Gunung Pengamun-amun Dulu dan Sekarang, Lokasi Desa yang Hilang dalam Semalam

Gunung Pengamun-amun Dulu dan Sekarang, Lokasi Desa yang Hilang dalam Semalam

Anindya Milagsita - detikJateng
Sabtu, 17 Jan 2026 10:28 WIB
Legetang adalah sebuah dusun yang bersama ratusan warganya hilang dalam semalam, 67 tahun silam. Ini kisah pilu tentang Dusun Legetang di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.
Gunung Pengamun-amun. (Foto: Uje Hartono)
Solo -

Lereng Dataran Tinggi Dieng tak hanya menawarkan keindahan pesona alamnya yang memukau, tapi ternyata juga menyimpan kisah tragis yang pernah terjadi di masa lalu. Salah satunya peristiwa tragis yang dialami Dusun Legetang yang hilang dalam semalam akibat longsoran Gunung Pengamun-amun. Lantas, bagaimana gambaran Gunung Pengamun-amun dulu dan sekarang?

Gunung Pengamun-amun letaknya ada di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Bicara soal Gunung Pengamun-amun, sering kali dikaitkan dengan Dusun Legetang yang kini telah hilang. Menurut laman resmi Literasi Sejarah Bencana yang dikelola Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dusun Legetang secara geografis terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah. Wilayah tersebut termasuk dalam area Dataran Tinggi Dieng.

Salah satu ciri khas yang ditunjukkan oleh wilayah tersebut adalah tanahnya yang subur. Sebab, di dalamnya terdapat material sedimen longsoran purba di masa lampau yang menjadikan tanahnya kaya akan sumber nutrisi. Namun, situasi tersebut ternyata juga diiringi dengan kerentanan secara geologis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian masyarakat yang mendengar Gunung Pengamun-amun mungkin saja langsung teringat dengan legenda Dusun Legetang. Nama Dusun Legetang begitu populer karena kisahnya di zaman dahulu yang hilang dalam waktu semalam karena diakibatkan oleh longsoran Gunung Pengamun-amun.

Oleh karenanya, tidak sedikit orang yang mungkin dibuat penasaran dengan kondisi Gunung Pengamun-amun saat ini, karena lokasi inilah yang menjadi 'saksi bisu' Dusun Legetang hilang. Untuk lebih jelasnya, berikut ulasan informasinya.

ADVERTISEMENT

Poin Utamanya:

  • Kondisi Gunung Pengamun-amun saat ini masih utuh dan hijau, berada di kawasan Kepakisan, Batur, Banjarnegara. Lokasinya dapat ditemukan di Google Maps dan terdapat tugu peringatan untuk mengenang tragedi longsor Dusun Legetang tahun 1955, meski belum menjadi destinasi wisata resmi.
  • Tragedi longsor besar Gunung Pengamun-amun dulu terjadi pada tanggal 17 April 1955 yang menelan korban sebanyak 351 orang akibat longsoran tanah yang meluluhlantakkan Dusun Legetang. Secara ilmiah, longsor memicu retakan tanah, hujan berkepanjangan, dan tekanan massa tanah yang menyebabkan lumpur 'meloncat' ke arah dusun.
  • Peristiwa ini juga diselimuti mitos turun-temurun, termasuk anggapan azab akibat kemaksiatan warga Dusun Legetang. Meski dipercaya sebagian masyarakat, mitos tersebut belum dapat dibuktikan dan penjelasan ilmiah tetap menjadi dasar utama terjadinya bencana.

Bagaimana Gambaran Gunung Pengamun-amun Sekarang?

Apabila mencari kata kunci Gunung Pengamun-amun di aplikasi Google Maps, maka kamu masih menemukan lokasinya. Apabila mengacu dari hasil pencarian, Gunung Pengamun-amun letaknya ada di Area Pegunungan, Kepakisan, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Dilihat sekilas, Gunung Pengamun-amun tampak seperti pegunungan dengan vegetasi yang masih terjaga baik. Mengenai tugu yang dimaksud, di dalam publikasi bertajuk 'Merawat Ingatan: Bencana Alam dan Kearifan Lokal di Pulau Jawa' oleh Djati Mardiatno, dkk., ada tugu peringatan yang dibangun di atas tanah yang dulunya adalah lokasi Dusun Legetang berada.

Tugu ini adalah peringatan atas tewasnya sebanyak 332 penduduk asli Dukuh Legetang dan 19 orang tamu dari desa lainnya yang kehilangan nyawa akibat longsoran Gunung Pengamun-amun. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 17 April 1955 silam. Tepatnya, lebih dari 70 tahun yang lalu.

Sebagai lokasi yang menyimpan sejarah peristiwa tragis yang terjadi di masa lalu, Gunung Pengamun-amun sesekali didatangi oleh masyarakat yang penasaran ingin melihat secara langsung lokasinya. Namun, wilayah ini belum termasuk sebagai destinasi wisata, sehingga mungkin belum banyak wisatawan yang mengetahui keberadaannya.

Kisah Gunung Pengamun-amun Dulu

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada Dusun Legetang dan Gunung Pengamun-amun dulu? Sebenarnya peristiwa longsor yang terjadi di area Gunung Pengamun-amun hingga meluluhlantakkan Desa Legetang tanpa adanya yang tersisa sudah terlihat dari jauh-jauh hari.

Masih mengacu dari laman BNPB, sekitar 70 hari sebelum kejadian longsor, sudah ada tanda-tanda yang menunjukkan bencana tersebut bakal terjadi. Pada saat itu, masyarakat yang kerap mencari rumput di area sekitar lereng gunung, melihat adanya retakan memanjang yang cukup dalam.

Namun, pada saat itu tidak terlalu dihiraukan. Hingga akhirnya kawasan tersebut mengalami hujan yang tidak kunjung usai. Akibatnya tanah yang ada di area sekitar lereng Gunung Pengamun-amun tidak bisa lagi menahan beban yang ada.

Kemudian massa tanah yang memiliki tinggi sekitar 200 meter runtuh dan menekan tanah bercampur air yang letaknya ada di bagian bawah, lalu memberikan dorongan yang membuat lumpur meloncat puluhan meter. Nah, kondisi inilah yang membuat longsoran justru berbelok tajam ke selatan yang naasnya merupakan lokasi dari Dusun Legetang berada.

Dikarenakan adanya loncatan tadi yang dapat menjelaskan secara ilmiah mitos soal 'gunung terbang' yang banyak dibicarakan pada saat itu. Penjelasan ilmiah ini sekaligus menjawab soal kebingungan sebagian orang tentang longsoran yang seolah-olah melompati jurang dan sungai yang ada di bawah Gunung Pengamun-amun.

Lebih lanjut, mengacu dari laman resmi Kalurahan Karangmojo, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, saat hari terjadinya longsoran, masyarakat di sekitar Desa Legetang sebenarnya sudah mendengar adanya suara bergemuruh. Setelah hujan berhari-hari melanda kawasan tersebut, di tengah malam tanggal 17 April 1955 hujan mereda.

Pada saat itulah, tiba-tiba ada suara keras seperti 'bom' atau benda teramat besar yang jatuh. Tak hanya terdengar di area sekitar lereng Gunung Pengamun-amun saja, tapi juga sampai ke telinga masyarakat yang tinggal di desa-desa sekitar.

Pagi harinya, masyarakat yang berada di desa-desa sekitar kawasan Gunung Pengamun-amun memutuskan memeriksa asal dari suara tersebut. Saat mendekat ke arah lereng, mereka dibuat kaget karena ada bagian gunung tersebut yang sudah terbelah dan ambrol.

Hal yang lebih membuat kaget adalah kondisi Dusun Legetang yang sudah hilang karena tertimbun longsoran tanah. Mengenai jumlah korban dari longsoran Gunung Pengamun-amun, tercatat ada 351 orang yang kehilangan nyawanya. Dari 351 orang, 332 orang adalah penduduk Dusun Legetang, sedangkan sisanya 19 orang adalah tamu yang secara kebetulan tengah berkunjung ke lokasi tersebut.

Mitos Gunung Pengamun-amun yang 'Menelan' Dusun Legetang

Peristiwa bencana alam yang terjadi di Gunung Pengamun-amun tidak terlepas dari berbagai kisah mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Tak hanya tempo dulu saja, tapi diceritakan secara turun-temurun hingga saat ini.

Termasuk mitos azab yang harus dirasakan oleh warga Dusun Legetang, sehingga membuat lokasi tersebut seolah-olah 'tertelan' oleh Gunung Pengamun-amun. Seperti halnya disampaikan dalam buku 'Menjadi Bijak dan Bijaksana 4' tulisan Ibnu Basyar, konon, masyarakat Dusun Legetang merasakan istidraj atau lupa diri kepada Sang Pencipta.

Disebut-sebut, sebelum Dusun Legetang hilang, dulunya warganya hidup penuh kemakmuran. Sebab, sebagai para petani, penduduk Dusun Legetang diberkahi oleh hasil panen yang melimpah. Bahkan kualitas buah-buahan dan sayur yang mereka hasilkan terbilang unggul dibandingkan daerah lainnya.

Kendati begitu, kondisi baik yang mereka alami justru membuat mereka lalai. Salah satunya disebut-sebut malah melakukan maksiat dan perbuatan buruk lainnya. Dikatakan sebagian masyarakat Dusun Legetang dulunya suka berjudi sampai minum minuman keras.

Tak hanya itu saja, pada malam-malam tertentu juga diadakan pentas Lengger yang para penarinya mayoritas perempuan. Namun, keberadaan penari-penari tersebut justru memancing adanya tindakan maksiat. Inilah yang membuat Sang Pencipta murka dan konon memberikan azab bagi mereka.

Mitos tentang azab Dusun Legetang juga disampaikan dalam publikasi 'Bawana Winasis Dieng: Budaya Tak Terkatakan' oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang menyebut banyak masyarakat dataran tinggi Dieng yang meyakini kisah tentang masyarakat Dusun Legetang yang konon kerap melakukan perbuatan maksiat.

Sebagian masyarakat mendengar cerita melalui 'gethak tular' atau dari mulut ke mulut tentang adanya praktik judi, prostitusi, atau homoseksual di wilayah tersebut. Bahkan, disebut-sebut tempat umum seperti langgar maupun mushola tidak terlepas dari praktik perjudian.

Azab bagi Dusun Legetang yang seolah 'tertelan' oleh Gunung Pengamun-amun juga dikaitkan dengan longsoran yang dinilai tidak cukup masuk akal. Sebab, jarak antara Gunung Pangamun-amun dan Dusun Legetang dulunya terpisah antara jurang sekaligus sungai dalam.

Namun, sisa longsoran tidak ditemukan pada jurang atau sungai tadi, melainkan langsung mengenai Dusun Legetang. Inilah yang membuat sebagian masyarakat meyakini bencana alam longsor sengaja 'melompati' sungai dan jurang, sehingga dapat langsung mengenai Dusun Legetang.

Terlepas dari mitos yang beredar di kalangan masyarakat, kebenarannya belum bisa dibuktikan secara langsung. Terlebih lagi cerita dari mulut ke mulut juga belum dapat dijadikan sebagai bukti konkret tentang anggapan azab yang dialami oleh Dusun Legetang ini dan penjelasan ilmiahnya sudah ada.

Melalui peristiwa Gunung Pengamun-amun yang terjadi di masa lalu mengajarkan banyak hal pada kita, terutama agar senantiasa menjaga alam dan melihat lebih dekat kebesaran Sang Pencipta. Semoga informasi tadi menjawab rasa penasaran kamu ya, detikers.

FAQ

1. Di manakah lokasi Gunung Pengamun-amun saat ini?

Gunung Pengamun-amun berada di kawasan Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah dan masih dapat ditemukan melalui Google Maps. Kondisinya saat ini masih utuh dengan vegetasi hijau di sekitarnya.

2. Apa yang menyebabkan Dusun Legetang hilang akibat Gunung Pengamun-amun dulu?

Dusun Legetang hilang akibat longsor besar Gunung Pengamun-amun pada tanggal 17 April 1955. Secara ilmiah, bencana ini memicu retakan tanah, hujan berkepanjangan, dan tekanan massa tanah yang menyebabkan longsoran besar menimpa dusun tersebut.

3. Apakah Dusun Legetang benar hilang karena azab atau mitos tertentu?

Mitos tentang azab memang berkembang secara turun temurun di masyarakat. Namun, hingga kini mitos tersebut tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Penjelasan geologis tetap menjadi dasar utama penyebab terjadinya longsor Gunung Pengamun-amun.




(sto/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads