana Allah jelaskan dalam Surat Al-Isra ayat pertama:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Artinya: "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid Al-Haram menuju ke Masjid Al-Aqsa yang telah diberkahi sekelilingnya, agar kami perlihatklan kepada nya dari tanda-tanda kebesaran kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Isra: 1)

Sejarah telah menjelaskan, Nabi Muhammad diIsraMirajkan adalah karena kesediahan yang dialaminya. Kesediah itu disebabkan karena meninggalnya istri tercinta, Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Keduanya adalah pendukung kuat dalam berdakwah, karenanya Nabi sedih.

Ada banyak peristiwa yang dialami oleh Nabi dalam perjalan Mirajnya, yang kesemuanya itu merupakan tamsil-tamsil kehidupan supaya dapat dipahami dan dijadikan pelajaran dan pijakan dalam mengarungi kehidupan agar mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan. Di antara tamsil-tamsil itu di antaranya ialah:

Nabi Muhammad SAW melihat orang memotong padi (panen) terus menerus. Nabi bertanya kepada Jibril "siapakah mereka itu?" Jibril menjawab: "Mereka itu ibarat orang yang gemar beramal jariyah, yang kemudian mereka memetik pahalanya dari Allah SWT".

Nabi juga melihat orang yang terus menerus memukul kepalanya. Nabi Muhammad bertanya, "siapakah mereka itu ya Jibril?" Dijawab, "mereka itu ibarat orang yang enggan melaksanakan shalat, yang kelak akan menyesal dengan memukuli kepalanya sendiri terus menerus sekalipun terasa sakit olehnya."

Juga melihat sebuah kuburan yang sangat harum baunya. Nabi bertanya, "apakah itu Ya Jibril?" Dijawab: "Itu kuburan Mashitah dan anaknya. Dia mati disiksa oleh Raja Fir'aun karena mempertahankan imannya kepada Allah SWT sewaktu dipaksa supaya menyembah berhala." Dari sejarah Isra Miraj dan peristiwa yang melatar belakangi serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya ada beberapa hikmah yang dapat dijadikan pelajaran serta penguatan keimanan umat Islam, di antaranya adalah:

Pertama, menghilangkan kesedihan Nabi,
Setiap manusia dikaruniai perasaan dan cinta oleh Allah, sehingga jika suatu saat terjadi goncangan, maka manusia bisa menjadi sedih dan boleh jadi berlarut-larut kesedihannya. Sebelum Nabi Muhammad diIsraMirajkan oleh Allah, Nabi mengalami kesedihan yang luar biasa atas meninggalnya istri tercinta dan paman yang sangat sayang kepadanya. Keduanya menjadi penopang yang kuat dalam berdakwah.

Kesedihan yang dialami Nabi Muhammad mendapat hiburan dari Allah dengan memanggilnya melalui Isra Miraj yang bertemu langsung dengan Allah. Allah berfirman:

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرةٌۙ. اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ .

''Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, (karena) memandang Tuhannya.'' (QS Al-Qiyamah: 22-23)

Kedua, pentingnya ibadah shalat,
Allah memberikan perintah langsung kepada Nabi Muhammad untuk menerima tugas shalat 5 waktu. Jadi shalat merupakan hal penting dalam peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ، فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنِ، وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنِ.

"Salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, berarti ia telah menegakkan agama. Dan, barang siapa meninggalkannya, berarti ia telah merobohkan agama." (HR Al-Baihaqi)

Ketiga, ujian keimanan bagi umat Islam,
Pada zaman Nabi Muhammad SAW kendaraan yang bagus kecepatannya adalah kuda dan belum ada kendaraan yang bisa membawa penumpang dalam waktu yang cepat dan singkat ke udara, apalagi menembus langit. Karenanya peristiwa Isra Miraj adalah sesuatu yang dianggap masyarakat adalah sesuatu yang ganjil dan mustahil. Sebab itu Nabi dianggap pembohong atau pun orang gila.

Dalam memahami Islam ternyata tidak semua harus masuk akal atau logik. Ini merupakan satu ujian yang cukup besar di zaman itu. Hanya bisa diterima dengan hati, dengan keyakinan atau keimanan. Jadi Isra Miraj merupakan ujian keimanan seorang Muslim. Apakah yakin atau tidak dengan apa yang dialami oleh Nabi?. Allah berfirman:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ

''Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, "kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji?.'' (QS Al-Ankabut: 2)

Keempat, terhindarnya sikap keluh kesah,
Bahwa pada dasarnya manusia memiliki sifat keluh kesah dalam hidupnya, terutama ketika mendapati musibah atau kondisi kekurangan. Karenanya manusia sering menujukkan keresahan, kegelisahan, serta memperlihatkan sifat kikirnya. Terlihat jelas sikap itu ketika kondisi kekurangan atau musibah dialami.

Momen Isra Miraj ini bisa dijadikan sebagai pengingat dan penyemangat agar kita berusaha memperbaiki ibadah shalat serta mengaktualisasikan kedermawanan kita kepada sesama. Allah berfirman:

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا، إِلَّا الْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ، وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ، لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ، وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

''Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan.'' (QS al-Ma'arij, 70: 19-26)

Kelima, menstimulan berkembangnya ilmu pengetahuan Perjalanan Isra Miraj Nabi di zamannya merupakan sesuatu yang tidak mudah diterima akal. Di sisi lain umat Islam diharuskan percaya terhadap peristiwa Isra Miraj.

Ketika umat Islam sudah yakin dan percaya terhadap peristiwa Isra Miraj, maka manusia tergerak hati dan pikirannya untuk membuktikan secara nyata, secara riil. Kisah nabi tentang langit membangkitkan orang orang tertentu melakukan penelitian guna menemukan kebenaran riil dari apa yang diceritakan nabi.

Dari sini bahwa Isra Miraj merupakan peristiwa yang dapat menstimulan ilmuan-ilmuan untuk mengkaji dan membuktikan kebenaran cerita nabi. Al-Qur'an pun sudah mendorong manusia untuk mengkaji lebih jauh dengan ungkapan, afala ya'qilun, afala ya'lamun, afala yadzkurun, dan lain sebagainya.

Allah berfirman:

خَلَقَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍۗ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ

''Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan kamu; dan mengembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.'' (QS Lukman: 10)

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah Demikian khutbah yang singkat ini, semoga bisa lebih memahami tentang Isra Miraj sehingga bisa menjadi hamba Allah yang terbaik yang pantas mendapatkan ridla-Nya.

Semoga Allah memudahkan dan memberi kekuatan serta semangat kepada kita untuk bisa memaksilkan ibadah Rajab dan nilai-nilainya, sehingga kita pantas mendapatkan posisi yang tinggi di mata Allah dan mendapatkan ampunan dan Rahmat-Nya di dunia dan akhirat, amin.

Teks Pidato Isra Miraj #2

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil 'alamin, Segala puji bagi Allah SWT yang telah memperjalankan hamba-Nya, Nabi Muhammad SAW, dalam sebuah peristiwa agung yang melampaui logika manusia: Isra Miraj. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Rasulullah, teladan abadi hingga akhir zaman.

Hadirin yang dimuliakan Allah, Hari ini, di bulan Januari 2026, kita kembali memperingati perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hingga naik ke Sidratul Muntaha. Namun, pernahkah kita merenung; mengapa di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa saat ini, hati manusia justru sering merasa hampa dan gelisah?

Jawabannya ada pada hikmah terbesar Isra Miraj: Perintah Shalat.

Jika Isra Miraj adalah perjalanan fisik dan spiritual Nabi menuju Allah, maka shalat adalah "Miraj"-nya orang beriman.

Shalat adalah jeda. Di dunia tahun 2026 yang bergerak begitu cepat, shalat adalah waktu di mana kita berhenti sejenak dari urusan dunia untuk mengadu kepada Pencipta semesta.

Shalat adalah pembersih hati. Sebagaimana hati Rasulullah dibersihkan dengan air zam-zam sebelum berangkat, shalat lima waktu adalah sarana kita membersihkan debu-debu dosa dan penyakit hati yang menumpuk setiap hari.

Hadirin yang berbahagia, Isra Miraj mengajarkan kita bahwa setinggi apa pun pencapaian manusia (seperti Nabi yang mencapai langit ketujuh), derajat tertinggi kita tetaplah sebagai 'Abdun atau hamba Allah. Jangan sampai kesibukan kita mengejar dunia membuat kita lupa "menjemput" perintah yang dibawa langsung oleh Nabi dari sisi Allah ini.

Mari jadikan peringatan tahun ini bukan sekadar seremonial. Mari perbaiki kualitas rukuk dan sujud kita. Jadikan shalat sebagai kebutuhan, bukan beban; sebagai tempat istirahat, bukan sekadar penggugur kewajiban.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita istiqamah dan menjadikan kita hamba-hamba yang mendirikan shalat dengan penuh cinta.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Teks Pidato Isra Miraj #3

(sumber: buku Anti Panik Berbicara di Depan Umum oleh Asti Musman)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kaum muslimin dan muslimat yang kami muliakan,
Mengawali pertemuan kita pada hari ini, marilah kita mengucapkan alhamdulillah sebagai salah satu cara kita bersyukur atas berbagai macam nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita. Salah satu nikmat-Nya yaitu pada kesempatan hari ini kita bisa berkumpul, bersilaturahmi dan bertatap muka di lapangan Masjid yang dihadiri sekian banyak kaum muslimin dan muslimat untuk ikut serta memperingati hari besar Islam, yakni Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW.

Selanjutnya, sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, karena beliaulah sebagai pembawa rahmat kepada umatnya yang setia mengikutinya. Mudah-mudahan kita tergolong umat Nabi Muhammad SAW yang benar-benar mencontoh dalam aktivitasnya. Aamiin.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Dalam bulan Rajab, ada peristiwa yang terpenting yang tidak boleh terlupakan, yaitu Isra dan Miraj. Isra berarti perjalanan di malam hari yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Dalam kesempatan kali ini, saya tidak akan menyampaikan kisah perjalanan itu secara kronologis, tetapi saya akan melihat dari segi hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa itu.

Kaum muslimin muslimat yang saya hormati,
Berkaitan dengan peristiwa Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW, Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya dalam Alquran surah al-Isra ayat 1 yang artinya:

"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (nabi Muhammad SAW) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang kami berkati di sekitarnya, supaya Kami perlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami padanya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Dengan peristiwa tersebut bagi kaum mukmin tentunya tidak ada keraguan lagi, karena sudah dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya di atas. Adapun yang dinamakan Miraj adalah naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsha menuju luar angkasa, dan akhirnya sampai yang paling tinggi, yaitu dinamakan Sidratul Muntaha. Dan tempat yang paling tinggi itu tidak mungkin bisa dijangkau oleh manusia, walau dengan menggunakan alat yang canggih, kecuali Nabi Muhammad SAW yang dapat sampai di sana, karena kekuasaan dan kehendak Allah semata. Dari tempat inilah Nabi Muhammad SAW secara langsung menerima perintah shalat sehari lima waktu, yang harus dikerjakan oleh segenap kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia.

Hadirin yang kami hormati,
Apa yang menjadi pupuk dan siraman bagi iman? Tidak lain ialah ibadah kepada Allah, baik ibadah yang wajib maupun ibadah sunah. Di antara berbagai ibadah yang sangat mendasar dan pokok bahkan merupakan tiang penyangga agama Islam ialah ibadah shalat lima waktu. Ibadah inilah yang menjadi buah tangan ketika Rasulullah SAW mengadakan perjalanan Isra dan Miraj.

Hadirin,
Selain merupakan sebuah mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui peristiwa Isra Miraj, shalat juga mempunyai banyak dampak positif pada manusia.

Dilihat dari segi hasil dan mutu pekerjaan, waktu shalat adalah bersamaan waktunya dengan manusia beristirahat. Kalaupun dhuhur pada waktu manusia bekerja, istirahat barang sepuluh menit sesudah jam tujuh pagi mulai bekerja, tidak akan merugikan, justru menambah semangat bekerja. Seolah gadget yang kehabisan baterai, dicas kembali sehingga bisa berfungsi dengan baik.

Dilihat dari segi konsentrasi manusia berpikir, karena konsentrasi itu dibutuhkan dalam berbagai hal, shalat pun melatih manusia untuk berkonsentrasi. Paling tidak diwajibkan lima kali dalam sehari semalam, di samping shalat sunah.

Dilihat dari segi kebersihan dan kesehatan, shalat mengandung hal itu. Karena sebelum shalat kita dianjurkan bersuci. Demikian pun dengan gerakan shalat memiliki nilai yang lebih tinggi dari sekadar olahraga.

Hadirin sekalian,
Tak terasa, ternyata sudah tiba saatnya di penghujung materi pidato saya kali ini. Demikian pidato yang bisa saya sampaikan, yakni mengenai peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.

Kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Apabila terdapat kesalahan dan kurang tepat, saya mohon maaf. Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Teks Pidato Isra Miraj #4

(sumber: khutbah Jumat berjudul Makna Memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW oleh HB Noor di laman Suara Muhammadiyah)

Sidang Jum'at rahimakumullah, kaum muslimin yang berbahagia
Marilah dalam suasana yang berbahagia ini, pertama-tama kita menghubungkan jiwa dan raga kita dengan Allah sang pencipta langit dan bumi serta seluruh isinya, yang sebentar lagi kita semua akan rukuk dan sujud menyembah-Nya dengan melakukan shalat. Kita perlu tetap mensyukuri bahwa betapa besar nikmat dari karunia yang Allah berikan kepada kita, yang tiada putus-putusnya dilimpahkan kepada kita selama kita hidup dan sesudah kita mati, insyaAllah.

Sidang Jum'at yang berbahagia
Umat Islam dalam kehidupan sehari-hari dalam waktu setahun banyak memperingati hari-hari besar Islam. Peringatan tahun baru hijriyah, peringatan Maulid Nabi SAW, peringatan Nuzulul Qur'an dan sekarang kita berada dalam bulan Rajab, memperingati pula hari besar Islam yaitu Isra Miraj. Yang semuanya itu merupakan kegiatan rutin yang setiap saat diselenggarakan.

Yang perlu kita renungkan apakah makna dari peringatan-peringatan yang kita laksanakan tersebut. Apakah ada pengaruhnya terhadap kehidupan kemanusiaan?

Sidang Jum'at rahimakumullah
Dalil mengenai Isra yang dilakukan oleh junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW dalam al-Qur'an terdapat dalam Surat Al-Isra ayat 1 yang berbunyi:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.

Sedang mengenai Miraj diungkapkan dalam Surat an-Najm ayat 1 sampai 18:

﴿ وَالنَّجْمِ اِذَا هَوٰىۙ مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوٰىۚ وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰىۙ ذُوْ مِرَّةٍۗ فَاسْتَوٰىۙ وَهُوَ بِالْاُفُقِ الْاَعْلٰىۗ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْ اَدْنٰىۚ فَاَوْحٰىٓ اِلٰى عَبْدِهٖ مَآ اَوْحٰىۗ مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَاٰى اَفَتُمٰرُوْنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى ﴾

1 Demi bintang ketika terbenam, 2. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru,3. dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut keinginannya. 4. Tidak lain (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),5. yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, 6. yang mempunyai keteguhan; maka (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli (rupa yang bagus dan perkasa) 7. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. 8. Kemudian dia mendekat (pada Muhammad), lalu bertambah dekat, 9. sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi). 10. Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah.

11. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. 12. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya itu? 13. Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, 14. (yaitu) di Sidratul Muntaha, 15. di dekatnya ada surga tempat tinggal, 16. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, 17. penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. 18. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.

Jadi tentang Miraj diungkapkan dalam al-Qur'an sehubungan dengan panggilan Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menerima wahyu di dalam surat an-Najm.

Ayat surat 1-11 Surat an-Najm menggambarkan peristiwa turunnya wahyu yang pertama kali ketika Nabi Muhammad di Gua Hira, sedangkan ayat 15-18 menerangkan suasana ketika Nabi Muhammad SAW Miraj berada di Sidratul Muntaha.

Sidratul Muntaha adalah batas antara alam atas dengan alam bawah. Bumi, bulan, matahari dan semua bintang-bintang dan planet-planet adalah alam bawah. Sedangkan alam di luar alam bintang dan planet dinamakan alam atas. Sidratul Muntaha, Baitul Makmur, Luhul Mahfuzh, Surga dan Arsy Tuhan terletak di alam atas.

Peristiwa Isra Miraj juga dijelaskan lagi dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim yang artinya, "... kemudian kami dibawa naik ke langit..."

Sidang Jum'at rahimakumullah
Isra artinya adalah perjalanan Rasulullah SAW pada malam hari dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Miraj artinya naiknya Rasulullah SAW ke langit sampai ke Sidratul Muntaha.

Ini makna yang tekstual yang terdapat dalam al-Qur'an dan hadits Rasulullah SAW tersebut.

Secara kontekstual Isra Miraj memiliki makna simbolis yang cukup luas pengertiannya, dimana tidak hanya sekadar melakukan perjalanan dan naik dari tempat ke tempat yang lain secara harfiah. Tetapi lebih dari itu di mana seluruh perilaku Nabi Muhammad SAW merupakan pedoman hidup manusia yang sempurna.

Inti dari Isra Miraj yang dilakukan oleh junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW adalah diterimanya perintah shalat lima waktu dalam sehari semalam langsung dari Allah SwT.

Kalau Rasulullah SAW di-Mirajkan langsung menghadap Allah, maka bagi umat Islam yang beriman dengan menegakkan shalat merupakan Mirajnya orang beriman, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang berbunyi,

الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ

"Shalat itu Mirajnya orang-orang yang beriman" (Ar-Razi)

Shalat adalah Miraj, yakni tangga. Dengan menggunakan tangga tersebut umat Islam dapat meningkat, bertambah kuat tenaga imannya dan bertambah tinggi rohaninya.

Dengan mendirikan shalat, maka umat Islam bertambah kebutuhannya yang menjadi penyempurna shalat. Sebelum shalat wajib, wudhu, bersih dari segala najis. Perintah ini mendorong umat Islam untuk selalu hidup besih, hidup sehat dengan meningkatkan kebersihan dan kesucian dirinya. Demikian pula tempat, pakaian dan waktu shalat.

Dengan mendirikan shalat itu, hendaknya kita meningkatkan kepada derajat para salihin, karena shalat dapat menghilangkan sifat-sifat jelek, seperti kejam, bengis dan menimbulkan sifat-sifat yang baik serta halus. Dengan melaksanakan shalat hilang sifat bakhil, malas, sombong, ujub, riya' dan takabur. Kemudian akan timbul sifat-sifat pemurah, pengasih, rajin, dan lain-lain.

Apabila semua itu telah menjadi kenyataan dan kegiatan hidup kita umat Islam sehari-hari, maka ini merupakan tanda bahwa kita telah meningkat dari mengerjakan shalat kepada tingkat "muqiimas shalaati" atau golongan yang mendirikan shalat.

Kaum muslimin yang berbahagia
Demikian khutbah shingkat yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat bagi umat Islam sekalian.

Teks Pidato Isra Miraj #5

(sumber: buku Kumpulan Kultum Terlengkap Sepanjang Tahun oleh Dr Hasan el-Qudsy)

Muslimin yang berbahagia....
Shalat, sebagaimana kita ketahui merupakan ibadah yang sangat agung kedudukannya. shalat merupakan kewajiban yang sifatnya ta'abbudi. Artinya, bentuk penghambaan mutlak kepada Allah, yang tidak harus diketahui kenapa kita diwajibkan? Kita semua harus tunduk terhadap apa yang telah menjadi ketetapan-Nya. Kewajiban shalat diperintahkan langsung oleh Allah, melalui peristiwa Isra dan Mikraj, bagi setiap orang yang mengaku muslim, baligh, dan berakal sehat. Kewajiban itu harus dilaksanakan oleh setiap muslim dalam kondisi apa pun dan kapan pun.

Ibadah shalat merupakan salah satu bentuk manifestasi tertinggi peng-Esaan seorang hamba kepada Rabb-nya. Dengan shalat, seorang hamba melakukan komunikasi langsung dengan Rabb-nya. Dia memuja, tunduk, dan mengakui ketuhanan dan keesaan Allah secara mutlak di hadapan-Nya. Shalat merupakan ritual penyembahan seorang hamba kepada Allah. Oleh karenanya, tata cara pelaksanaannya langsung diajarkan oleh Allah melalui Jibril kepada Rasulullah Allah mengajarkan kepada hamba-Nya, bagaimana cara menyembah-Nya dengan benar. Seluruh tata cara shalat telah ditentukan oleh Allah Dengan demikian, siapa pun tidak berhak untuk menambah atau mengurangi.

Sebab itu, shalat disebut sebagai ibadah mahdhah, yakni ibadah yang murni ditujukan kepada Allah, hanya untuk Allah. "Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan." (al-Fatihah: 5). Tidak ada makhluk yang berhak mendapatkan pemujaan dan penyembahan dengan cara seperti shalat. Sebagaimana Allah jelaskan, yang artinya: "Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (al-An'âm: 162-163).

Jamaah yang dimuliakan Allah...

Pelaksanaan ibadah shalat, selain dimaksudkan untuk. mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar (al-'Ankabût: 45), juga menjadi sumber kebahagiaan bagi seorang mukmin. Apabila shalat dilakukan dengan benar dan penuh kekhusyukan, akan melahirkan rasa nyaman dan kebahagiaan bagi yang melaksanakannya. Sebagaimana Allah janjikan dalam kalam-Nya yang artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya." (al-Mu'minûn: 1-2).

Dalam ayat tersebut, secara tegas Allah menjanjikan akan memberikan kebahagiaan bagi orang yang menjalankan ibadah shalat dengan penuh kekhusyukan, penghayatan, pemahaman, dan ketundukan diri kepada Allah. Sehingga, shalatnya mampu memberikan ketenangan jiwa dan kepuasan spiritual. Kebahagiaan ini tidak hanya didapatkan di dunia saja, tetapi juga besok di akhirat. Allah berkalam yang artinya, "Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (al-Mu'minûn: 9-11).

Jamaah yang dirahmati Allah ...

Selain itu semua, shalat merupakan penentu keselamatan manusia di hadapan Allah. Ketika Allah mengadakan perhitungan amal dari setiap hamba-Nya untuk diberikan balasan yang setimpal, di antara amalan yang akan dihisab pertama kali oleh Allah adalah shalat. Jika ibadah shalat seseorang baik diterima oleh Allah, maka selamatlah ia. Namun jika tidak, maka pertanda bencana akan segera menghampirinya. Sebagaimana Rasulullah jelaskari, yang artinya: "Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari Kiamat dari amal perbuatannya adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk, maka dia kecewa dan merugi." (HR. an-Nasa'i).

Menyadari tentang hal itu, para salafush shalih sangat hati-hati dalam mendirikan shalat. Mereka selalu berusaha untuk bisa khusyuk dan mendirikannya dengan sepenuh hati. Karena shalat akan menjadi barometer keislaman dan keselamatan seseorang di dunia dan akhirat. Imam Ahmad berkata, "Sesungguhnya tingkat keislaman mereka bisa diukur dari sejauh mana mereka dapat menikmati shalat. Kecintaan mereka terhadap Islam, diukur dari kecintaan mereka terhadap shalat. Oleh karenanya, kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Jangan sampai engkau bertemu Allah, sementara dalam jiwamu Islam tidak mendapatkan tempat. Sesungguhnya barometer Islam dalam hatimu, diukur dengan kadar shalat dalam hatimu." (Khalid Abu Syadi: 20).

Teks Pidato Isra Miraj #6

(sumber: buku Pintar Pidato: Kiat Menjadi Orator Hebat tulisan Drs Arif Yosodipuro, MM)

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَبِهِ أَجْمَعِينَ. (أَمَّا بَعْدُ)

Yang kami hormati, Wali kelas X IPA 1, Ibu Hanifah Zubair
Yang terhormat, Ketua Kelas X IPA 1, rekan-rekan, hadirin yang dimuliakan Allah.

Pertama, marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala karena atas qodho'-Nya kita bisa hadir di majelis ini dalam acara peringatan peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.

Sholawat dan salam semoga Allah SWT limpahkan kepada Rasulullah, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi akhir zaman yang telah membimbing dan mengajarkan kepada kita suatu ajaran yang haq, yakni dinul Islam.

Ibu wali kelas dan saudara-saudara yang dirahmati Allah, pada majelis yang penuh rahmat ini ijinkan saya menyampaikan pidato dengan judul: WAHYU YANG DITERIMA NABI MUHAMMAD SAW DALAM ISRA MIRAJ.

Hadirin yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala,
Isra dan Miraj merupakan serangkaian peristiwa spiritual yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW dan menjadi satu dari mukjizat beliau. Secara etimologi atau arti kata, Isra berarti "berjalan" atau "perjalanan". Sedangkan Miraj artinya "naik".

Kemudian secara istilah Isra Miraj diartikan sebagai perjalanan Rasulullah Muhammad SAW dari Masjidil Haram (di Mekah) ke Mesjidil Aqso (di Baitul Maqdis, Palestina) pada malam hari kemudian naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima wahyu shalat lima waktu.

Sebagaimana firman Allah dalam surah Al Isra ayat 1 yang berbunyi:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ، لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَا الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ)

Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. AL ISRA 17:1]

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad sampai langit ketujuh dan bertemu Allah di Sidratul Muntaha. Di sana, beliau menerima wahyu shalat sebanyak 50 waktu dalam sehari. Perintah itu pun Nabi sanggupi.

Saat kembali, Nabi Muhammad bertemu Nabi Musa. Nabi Musa pun mengingatkan agar Nabi SAW meminta keringanan kepada Allah. Karena nanti umat Nabi Muhammad akan keberatan menjalankan shalat fardu sebanyak itu.

Nabi Muhammad SAW setuju dengan pendapat Nabi Musa. Lalu, beliau kembali menghadap Allah dan meminta keringanan. Setelah mendapatkan keringanan, beliau bertemu Nabi Musa dan disarankan untuk meminta keringanan lagi, karena jumlahnya dianggap masih memberatkan.

Beliau pun kembali menghadap Allah dan meminta keringanan lagi. Permintaan itu beliau lakukan beberapa kali. Setiap kali beliau meminta keringanan, Allah mengurangi lima waktu.

Akhirnya, setelah sampai pada bilangan terakhir, yakni lima waktu, Nabi malu untuk kembali menghadap kepada Allah minta keringanan. Beliau khawatir jika hal itu dilakukan, niscaya Allah akan mengurangi lima waktu tersebut.

Hadirin as'adakumullah, ketika Nabi bercerita ihwal peristiwa tersebut kepada penduduk Quraisy Makkah, tidak hanya kafir Quraisy yang tidak mempercayainya, orang-orang yang sebelumnya telah memeluk Islam pun banyak yang tidak percaya dengan peristiwa tersebut.

Alasan mereka tidak mempercayai hal tersebut karena jarak tempuh dari Mekkah ke Baitul Maqdis yang seharusnya ditempuh dengan waktu sebulan pada masa itu hanya ditempuh nabi selama satu malam. Mereka tetap tidak percaya walaupun Nabi mampu menyebutkan ciri-ciri Baitul Maqdis.

Peristiwa Isra dan Miraj adalah sebuah peristiwa yang futuristik. Pada saat itu memang dirasa aneh karena kendaraan satu-satunya adalah unta atau kuda. Dan, tidak mungkin perjalanan sejauh itu bisa ditempuh dengan waktu yang cepat jika hanya menggunakan unta atau kuda.

Hanya Abu Bakar yang tidak ragu sedikit pun dengan kejadian yang dialami Nabi. Dialah orang pertama yang meyakini dan membenarkan peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.

Hadirin as'adakumullah,
Kita sebagai umat beliau Rasulullah Muhammad SAW berkewajiban untuk meyakini peristiwa tersebut. Tentu kadang ada yang seolah tidak masuk di akal. Peristiwa Isra Miraj bukannya tidak masuk di akal, tetapi akal kitalah yang belum bisa menjangkaunya.

Dan setelah meyakini, tugas kita selanjutnya adalah menjalankan hasil dari peristiwa tersebut, yakni shalat lima waktu. Karena shalat lima waktu merupakan satu dari ibadah fardhu yang harus kita kerjakan.

Demikian apa yang bisa saya sampaikan. Kurang lebihnya mohon maaf. Wassalaamu alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.

Teks Pidato Isra Miraj #7

(sumber: buku Kumpulan Ceramah Singkat oleh Dr Abu Hafizhah Irfan, MSI)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ الْحَمْدَ لِهِ 60 نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. وَبَعْدُ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang (dapat) menyesatkannya. Dan siapa yang (Allah) sesatkan, maka tidak ada yang (dapat) memberikan petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak untuk disembah) selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Setelah itu;

Ma'asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah
Di antara peristiwa besar yang pernah dialami oleh Rasulullah adalah Isra Miraj. Yaitu beliu pernah diperjalankan dari Makkah menuju Baitul Maqdis, lalu beliau diangkat ke langit. Hal ini sebagaimana firman Allah 36;

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. "57

Para jama'ah rahimani wa rahimakumullah
Terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang kapan waktu terjadinya Isra Miraj tersebut, di antaranya:

Az-Zuhri dan Urwah berpendapat bahwa Isra hijrah ke Miraj terjadi setahun sebelum Nabi Madinah, yaitu pada bulan Rabi'ul Awwal. Sedangkan pendapat As-Suddi waktunya adalah enam belas bulan sebelum Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu bulan Dzulqa'dah. Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalanímenyebutkan dalam kitabnya Fathul Bari, bahwa perselisihan tentang waktu terjadinya Isra Miraj hingga mencapai lebih dari sepuluh-pendapat.

Di antara kejadian ketika Isra Miraj adalah (1) Rasulullah ditawarkan khamer dan susu, dan belau memilih susu. (2) Beliau melihat siksaan bagi orang-orang yang memakan harta anak yatim, yang memiliki bibir seperti bibir unta dan memakan api Neraka dengan bibir tersebut lalu keluar api tersebut keluar dari bibirnya.

(3) Beliau melihat siksaan bagi para pemakan riba, yang memiliki perut besar hingga tidak mampu bergerak. (4) Beliau juga melihat para pezina, yang mereka dihadapkan dengan daging yang segar dan daging yang busuk, dan mereka memilih daging yang busuk.

Dan keesokan harinya harinya orang-orang musyrik datang menemui Abu Bakar untuk menanyakan tentang kejadian Isra Miraj tersebut. Mereka mengatakan;

يَا أَبَا بَكْرٍ هَلْ لَكَ فِي صَاحِبِكَ؟ يُخْبِرُ أَنَّهُ أَتَى فِي لَيْلَتِهِ هَذِهِ مَسِيْرَةِ شَهْرٍ وَرَجَعَ فِي لَيْلَتِهِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنْ كَانَ قَالَهُ فَقَدْ صَدَقَ وَإِنَّا لَنَصْدِقُهُ فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ هَذَا لَنَصْدِقُهُ عَلَى خَبَرِ السَّمَاءِ.

"Wahai Abu Bakar apa pendapatmu tentang sahabatmu (Muhammad). Ia menceritakan bahwa ia telah mendatangi tempat yang jauh selama perjalan satu bulan. Lalu ia kembali pada satu malam. Maka Abu Bakar menjawab, "Jika ia yang mengatakannya, maka sungguh ia telah benar. Dan sungguh kami benar benar percaya kepadanya labih jauh dari perkara tersebut. Sesungguhnya kami percaya kepadanya akan berita langit (yang dibawanya)."

Para jama'ah rahimani wa rahimakumullah ...
Sebagai seorang muslim kita harus membenarkan kejadian Isra Miraj Nabi. Dan ini merupakan salah satu 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Ja'fa Ath-Thahawi:

وَالمِعْرَاجُ حَقٌّ، وَقَدْ أُسْرِيَ بِالنَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. وَعُرِجَ بِشَخْصِهِ فِي التَّقْظَةِ إِلَى السَّمَاءِ.

"(Peristiwa) Miraj adalah benar, Nabi telah diperjalankan (oleh Allah) dan juga telah diangkat jasadnya ke langit dalam keadaan terjaga (tidak tidur)."59

Demikian yang dapat kami sampaikan.

وَ صَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ . سَلَّمَ، وَ آخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِينَ.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan para sahabatnya. Dan penutup doa kami, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Teks Pidato Isra Miraj #8

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam yang penuh keberkahan. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, uswatun hasanah kita, yang melalui peristiwanya kita belajar tentang kekuasaan Allah yang melampaui batas logika manusia. Mari kita jadikan momen peringatan Isra Miraj ini sebagai sarana untuk mempertebal iman dan mempertautkan kembali hati kita kepada Sang Pencipta.

Peristiwa Isra Miraj bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan mukjizat nyata yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1:

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." Ayat ini menegaskan bahwa perjalanan dari Mekkah ke Palestina hingga naik ke Sidratul Muntaha adalah bukti kekuasaan mutlak Allah atas ruang dan waktu.

Hadirin yang dimuliakan Allah, Isra Miraj terjadi pada periode yang disebut sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan, di mana Rasulullah baru saja kehilangan istri tercinta Khadijah RA dan paman pelindungnya Abu Thalib. Peristiwa ini adalah bentuk "hiburan" langit bagi Nabi. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa di balik setiap kesulitan yang menghimpit hidup, Allah selalu menyiapkan kemuliaan dan jalan keluar yang tidak terduga, asalkan kita tetap teguh dalam kesabaran dan ketaatan.

Puncak dari perjalanan ini adalah diterimanya perintah salat lima waktu secara langsung tanpa perantara malaikat Jibril. Salat adalah "Miraj"-nya orang mukmin, sarana bagi kita untuk berkomunikasi langsung dengan Allah. Jika Nabi Muhammad harus menembus tujuh lapis langit untuk bertemu Allah, maka kita cukup bersujud dengan khusyuk untuk menghadirkan kehadiran-Nya dalam hati kita. Salat bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan ruhani untuk menenangkan jiwa di tengah hiruk-pikuk dunia.

Selain dimensi spiritual, Isra Miraj juga mengandung pesan kepemimpinan dan persatuan. Saat di Masjidil Aqsha, Rasulullah mengimami para nabi terdahulu dalam salat. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah penyempurna risalah-risalah sebelumnya dan Muhammad SAW adalah pemimpin seluruh umat manusia. Hal ini seharusnya menginspirasi kita untuk senantiasa mengedepankan persatuan, toleransi, dan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat, mengikuti jejak kepemimpinan Nabi.

Di zaman modern yang serba rasional ini, Isra Miraj menantang kita untuk mengedepankan tasdiq atau pembenaran hati. Sebagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq yang langsung mempercayai cerita Nabi tanpa ragu, kita pun diajak untuk mengimani bahwa janji Allah itu nyata. Keimanan yang kokoh akan melahirkan ketenangan dalam menghadapi ketidakpastian zaman, karena kita tahu bahwa ada kekuatan besar yang mengatur segala lini kehidupan kita.

Sebagai penutup, marilah kita jadikan peringatan ini sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas salat kita. Mari kita bawa semangat Isra Miraj ke dalam kehidupan sehari-hari; menjadi pribadi yang lebih disiplin, lebih peduli pada sesama, dan selalu rindu pada keberkahan Allah. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang kelak mendapatkan syafaat dari Baginda Nabi Muhammad SAW di hari akhir. Amin ya Rabbal Alamin.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Teks Pidato Isra Miraj #9

(sumber: detikHikmah)

Hadirin rahimakumullah,
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat hadir dalam keadaan sehat wal'afiat. Sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah SAW, yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang Islamiyyah.

Hadirin rahimakumullah,
Kata "Isra" dalam bahasa Arab berarti berjalan malam. Menurut istilah, Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad pada suatu malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid Al-Aqsa atau Baitul Maqdis di Palestina. Miraj berarti naik ke atas. Menurut istilah, Miraj adalah naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Aqsa menuju Arasy untuk menghadap Allah SWT.

Allah SWT menceritakan kisah ini dalam surat Al Isra, ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Artinya: "Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya) agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Hadirin rahimakumullah,
Setelah mengalami kedukaan karena dua orang yang amat dicintai dan dihormati telah meninggal dunia, Allah SWT ingin menghibur dan memuliakan Nabi Muhammad SAW. Allah telah mengutus Malaikat Jibril untuk menjemput Nabi Muhammad SAW untuk menghadap-Nya.

Peristiwa ini terjadi setelah sebelas tahun Muhammad menjadi Nabi. Setelah berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW, Malaikat Jibril membaringkan Nabi Muhammad SAW, kemudian membelah dadanya, membersihkan sifat-sifat buruk, dan menggantinya dengan sifat baik ke dalam dadanya. Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril menaiki Buraq, yaitu kendaraan yang sangat cepat. Perjalanan mereka pertama menuju Masjidil Aqsa di Palestina.

Selama di perjalanan, mereka singgah di lima tempat, yaitu:
Kota Yatsrib, sekarang disebut Madinah Al-Munawwaroh.
Kota Madyan, yaitu tempat persembunyian Nabi Musa dari Fir'aun.
Thur Sina, yaitu tempat Nabi Musa menerima Kitab Taurat.
Bethlehem, yaitu tempat kelahiran Nabi Isa AS.
Masjidil Aqsa di Palestina, yaitu tempat yang dituju dalam perjalanan malam tersebut. Palestina merupakan tempat suci ketiga setelah Makkah dan Madinah.
Pada tiap persinggahan, Nabi Muhammad SAW selalu melakukan sholat dua rakaat. Sesampainya di Masjidil Aqsa, Nabi disuguhi dua buah gelas yang masing-masing berisi susu dan arak. Nabi Muhammad SAW mengambil gelas yang berisi susu, kemudian Malaikat Jibril mengucapkan selamat padanya karena beliau telah memilih yang baik bagi dirinya dan umatnya.

Setelah menjadi imam, Rasulullah diangkat ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT bersama Malaikat Jibril. Dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril singgah di tujuh lapis langit, yaitu:

  • Langit pertama bertemu dengan Nabi Adam AS.
  • Langit kedua bertemu Nabi Yahya dan Nabi Ishaq AS.
  • Langit ketiga bertemu Nabi Yusuf AS.
  • Langit keempat bertemu dengan Nabi Idris AS.
  • Langit kelima bertemu dengan Nabi Harun AS.
  • Langit keenam bertemu dengan Nabi Musa AS.
  • Langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim AS.

Hadirin rahimakumullah,
Setelah melewati tujuh lapis langit, Nabi Muhammad diajak ke Baitul Makmur, yaitu tempat Malaikat melaksanakan Thawaf. Kemudian naik ke Sidratul Muntaha, dan dalam perjalanan ini Malaikat Jibril tidak ikut serta.

Kemudian Rasulullah bertemu dengan Allah SWT, dalam pertemuan tersebut Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk melaksanakan sholat sebanyak lima puluh waktu.

Ketika hendak turun, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa AS, dan beliau bercerita tentang perintah sholat yang diterimanya dari Allah SWT. Mendengar cerita tersebut, Nabi Musa menyuruh Nabi Muhammad SAW untuk menghadap Allah kembali guna meminta keringanan. Nabi Muhammad berulang kali menghadap Allah untuk memberikan keringanan perintah sholat, dan akhirnya Allah memberikan keringanan kepada Nabi Muhammad, menjadi 5 waktu setiap harinya. Allah memberikan pahala yang sama bagi umat Nabi Muhammad seperti melaksanakan sholat sebanyak 50 waktu. Setelah itu, Nabi dikembalikan ke Makkah.

Pagi harinya, Nabi berniat menceritakan hal tersebut kepada kaum Quraisy. Nabi Muhammad bertemu dengan Abu Jahal dan meminta Abu Jahal mengumpulkan kaum Quraisy. Kesempatan itu tidak disia-siakan untuk meyakinkan kaum kafir Quraisy tentang kebohongan Nabi Muhammad SAW. Abu Jahal menyeru kaum Quraisy untuk berkumpul.

Setelah kaum Quraisy berkumpul, Nabi Muhammad menceritakan segala kejadian yang dialaminya dalam Isra Miraj. Ceramah Nabi Muhammad tersebut disambut dengan ejekan dan cemoohan. Abu Jahal menghasut kaum Quraisy untuk tidak mengikuti ajaran Nabi Muhammad yang penuh dengan kebohongan. Kemudian menemui Abu Bakar dan menceritakan apa yang mereka dengar dari Nabi Muhammad.

Mereka bertanya kepada Abu Bakar, "Apakah Abu Bakar mempercayainya?" Dengan tegas, Abu Bakar menyatakan "bahwa dia meyakini apa yang telah diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW." Kemudian Nabi Muhammad SAW memberikan gelar Assidiq kepada Abu Bakar hingga menjadi Abu Bakar Assidiq.

Hadirin rahimakumullah,
Nabi Muhammad SAW dalam menerima wahyu mengalami peristiwa yang tidak pernah dirahasiakannya. Peristiwa Isra dan Miraj Nabi Muhammad dalam waktu yang singkat telah tersiar ke seluruh kota Makkah. Ejekan dan cemoohan sering diterima Nabi Muhammad mengenai peristiwa yang dialaminya.

Sebagai contoh, waktu Nabi Muhammad duduk di Masjidil Haram dan bertemu dengan Abu Jahal, Abu Jahal duduk di samping Nabi Muhammad SAW dan berkata dengan nada mengejek, "Apa kabar pagi ini, Muhammad? Adakah sesuatu yang engkau anggap penting yang engkau terima dari Tuhanmu?" Nabi Muhammad menjawab, "Ya, tadi malam aku telah diIsrakan." Abu Jahal bertanya, "Kemana?" Nabi menjawab, "Ke Baitul Maqdis." Kata Abu Jahal, "Kemudian pagi ini engkau telah ada di sini?" Nabi Muhammad menjawab, "Ya."

Mendengar jawaban itu, Abu Jahal tertawa dan mengejek Nabi dan berkata, "Beranikah engkau menceritakan perkataanmu itu kepada penduduk Makkah? Saya akan mengumpulkan mereka di sini, lalu sampaikan perkataanmu kepada mereka!" Nabi menjawab, "Baiklah, saya akan menerangkan peristiwa ini kepada mereka."

Setelah penduduk Makkah berkumpul di Masjidil Haram, Nabi menceritakan peristiwa Isra Miraj dari awal sampai akhir, tidak ada sedikitpun yang terlewat. Kejadian ini menjadikan mereka yang sudah masuk Islam berbalik menjadi murtad. Tetapi bagi umat Islam yang kuat imannya, tidak tergoyahkan dan tidak terpengaruh oleh ejekan itu karena mereka telah yakin akan kebenaran Nabi Muhammad.

Lain halnya dengan Abu Bakar, ia mempunyai sikap yang berbeda dengan yang lain. Setelah didatangi oleh orang-orang yang merasa sangsi dengan peristiwa Isra dan Miraj, ia mendatangi Nabi Muhammad SAW dan meminta penjelasannya. Peristiwa yang diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW langsung diterimanya, oleh sebab itu Nabi Muhammad memanggilnya dengan sebutan As Siddiq.

Hadirin rahimakumullah,
Adapun tamsil dalam Isra, yaitu:
Nabi Muhammad SAW melihat orang memotong padi (panen) terus menerus, beliau bertanya kepada Jibril, "Siapakah mereka itu?" Jibril menjawab, "Mereka itu ibarat mu yang gemar beramal jariah, yang kemudian mereka memetik pahalanya dari Allah SWT."

Melihat orang yang terus menerus memukul kepalanya, Nabi Muhammad bertanya, "Siapakah mereka itu, Ya Jibril?" Dijawabnya, "Mereka itu ibarat mu yang enggan bersholawat, yang kelak akan menyesal dengan memukuli kepalanya sendiri terus menerus sekalipun terasa sakit olehnya."

Melihat sebuah kuburan yang sangat harum baunya, Nabi bertanya, "Apakah itu, Ya Jibril?" Dijawabnya, "Itu kuburan Siti Mashitah dan anaknya. Ia mati disiksa dengan digodok oleh Raja Fir'aun karena mempertahankan imannya kepada Allah Swt sewaktu dipaksa untuk menyembah berhala."

Melihat orang yang di hadapannya ada dua hidangan, sebelah kanannya makanan lezat dan sebelah kirinya makanan busuk, orang itu dengan lahapnya memakan makanan busuk. Nabi bertanya, "Ya Jibril, siapakah mereka itu?" Jibril menjawab, "Ya Rasulullah, itu ibarat umatmu yang suka membiarkan nafsunya memilih pekerjaan yang buruk dan dosa daripada beramal yang baik dan berpahala."

Nabi Muhammad SAW melihat orang-orang yang gagah perkasa. Orang itu menengok dan melihat ke kirinya merasa sedih dan menangis tersedu-sedu, tetapi bila menengok dan melihat ke kanannya, dia berseri-seri gembira dan tersenyum. Nabi bertanya, "Siapakah orang itu, Ya Jibril?" Jawab Jibril, "Dia itu bapakmu yang pertama, yaitu Nabi Adam AS. Bila beliau melihat ke kiri, sedih karena melihat anak cucunya berbuat jahat dan dosa. Sebaliknya, bila mereka menengok ke kanan, merasa gembira karena melihat anak cucunya di dunia yang berbuat baik dan beramal shaleh."

Hadirin rahimakumullah,
Hikmah Isra Miraj, yaitu

  • Menghilangkan perasaan sedih dalam diri Nabi Muhammad SAW yang disebabkan oleh meninggalnya pembelanya yang utama, yaitu pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah. Allah SWT ingin meyakinkan utusan-Nya itu bahwa kebenaran dan keyakinan yang dibawanya tidak akan dapat dikalahkan oleh apa pun dan siapa pun.
  • Allah hendak memperlihatkan kemahakuasaan-Nya kepada Nabi Muhammad SAW agar ia tetap yakin bahwa Allah akan tetap menolongnya dalam menghadapi musuh yang menghalangi penyiaran agama Islam.
  • Allah mempertemukan dan memperkenalkan Nabi Muhammad SAW dengan para Nabi dan Rasul terdahulu, agar dapat menambah semangat dan keyakinannya.
  • Allah memperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW bekas kejayaan bangsa-bangsa terdahulu yang hancur luluh karena kedurhakaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
  • Menguji para pengikut Nabi, apakah mereka akan tetap beriman kepada agama yang selama ini dianutnya, sekalipun akal dan pikiran mereka belum dapat mengerti dan memahami kejadian tersebut.
  • Nabi Muhammad SAW dapat bertemu dengan hadirat Allah SWT.
  • Allah menyampaikan perintah melakukan sholat kepada Nabi dan umatnya.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Itulah 9 teks pidato Isra Miraj yang dapat detikers jadikan referensi. Semoga bermanfaat!




(par/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads