Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang masih menunggu hasil rekomendasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) perihal randu alas ikon Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur. Penentuan apakah pohon raksasa itu jadi ditebang atau tidak akan diputuskan berasar rekomendasi tersebut.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian dan Pangan, Kabupaten Magelang, Arifan Sasongko menyebut tim Fakultas Kehutanan dan Fakultas Pertanian UGM sudah datang untuk mengecek pohon randu alas di Tuksongo itu pada Selasa-Rabu kemarin.
"(Terkait randu alas Tuksongo dari UGM) Hasil penelitiannya ini, kami nunggu surat rekomendasi dari Fakultas Kehutanan UGM. Jadi, nggak bisa ngomong banyak dulu karena nanti nunggu rekomendasinya itu," katanya saat dihubungi detikJateng, Kamis (22/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arifan menyebut Bupati Magelang Grengseng Pamuji akan menyampaikan langsung hasil kajian tersebut. Saat ini, pihaknya hanya bisa menunggu kajian itu selesai.
"Belum, belum, dereng dikirim (belum dikirim) ke kami apa rekomendasi-rekomendasinya. Nanti baru kami sampaikan setelah ada rekomendasi resminya," jelas Arifan.
"Mungkin yang menyampaikan nanti Pak Bupati nanti. Karena rekomendasinya kepada Pak Bupati," ujarnya.
Pohon randu alas ikon Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, batal ditebang hari ini, Senin (12/1/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Objek Penelitian
Adapun yang diteliti ialah tingkat kerapuhan kayunya hingga soal serangan penggerek batang dan penyakit jamurnya.
"Nah, itu yang dari Pertanian. Kalau dari Kehutanan itu tingkat kerapuhan sama kemungkinan bisa diawetkan atau nggak tanamannya," tambah Arifan.
"Nggih, mereka nggih dua hari Selasa sama Rabu teman-teman dari UGM melihat ke Tuksongo. Betul (dosen), dari Fakultas Pertanian satu orang, dari Fakultas Kehutanan tiga orang," ujarnya.
Sebagaimana diberitakan, Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menggandeng UGM untuk menentukan nasib pohon ikon Desa Tuksongo tersebut.
Grengseng mengatakan pihaknya berupaya mempertahankan randu alas tua itu agar tetap menjadi ikon Desa Tuksongo. Namun, kajian ilmiah diperlukan mengingat ada juga risiko pohon itu tumbang.
"Nah, bentuk penyelamatan ikon itu, nanti kita tunggu rekomendasi dari Fakultas Kehutanan dan Fakultas Pertanian UGM," ujarnya saat ditemui wartawan, Selasa (20/1/2026).
"Kita putuskan ini bisa dihidupkan kembali, misalnya, tapi ternyata (rawan karena) hujan lebat, angin, akhirnya keamanan masyarakat menjadi taruhannya, saya nggak mau juga," ucap dia.
(afn/ams)

