- Contoh Ceramah Isra Miraj Singkat Contoh Ceramah Isra Miraj Tentang Perjalanan Spiritual Rasulullah SAW Contoh Ceramah Tentang Hikmah Isra Miraj Contoh Ceramah Takwa Kepada Allah SWT di Bulan Rajab Contoh Ceramah Tentang Waktu Berlangsungnya Isra Miraj Contoh Ceramah Tentang Pentingnya Masjid Al-Aqsa Contoh Ceramah Tentang Belajar dari Isra Miraj Contoh Ceramah Tentang Pertolongan Allah SWT untuk Rasulullah SAW Contoh Ceramah Tentang Keimanan Seorang Abu Bakar Ash-Shiddiq Contoh Ceramah Tentang Perintah Sholat Contoh Ceramah Tentang Orang Musyrik Mendengar Peristiwa Isra Miraj
Momen Isra Miraj tanggal 27 Rajab selalu diperingati masyarakat Indonesia dengan pengajian maupun kultum tiap tahun. Pada kesempatan itu, para dai membawakan ceramah Isra Miraj yang dilihat dari berbagai sudut pandang.
Ada ustadz yang memilih membawakan kisah perjalanan ajaib Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Masjidil Aqsa dan dilanjut ke Sidratul Muntaha. Yang lain menghadirkan hikmah Isra Miraj dan penekanan kewajiban sholat 5 waktu.
Apa pun tema yang dibawakan, sudah semestinya ceramah Isra Miraj bertujuan mengirim pesan kepada jemaah. Dengan demikian, selepas Isra Miraj, kadar keimanan mereka yang mendengarkan ceramah meningkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agar pesan yang disampaikan mengena, di bawah ini beberapa contoh ceramah Isra Miraj singkat, tetapi penuh pesan. Ceramah-ceramah di bawah ini di antaranya dikutip dari laman NU Online, Muhammadiyah, detikHikmah, dan buku Kumpulan Ceramah Singkat oleh Dr Abu Hafizhah Irfan MSI.
Contoh Ceramah Isra Miraj Singkat
Contoh Ceramah Isra Miraj Tentang Perjalanan Spiritual Rasulullah SAW
Peristiwa Isra Miraj adalah peristiwa yang sulit dicerna oleh akal manusia tapi sebagai seorang muslim kita wajib percaya dan meyakininya. Pada masa itu pun, usai peristiwa Isra Miraj Rasulullah SAW menceritakannya pada kaum muslimin dan masyarakat di Makkah, akan tetapi tentu saja kaum kafir Quraish tidak ada yang mempercayainya dan bahkan Abu Lahab menjadikannya sebagai bahan olok-olokan.
Banyak di antara kaum muslimin pun yang mendengar cerita nabi pada waktu itu seolah ragu, tapi Abu Bakar Shiddiq tampil terdepan mengakui kebenaran dan meyakini bahwa peristiwa Isra Miraj yang telah terjadi pada Nabi SAW adalah benar adanya. Abu Bakar-lah yang pertama kali membenarkan adanya peristiwa itu hingga ia pun diberi gelar As-Siddiq.
Peristiwa Isra Miraj adalah ujian keimanan bagi kaum muslimin pada waktu itu karena bagaimana bisa seorang manusia pulang pergi dari Makkah ke Palestina dan dinaikkan ke Sidratul Muntaha hanya dalam satu malam, tapi jika iman yang berkata, tentu tak ada yang mustahil bagi Allah SWT, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1.
Isra Miraj adalah suatu peristiwa besar yang tonggak sejarah dimulainya perintah sholat lima waktu. Isra artinya diperjalankan, sedangkan Miraj artinya dinaikkan.
Rasulullah SAW pada waktu itu diperjalankan oleh Allah SWT dari Mekah ke Palestina dan kemudian dinaikkan ke Sidratul Muntaha untuk diperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Pada peristiwa bersejarah itulah, untuk pertama kalinya perintah sholat lima waktu disyariatkan wajib dilaksanakan oleh kaum muslimin.
Oleh karenanya, melalui momentum peringatan Isra Miraj ini, marilah kita sama-sama meningkatkan kualitas ibadah sholat kita, sehingga sholat yang kita laksanakan lima waktu setiap hari dapat mempercantik perilaku kita, bahkan mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Ankabut ayat 45.
Contoh Ceramah Tentang Hikmah Isra Miraj
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ
Jamaah yang dirahmati Allah, pertama-tama marilah kita pahami bahwa Isra Miraj bukan sekadar perjalanan wisata angkasa yang menakjubkan secara fisik. Peristiwa ini terjadi pada masa Amul Huzni atau tahun kesedihan, di mana Rasulullah baru saja kehilangan istri tercinta Siti Khadijah dan paman pelindungnya Abu Thalib. Allah menjemput kekasih-Nya untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya sebagai bentuk "penghiburan" tertinggi. Hal ini mengajarkan kita bahwa di balik setiap kesulitan hidup yang menyesakkan dada, Allah selalu menyiapkan kemuliaan dan kedekatan bagi hamba-Nya yang bersabar.
Kedua, salah satu inti dari peristiwa ini adalah proses penyucian hati. Sebelum Rasulullah naik ke Sidratul Muntaha, dada beliau dibelah dan disucikan kembali dengan air zam-zam oleh Malaikat Jibril. Pesan moralnya bagi kita sangat jelas: untuk menghadap Sang Khalik, untuk "naik" menuju derajat takwa, seseorang harus memiliki hati yang bersih. Kita tidak akan bisa merasakan manisnya iman dan khusyuknya ibadah jika hati kita masih dipenuhi oleh kotoran penyakit hati seperti kesombongan, dendam, dan iri hati.
Ketiga, Isra Miraj adalah momentum diterimanya perintah shalat lima waktu. Berbeda dengan ibadah lain yang disampaikan melalui wahyu lewat Malaikat Jibril, perintah shalat ini diberikan langsung oleh Allah kepada Rasulullah. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan shalat dalam Islam. Shalat bukan sekadar kewajiban yang menggugurkan beban, melainkan sarana pertemuan spiritual antara hamba dan Penciptanya. Jika Rasulullah melakukan Miraj secara fisik, maka kita sebagai umatnya diberikan sarana Miraj secara ruhani melalui shalat.
Keempat, peristiwa ini menjadi ujian bagi nalar dan keimanan. Ketika Rasulullah menceritakan perjalanannya, kaum kafir Quraisy mencemoohnya karena dianggap tidak masuk akal. Namun, Sayyidina Abu Bakar langsung membenarkannya tanpa ragu sedikit pun. Di sinilah kita belajar tentang hakikat iman yang sesungguhnya. Iman adalah tentang membenarkan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, meskipun akal manusia yang terbatas belum mampu menjangkaunya. Logika kita harus tunduk di bawah bimbingan wahyu, bukan sebaliknya.
Kelima, mari kita jadikan peringatan Isra Miraj tahun ini sebagai momentum untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah). Sudahkah shalat yang kita lakukan berdampak pada perilaku kita sehari-hari? Sebagaimana firman Allah bahwa shalat yang benar akan mencegah perbuatan keji dan munkar. Jika shalat kita belum mengubah akhlak kita, mungkin shalat tersebut baru sebatas gerakan fisik, belum menjadi "Miraj" yang mengangkat jiwa kita dari kerendahan syahwat menuju kemuliaan akhlak.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Contoh Ceramah Takwa Kepada Allah SWT di Bulan Rajab
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam kepada Rasulullah menjadi dua hal yang penting untuk mengawali majelis ini. Hal penting selanjutnya adalah berwasiat takwa yang menjadi kewajiban bagi khatib untuk senantiasa sampaikan kepada jamaah karena memang menjadi rukun dalam khutbah Jumat. Apabila rukun dalam Jumat ditinggalkan, termasuk wasiat takwa, maka konsekuensinya adalah tidak sah ibadah shalat Jumat yang dilaksanakan.
Oleh karena itu mari kita tingkatkan dan kuatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT sebagai wujud penghambaan kita kepada-Nya yang menumbuhkan rasa takut pada diri kita untuk melanggar perintah-perintah-Nya. Kuatnya ketakwaan juga bisa diukur dari kemampuan kita menjalankan seluruh perintah Allah SWT. Takwa akan menjadikan kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung dan masuk ke dalam surga Allah SWT. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an Surat An-Naba 31:
اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ
Artinya: "Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (ada) kemenangan (surga)"
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah Di antara tanda-tanda orang yang bertakwa telah disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 3:
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ
Artinya: "(yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,"
Dari ayat ini kita bisa memahami bahwa orang yang bertakwa itu percaya kepada hal yang tak tampak mata dan juga tidak bisa dirasa dan direkam oleh indra serta tak bisa dinalar secara akal manusia. Hal ini disebut dengan istilah ghaib. Orang yang bertakwa juga dicirikan dengan konsistensinya dalam menjalankan shalat sebagai ibadah vertikal menyembah Allah SWT.
Dua hal ini, yakni percaya pada hal yang ghaib dan menjalankan shalat, menjadi dua hal relevan dengan keberadaan kita saat ini berada di bulan Rajab. Di bulan inilah sebuah peristiwa ghaib yang tak masuk akal dan hanya dipercayai oleh orang-orang yang beriman terjadi, yakni peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad saw. Peristiwa ini menjadi peristiwa ghaib yang harus diterima oleh keimanan terlebih dahulu sebelum akal kita.
Pengertian Isra ini sendiri adalah perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjid al-Haram di Kota Makkah ke Masjid al-Aqsa di Palestina yang berjarak lebih kurang 1.500 kilometer. Sedangkan Mi'raj adalah perjalanan beliau dari Masjid al-Aqsa ke Sidratul Muntaha yakni tempat di langit yang bersifat ghaib, tidak mungkin dijangkau oleh pancaindra manusia, bahkan tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran. Dua perjalanan ini ditempuh Nabi Muhammad hanya dalam satu malam.
Peristiwa agung ini telah diterangkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Isra ayat 1:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Artinya: "Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Dalam perjalanan spiritual ini, Nabi Muhammad mendapatkan 'oleh-oleh' yang sangat monumental dan menjadi hal yang paling sering disebut pada bulan Rajab yakni perintah shalat lima waktu. Maka kurang lengkap rasanya jika peringatan Isra Mi'raj yang sering dilakukan masyarakat di Indonesia tidak mengangkat dan membahas tentang shalat. Baik pembahasan tentang shalat dari perspektif fiqih, tasawuf, kesehatan, maupun dari perspektif lain yang mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Pembahasan tentang shalat ini penting untuk diingatkan kembali kepada umat Islam pada bulan Rajab ini sebagai upaya untuk menguatkan kembali kesadaran bahwa shalat adalah sebuah kebutuhan bagi umat Islam. Bukan hanya sekedar kewajiban saja. Mengapa kita butuh? Karena shalat menjadi satu media penting untuk mendekatkan diri dan menyembah Allah SWT. Dengan shalat kita telah menunjukkan komitmen untuk menjalankan misi utama diciptakannya manusia ke dunia yakni untuk beribadah. Hal ini sudah disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Ad-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Dalam pelaksanaan shalat sendiri, penting untuk diingat oleh kita semua untuk senantiasa mengedepankan kualitas shalat. Bukan hanya kuantitas shalat saja. Kewajiban shalat yang difokuskan kepada kuantitas atau jumlah saja akan menjadikan diri terbebani dalam menjalankannya. Jika kewajiban shalat kita kerjakan dengan mengedepankan kualitas, maka shalat yang dilakukan akan benar-benar bisa dinikmati dan akan berdampak pada perilaku serta kualitas kehidupan kita.
Rasulullah pernah mengingatkan dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
يأَتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُصَلّوْنَ وَلاَ يُصَلُّوْنَ
Artinya: "Akan datang suatu masa menimpa manusia, banyak yang melakukan shalat, padahal sebenarnya mereka tidak shalat".
Hadits ini mengingatkan kepada kita untuk senantiasa menjalankan perintah ini dengan sempurna mulai dari aspek fiqihnya sampai dengan aspek hakikat dari shalat itu sendiri. Dari sisi fiqih kita harus mengetahui syarat dan rukun shalat dan beberapa hal lain terkait seperti cara berwudhu, waktu-waktu shalat dan sejenisnya. Terminologi shalat ini sendiri adalah:
أَقْوَالٌ وَأَفْعَالٌ مَخْصُوْصَةٌ مُفْتَتِحَةٌ بِالتَّكْبِيْرِ مُخْتَتِمَةٌ بِالتَّسْلِيْمِ بِشَرَائِطَ مَخْصُوْصَةٍ
Artinya: "Ibadah yang terdiri dari beberapa ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan syarat dan rukun tertentu".
Sementara dari sisi hakikat, shalat memiliki dimensi ibadah rohani yang di dalamnya berisi doa-doa untuk mendatangkan ketenangan dan ketentraman jiwa. Allah berfirman:
وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: "Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.S. At-Taubah 103).
Selain berbuah ketenangan jiwa, shalat juga akan membuahkan ketentraman bagi orang lain. Kenapa? Karena orang yang melakukan shalat dengan benar akan membuahkan komitmen untuk tidak berbuat hal yang keji dan mungkar. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Ankabut ayat 45:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Artinya: "Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Mari di bulan Rajab ini kita jadikan peristiwa Isra Mi'raj sebagai media untuk lebih menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada hal-hal yang ghaib serta menjadikan shalat sebagai ibadah yang benar-benar bisa membuahkan hasil nyata yang berdampak pada kehidupan diri dan masyarakat sekitar. Upaya ini dilakukan dengan menjaga kuantitas dan kualitas shalat yang kita lakukan. Semoga Allah mengabulkan harapan-harapan kita. Amin
Contoh Ceramah Tentang Waktu Berlangsungnya Isra Miraj
Jamaah yang dirahmati Allah, setiap tahun kita memperingati Isra Miraj setiap tanggal 27 Rajab. Namun, jika kita menelaah kitab-kitab sejarah klasik, kita akan menemukan fakta menarik bahwa para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai kapan pastinya peristiwa agung ini terjadi. Ada yang berpendapat terjadi pada bulan Rabiul Awal, ada yang menyebut bulan Ramadhan, bahkan ada yang meyakini bulan Syawal. Ketidakpastian tanggal ini terjadi karena pada masa awal Islam, fokus utama para sahabat bukan pada pencatatan penanggalan secara administratif, melainkan pada penjagaan syariat yang dibawa oleh Rasulullah.
Pendapat yang paling populer di tengah masyarakat kita adalah 27 Rajab, yang didukung oleh beberapa ulama sejarah. Namun, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada bulan Rabiul Akhir, sementara ulama lain seperti Al-Waqidi menyebutkan bulan Ramadhan. Perbedaan ini sebenarnya memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa dalam Islam, kemuliaan sebuah peristiwa tidak selalu digantungkan pada angka dan tanggal kalender, melainkan pada esensi dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Lebih jauh lagi, perbedaan pendapat ini menunjukkan luasnya cakrawala pemikiran para ulama kita. Mereka tidak pernah berselisih hanya karena perbedaan hitungan tanggal, karena mereka memahami bahwa nilai dari Isra Miraj bukan terletak pada "kapan" ia terjadi secara kronologis, melainkan pada "apa" mukjizat yang terjadi dan perintah apa yang diterima oleh Rasulullah. Hal ini mengajarkan kita untuk lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan dan lebih fokus pada hal-hal yang bersifat prinsip dalam beragama.
Lantas, apa hikmah di balik "dirahasiakannya" tanggal pasti Isra Miraj tersebut? Hikmahnya adalah agar umat Islam senantiasa menghidupkan semangat shalat dan kesucian hati setiap hari, bukan hanya setahun sekali pada malam perayaan saja. Jika tanggalnya dibuat sangat kaku, dikhawatirkan umat akan mengistimewakan satu malam saja dan melalaikan ibadah di malam-malam lainnya. Allah membiarkan sejarah mencatat perbedaan ini agar kita terus menggali hikmahnya sepanjang waktu.
Sebagai penutup, hikmah terbesar yang harus kita bawa pulang adalah transformasi diri melalui shalat. Shalat adalah oleh-oleh utama Isra Miraj yang menjadi tali penghubung antara hamba dengan Penciptanya. Terlepas dari perbedaan tanggal pelaksanaannya, yang paling utama adalah evaluasi diri: apakah shalat kita sudah mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar? Mari kita jadikan momentum ini untuk memperbaiki kualitas sujud kita, agar setiap shalat yang kita dirikan mampu menjadi "Miraj" ruhani yang mengangkat derajat kita di sisi Allah SWT.
Contoh Ceramah Tentang Pentingnya Masjid Al-Aqsa
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Shalawat dan salam marilah kita limpahkan kepada Nabi kita yakni Nabi Muhammad Saw.
Pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, khatib akan menyampaikan khutbah tentang peristiwa Isra' Mi'raj dan pentingnya Masjid Al-Aqsa, simbol kemuliaan yang telah Allah tetapkan bagi umat Islam.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Peristiwa Isra' Mi'raj seharusnya menjadi pengingat akan hubungan spiritual umat Islam dengan Masjid Al-Aqsa. Rasulullah SAW dipindahkan oleh Allah SWT dari Masjidilharam ke Masjid Al-Aqsa dalam satu malam. Ada lima alasan utama mengapa Masjid Al-Aqsa memiliki nilai yang sangat penting bagi kita umat Islam.
Pertama, Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam. Sebelum umat Islam diperintahkan untuk menghadap Ka'bah, mereka menghadap Masjid Al-Aqsa dalam salat mereka. Hal ini diabadikan dalam QS. Al Baqarah ayat 144, Allah berfirman:
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan."
Ayat di atas menunjukkan bahwa sejak awal, Palestina telah menjadi bagian dari tata ibadah dan sejarah Islam yang begitu istimewa.
Kedua, Masjid Al-Aqsa adalah tempat terjadinya Isra' Nabi Muhammad SAW, salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam. Dalam perjalanan agung ini, Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidilharam ke Masjid Al-Aqsa, sebelum kemudian diangkat menuju Sidratul Muntaha di langit tertinggi. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang penuh hikmah.
Ketiga, Masjid Al-Aqsa menjadi tempat di mana Rasulullah SAW memimpin salat berjamaah dengan para nabi. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
فَحانَتِ الصَّلاةُ فأمَمْتُهُمْ
"Kemudian tibalah waktu salat, maka akun pun mengimami mereka (para Nabi)." (HR. Muslim).
Peristiwa ini menunjukkan persatuan umat dan kesinambungan risalah yang dibawa oleh para nabi dari zaman ke zaman. Dalam momen penuh keagungan ini, Masjid Al-Aqsa menjadi saksi atas kesatuan pesan ilahi yang disampaikan sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi. Kejadian ini menegaskan bahwa Islam adalah kelanjutan dari ajaran tauhid yang telah dibawa oleh para nabi sebelumnya.
Hal ini juga menjadi simbol bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya sebagai imam dalam salat tersebut, tetapi juga sebagai pemimpin risalah terakhir yang menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Keempat, tanah di sekitar Masjid Al-Aqsa adalah tempat yang diberkahi. Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dan Nabi Luth ke tanah ini dari ancaman kaumnya, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Anbiya ayat 71.
وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ
"Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam."
Ayat di atas menunjukkan bahwa bahwa Masjid Al-Aqsa adalah tempat pembebasan dari kezaliman dan tegaknya kebenaran.
Kelima, Masjid Al-Aqsa memiliki keberkahan yang meliputi seluruh wilayahnya. Dengan luas kompleks sebesar 144.000 meter persegi, setiap sudut tanah Masjid Al-Aqsa adalah tanah suci yang dilimpahi keberkahan Allah SWT.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menegaskan keberkahan Masjid Al-Aqsa, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Isra ayat 1:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."
Jamaah yang dimuliakan Allah
Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga Masjid Al-Aqsa, baik secara fisik maupun spiritual. Perbanyaklah doa untuk saudara-saudara kita di Palestina yang sedang berjuang mempertahankan Masjid Al-Aqsa dari segala bentuk ancaman. Tingkatkan kesadaran kita terhadap pentingnya tempat suci ini dalam Islam, karena Masjid Al-Aqsa bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga bagian dari akidah kita.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga keimanan kita, melindungi Masjid Al-Aqsa, dan mengokohkan ukhuwah Islamiah di antara kita semua. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Contoh Ceramah Tentang Belajar dari Isra Miraj
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamdulillah, pada hari ini kita bisa bersama sama hadir dalam majlis yang mulia ini untuk memperingati suatu peristiwa yang sangat bersejarah, yaitu Isra dan Mi'raj Nabi Besar Muhammad SAW. Tema yang akan saya sampaikan dalam acara peringatan Isra dan Mi'raj ini adalah: Isra dan Mi'raj dalam perspektif keimanan dan ilmu pengetahuan.
Kisah Isra dan Mi'raj merupakan kisah yang sangat inspiratif sepanjang masa, sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW sampai saat ini. Selain inspiratif, kisah Isra dan Mi'raj juga merupakan "tantangan" bagi para Ahli Tafsir maupun Ilmuwan, utamanya dalam usaha untuk mengerti dan menyingkap fakta fakta ilmiah dibalik fenomena Isra dan Mi'raj itu.
Peristiwa Isra terekam di dalam Kitab Suci AI-Qur'an, yaitu pada surat Al-Isra ayat 1:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Artinya: "Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."
Sedangkan peristiwa Miraj terekam dalam surah An-Najm ayat 13-18:
وَلَقَدْ رَآهُ نزلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18
Artinya: "Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat fibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat fibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."
Hadirin yang berbahagia,
Peristiwa Isra dan Mi'raj yang berlangsung pada diri junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW 15 abad yang lalu, telah memperkuat keimanan Rasulullah SAW maupun kita semua umat Islam, akan ke-Maha-Kuasaan Allah SWT.
Apapun yang dikehendaki-Nya, bukanlah sesuatu yang mustahil untuk terjadi; karena memang ilmu Allah sangat luas dibanding kekuatan nalar manusia untuk memahaminya. Bandingan ilmu Allah dengan ilmu yang telah dikuasai oleh peradaban manusia sampai saat ini, hanya seperti perbandingan samudera dengan setetes air di ujung jari.
Namun demikian, peristiwa Isra dan Mi'raj memberikan tantangan sekaligus inspirasi kepada para ilmuwan, untuk melakukan "penalaran/pemahaman" tentang peristiwa itu. Khazanah ilmu pengetahuan telah terakumulasi begitu banyak, tidak ada salahnya para ilmuwan menambah dan memperkuat keimanannya dengan mencoba menalar secara saintifik semua fenomena-fenomena alam ciptaan Allah SWT ini, termasuk fenomena-fenomena yang ada di balik Peristiwa Isra-Miraj ini.
Akhir kata mohon maaf jika ada kesalahan dan tutur kata yang salah dan tidak menjadi perkenan hadirin.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Contoh Ceramah Tentang Pertolongan Allah SWT untuk Rasulullah SAW
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Isra Miraj sering kita pahami sebagai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik menembus lapisan langit. Namun ada satu sudut pandang yang jarang kita sadari: Isra Miraj adalah peristiwa "kenaikan kualitas diri", bukan sekadar perpindahan tempat. Rasulullah tidak hanya bergerak secara fisik, tetapi sedang dipersiapkan menjadi manusia dengan ketahanan jiwa yang luar biasa, setelah melalui masa-masa paling berat dalam hidupnya.
Sebelum Isra Miraj terjadi, Nabi mengalami tahun kesedihan. Istri tercinta Khadijah wafat, pamannya Abu Thalib meninggal, dakwah ditolak, bahkan dihina dan disakiti di Thaif. Dalam logika manusia, ini adalah titik terendah. Tetapi justru dari titik terendah itulah Allah mengangkat Rasulullah ke titik tertinggi. Di sinilah kita belajar bahwa Allah sering menaikkan derajat seseorang bukan setelah ia sukses, tetapi setelah ia sabar.
Isra Miraj juga mengajarkan bahwa ketika bumi terasa sempit, langit selalu terbuka. Rasulullah tidak diselamatkan dengan cara duniawi, melainkan dengan cara ilahi. Allah seakan ingin menyampaikan pesan: jika manusia sudah tidak mampu memberi solusi, maka pertolongan langit akan turun. Namun pertolongan itu hanya datang kepada hati yang tetap jujur, ikhlas, dan tidak berhenti berharap.
Hal paling penting dari Isra Miraj bukanlah kisah menembus langit, tetapi hadiah yang dibawa pulang: shalat. Ini menunjukkan bahwa shalat adalah "Mi'raj-nya orang beriman". Jika Nabi naik ke langit untuk bertemu Allah, maka umatnya bertemu Allah lima kali sehari melalui shalat. Artinya, shalat bukan kewajiban biasa, melainkan fasilitas spiritual yang luar biasa.
Sayangnya, banyak di antara kita yang menganggap shalat hanya sebagai rutinitas, bukan sebagai perjumpaan. Kita berdiri, rukuk, dan sujud, tetapi hati kita tertinggal di urusan dunia. Padahal shalat seharusnya menjadi momen naiknya kualitas iman, tempat kita menenangkan luka batin, dan ruang dialog paling jujur antara hamba dan Tuhannya.
Isra Miraj juga mengingatkan bahwa perubahan besar tidak selalu datang dengan gemuruh. Perintah shalat tidak disampaikan melalui wahyu biasa, tetapi melalui perjalanan sunyi di malam hari. Ini menandakan bahwa proses pendewasaan iman sering terjadi dalam kesendirian, dalam keheningan, dan dalam doa-doa yang tidak terdengar oleh manusia lain.
Maka, memperingati Isra Miraj bukan sekadar mengenang peristiwa agung, tetapi mengukur sejauh mana kita sudah "naik" sebagai manusia. Apakah shalat kita sudah membentuk akhlak, menenangkan jiwa, dan menuntun langkah? Jika belum, mungkin bukan Isra Miraj yang jauh dari kita, melainkan hati kitalah yang belum benar-benar berjalan menuju Allah.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Contoh Ceramah Tentang Keimanan Seorang Abu Bakar Ash-Shiddiq
Hadirin yang dirahmati Allah, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat-Nya, sehingga pada kesempatan yang mulia ini kita dapat berkumpul untuk memperingati peristiwa agung Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Ketika Rasulullah SAW menceritakan peristiwa Isra Miraj kepada kaum Quraisy, reaksi yang muncul justru ejekan dan cemoohan. Bagi mereka, perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis lalu naik ke langit dalam satu malam adalah sesuatu yang mustahil secara logika. Kaum Quraisy tidak melihat dengan mata iman, melainkan hanya dengan hitungan jarak dan waktu. Akal dijadikan hakim tunggal, sementara wahyu ditolak mentah-mentah.
Kaum Quraisy bahkan berkeliling menyebarkan cerita itu dengan tujuan menjatuhkan Nabi. Mereka yakin kisah Isra Miraj akan menjadi senjata paling ampuh untuk meruntuhkan kepercayaan umat Islam. Bagi mereka, kebenaran harus masuk dalam ukuran manusia, padahal tidak semua yang benar dapat ditangkap oleh nalar yang terbatas.
Namun di tengah gelombang keraguan itu, berdirilah satu sosok yang namanya harum hingga hari ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika kabar Isra Miraj disampaikan kepadanya, Abu Bakar tidak meminta bukti, tidak meminta penjelasan panjang, dan tidak mengajukan pertanyaan berlapis. Ia hanya berkata, "Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu pasti benar." Inilah iman yang lahir dari keyakinan, bukan dari perhitungan.
Abu Bakar memahami bahwa selama ini Rasulullah tidak pernah berdusta, maka mustahil beliau berbohong dalam perkara sebesar ini. Bahkan Abu Bakar menegaskan, jika Nabi mengatakan menerima wahyu dari langit setiap hari, itu pun ia percayai. Dari sinilah gelar Ash-Shiddiq disematkan kepadanya, karena ia membenarkan kebenaran tanpa ragu, tanpa syarat.
Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa iman bukanlah sekadar percaya ketika masuk akal, tetapi tetap teguh meski akal belum mampu menjangkaunya. Kaum Quraisy kalah karena kesombongan logika, sedangkan Abu Bakar menang karena kerendahan hati iman. Iman sejati bukan menolak akal, tetapi menempatkan akal di bawah cahaya wahyu.
Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita bertanya pada diri sendiri, di barisan manakah kita berdiri hari ini. Apakah kita seperti kaum Quraisy yang ragu ketika perintah Allah terasa berat, atau seperti Abu Bakar yang membenarkan meski belum memahami sepenuhnya. Semoga Allah menanamkan dalam hati kita iman yang jujur, kokoh, dan tunduk sepenuhnya kepada kebenaran-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.
Contoh Ceramah Tentang Perintah Sholat
Seandainya seorang muslim memahami secara hakiki peristiwa diterimanya wahyu salat, pastilah tak ada seorang pun dari umat Islam yang meremehkan dan melalaikan bahkan meninggalkan salat. Allah mengistimewakan dan meninggikan kedudukan syariat ini, karena itulah, Nabi SAW menerimanya dengan cara yang berbeda. Langsung berjumpa dengan-Nya tanpa perantara.
Wahyu ini tidak diterima di bumi sebagaimana syariat lainnya. Syariat ini pula satu-satunya syariat yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meminta keringanan dalam penunaiannya. Awalnya diwajibkan 50 waktu dalam sehari.
Mengapa Nabi SAW menerimanya dengan cara yang berbeda. Langsung berjumpa dengan Allah SWT tanpa perantara malaikat Jibril?
Bagi umat Islam yang mentadabburi perjalanan Isra Miraj, mereka sadar semua kejadiannya dan tahapan peristiwanya adalah sebuah pengantar untuk berjumpa suatu yang lebih dahsyat lagi, yaitu perjumpaan Rasulullah SAW dengan Rabbnya. Terjadilah dialog yang begitu agung hingga beliau menerima perintah kewajiban salat untuk diri beliau dan umatnya. Inilah puncak perjalanan Isra Mi'raj.
Allah Ta'ala, dengan kasih sayang-Nya menganugerahkan kepada hamba-hambaNya yang beriman sesuatu yang dapat menghubungkan mereka dengan Rabb mereka. Rasulullah SAW Mi'raj dengan ruh dan fisik beliau.
Dengan keadaan itulah beliau berdialog dengan Allah Ta'ala. Kemudian Allah SWT menyediakan bagi umat Islam sesuatu yang mampu membuat mereka bermunajat, dekat, tersambung, dan berdialog dengan Rabb mereka, yaitu ibadah salat. Inilah makna bahasa dari kata salat. Salat adalah alat penyambung yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabbnya.
Semoga setiap orang muslim merenungkan dan memahami secara hakiki peristiwa diterimanya wahyu salat, sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang meremehkan dan melalaikan salat. Aamiin.
Contoh Ceramah Tentang Orang Musyrik Mendengar Peristiwa Isra Miraj
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
إِنَّ الْحَمْدَ لِهِ 60 نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. وَبَعْدُ :
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang (dapat) menyesatkannya. Dan siapa yang (Allah) sesatkan, maka tidak ada yang (dapat) memberikan petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak untuk disembah) selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Setelah itu;
Ma'asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah
Di antara peristiwa besar yang pernah dialami oleh Rasulullah adalah Isra Miraj. Yaitu beliau pernah diperjalankan dari Makkah menuju Baitul Maqdis, lalu beliau diangkat ke langit. Hal ini sebagaimana firman Allah 36;
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. "57
Para jama'ah rahimani wa rahimakumullah
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang kapan waktu terjadinya Isra Miraj tersebut, di antaranya:
Az-Zuhri dan Urwah berpendapat bahwa Isra hijrah ke Miraj terjadi setahun sebelum Nabi Madinah, yaitu pada bulan Rabi'ul Awwal. Sedangkan pendapat As-Suddi waktunya adalah enam belas bulan sebelum Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu bulan Dzulqa'dah. Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalanímenyebutkan dalam kitabnya Fathul Bari, bahwa perselisihan tentang waktu terjadinya Isra Miraj hingga mencapai lebih dari sepuluh-pendapat.
Di antara kejadian ketika Isra Miraj adalah (1) Rasulullah ditawarkan khamer dan susu, dan belau memilih susu. (2) Beliau melihat siksaan bagi orang-orang yang memakan harta anak yatim, yang memiliki bibir seperti bibir unta dan memakan api Neraka dengan bibir tersebut lalu keluar api tersebut keluar dari bibirnya.
(3) Beliau melihat siksaan bagi para pemakan riba, yang memiliki perut besar hingga tidak mampu bergerak. (4) Beliau juga melihat para pezina, yang mereka dihadapkan dengan daging yang segar dan daging yang busuk, dan mereka memilih daging yang busuk.
Dan keesokan harinya harinya orang-orang musyrik datang menemui Abu Bakar untuk menanyakan tentang kejadian Isra Miraj tersebut. Mereka mengatakan;
يَا أَبَا بَكْرٍ هَلْ لَكَ فِي صَاحِبِكَ؟ يُخْبِرُ أَنَّهُ أَتَى فِي لَيْلَتِهِ هَذِهِ مَسِيْرَةِ شَهْرٍ وَرَجَعَ فِي لَيْلَتِهِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنْ كَانَ قَالَهُ فَقَدْ صَدَقَ وَإِنَّا لَنَصْدِقُهُ فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ هَذَا لَنَصْدِقُهُ عَلَى خَبَرِ السَّمَاءِ.
"Wahai Abu Bakar apa pendapatmu tentang sahabatmu (Muhammad). Ia menceritakan bahwa ia telah mendatangi tempat yang jauh selama perjalan satu bulan. Lalu ia kembali pada satu malam. Maka Abu Bakar menjawab, "Jika ia yang mengatakannya, maka sungguh ia telah benar. Dan sungguh kami benar benar percaya kepadanya labih jauh dari perkara tersebut. Sesungguhnya kami percaya kepadanya akan berita langit (yang dibawanya)."
Para jama'ah rahimani wa rahimakumullah ...
Sebagai seorang muslim kita harus membenarkan kejadian Isra Miraj Nabi. Dan ini merupakan salah satu 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Ja'fa Ath-Thahawi:
وَالمِعْرَاجُ حَقٌّ، وَقَدْ أُسْرِيَ بِالنَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. وَعُرِجَ بِشَخْصِهِ فِي التَّقْظَةِ إِلَى السَّمَاءِ.
"(Peristiwa) Miraj adalah benar, Nabi telah diperjalankan (oleh Allah) dan juga telah diangkat jasadnya ke langit dalam keadaan terjaga (tidak tidur)."59
Demikian yang dapat kami sampaikan.
وَ صَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ . سَلَّمَ، وَ آخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِينَ.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan para sahabatnya. Dan penutup doa kami, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
Nah, itulah 10 contoh ceramah Isra Miraj yang bisa detikers pakai sebagai referensi. Semoga bermanfaat!
(par/dil)
