6 Khutbah Jumat Awal Bulan Syaban, Penuh Syukur dan Persiapan Sambut Ramadhan

6 Khutbah Jumat Awal Bulan Syaban, Penuh Syukur dan Persiapan Sambut Ramadhan

Anindya Milagsita - detikJateng
Kamis, 22 Jan 2026 18:21 WIB
Ilustrasi khutbah Jumat
Ilustrasi khutbah Jumat. Foto: (Foto: Alhaki/BeritaKlik)
Solo -

Pada hari Jumat tanggal 23 Januari 2026, khatib sholat Jumat bisa menyampaikan khutbah Jumat awal bulan Syaban yang berisikan pembahasan seputar bulan Syaban sebagai waktu mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sebagai referensi, temukan beberapa contoh teks khutbah Jumat bulan Syaban melalui paparan berikut.

Untuk diketahui, berdasarkan Kalender Hijriah resmi Kementerian Agama, hari Jumat (23/1/2026) bertepatan dengan tanggal 4 Syaban 1447 H. Artinya, belum ada sepekan memasuki bulan Syaban.

Bulan Syaban dianggap sebagai waktu yang bisa diisi oleh kaum muslim dengan banyak-banyak melakukan amal baik. Termasuk mengerjakan puasa sunnah maupun ibadah yang mampu mendatangkan pahala lainnya. Sebab, Syaban adalah bulan tepat sebelum bulan Ramadhan tiba.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu amalan yang bisa dibagikan kepada sesama muslim adalah menyampaikan materi khutbah bertemakan bulan Syaban. Termasuk pada saat menunaikan ibadah sholat Jumat hari ini. Untuk lebih jelasnya, berikut sejumlah pilihan teks khutbah Jumat yang membahas seputar bulan Syaban.

ADVERTISEMENT

7 Khutbah Jumat Awal Bulan Syaban

1. Khutbah Jumat: Keutamaan dan Amalan Nishfu Sya'ban

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk selalu berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, satu-satunya Tuhan yang wajib dan dapat disembah, Pencipta segala sesuatu, yang menakdirkan terjadinya segala sesuatu, Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak membutuhkan kepada segala sesuatu dan berbeda dengan segala sesuatu, yang tidak membutuhkan kepada tempat dan arah serta Mahasuci dari bentuk dan ukuran.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Tidak lama lagi kita akan menyanyikan lagu satu malam yang penuh keutamaan, kemuliaan dan keberkahan. Malam itu adalah malam pertengahan bulan Sya'ban atau biasa disebut malam nishfu Sya'ban. Tahun 1446 H ini, malam nishfu Sya'ban akan jatuh pada hari Kamis malam Jum'at mingguan yang akan datang.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Allah Ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱرۡكَعُواْ وَٱسۡجُدُواْۤ تُفۡلِحُونَ ۩

Maknanya: "Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kalian beruntung." (QS al Hajj: 77)

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan amal yang paling utama setelah iman, yaitu shalat. Allah memerintahkan orang-orang beriman agar mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala macam ibadah. Allah memerintahkan mereka untuk melakukan kebaikan, dan dengan itu mereka akan memperoleh keberuntungan di akhirat.

Allah Ta'ala telah menjadikan bagi hamba-hamba yang memberi pintu-pintu kebaikan yang banyak sebagai rahmat Allah terhadap mereka. Allah juga menjadikan ada waktu-waktu yang diberkahi agar di waktu-waktu tersebut seorang muslim mencari bekal untuk akhiratnya. Surat al Hajj ayat 77 di atas adalah dalil umum bahwa kita dianjurkan untuk melakukan berbagai kebaikan kapan pun dan di mana pun termasuk pada malam nishfu Sya'ban.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه فِي السُّنَنِ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي شُعَبِ الْإِيْمَانِ)

Maknanya: "Apabila tiba malam nishfu Sya'ban, maka hidupkan malamnya dan berpuasalah di siang harinya" (HR Ibnu Majah dalam as-Sunan dan al Baihaqi dalam Syu'ab al Iman )

Yakni bangunlah di sebagian besar malam itu dan isilah dengan shalat, baca surat Yasin atau surat-surat lainnya dalam Alquran, dzikir, doa dan kebaikan-kebaikan yang lain. Doa di pertengahan malam, lebih-lebih di segmen malam terakhir adalah ibadah yang agung dan lebih berpotensi dikabulkan oleh Allah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَان نَادَى مُنَادٍ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ (رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ في شُعَبِ الْإِيْمَانِ

Maknanya: "Apabila tiba malam nishfu Sya'ban, maka malaikat memohon menyampaikan dari Allah: adakah orang yang memohon ampun maka aku ampuni, adakah orang yang meminta sesuatu maka aku memberikan permintaannya" (HR al Baihaqi dalam Syu'ab al Iman).

Oleh karena itu, Imam Syafi'i menegaskan dalam kitab al Umm:

وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

"Telah sampai berita kepada kami bahwa dulu pernah dikatakan: sesungguhnya doa yang dikabulkan pada lima malam: malam jum'at, malam hari raya Idul Adha, malam idul fitri, malam satu Rajab dan malam nishfu Sya'ban."

Syekh Ibnu Hajar al Haitami dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra mengatakan:

الْحَاصِلُ أَنَّ لِهَذِهِ اللَّيْلَةِ فَضْلًا وَأَنَّهُ يَقَعُ Persyaratan Layanan Pelanggan وَمِنْ ثَمَّ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِيْهَا

"Kesimpulannya bahwa malam nishfu Sya'ban memiliki keutamaan, dan terjadi pengampunan secara dosa khusus serta pengabulan doa secara khusus. Dari sini-lah Imam Syafi'i mengatakan bahwa doa dikabulkan di malam nishfu Sya'ban."

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Marilah kita manfaatkan pertengahan Sya'ban ini dengan sebaik-baiknya. Marilah kita memperbanyak shalat dan berbagai ketaatan yang lain di malam harinya (malam 15 Sya'ban) dan berpuasa di hari nishfu Sya'ban (hari kelima belas Sya'ban). Karena telah diriwayatkan dalam hadits yang shahih:

يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ والطَّبَرَانِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ)

Maknanya: "Allah merahmati para hamba-Nya (dengan rahmat khusus yang disertai kemuliaan) di malam nishfu Sya'ban, maka Ia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan seorang muslim yang ada permusuhan, kedengkian dan kebencian terhadap Muslim lain karena duniawi" (HR Ibnu Hibban, ath-Thabarani dan al-Baihaqi)

Makna hadits ini bahwa Allah mengakhiri malam nishfu Sya'ban dengan sebuah keistimewaan, yaitu Allah merahmati para hamba-Nya yang beriman dengan rahmat yang khusus. Allah mengampuni untuk sebagian kaum Muslimin sebagian dosa mereka dan mengampuni untuk sebagian kaum Muslimin semua dosa mereka. Sedangkan orang kafir dan musyrik, maka Allah tidak akan mengampuninya.

Demikian pula musyahin, yakni seorang Muslim yang ada permusuhan, kedengkian dan kebencian terhadap Muslim lain karena urusan dunia. Oleh karena itu, hendaknya masing-masing kita memperbaiki hubungan dengan saudara sesama Muslim. Dan hendaklah masing-masing dari kita memaafkan, berlapang dada dan mengeluarkan serta membuang iri dan kebencian dari hati kita sebelum malam nishfu Sya'ban tiba. Dengan itu, semoga Allah merahmati kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Marilah kita teladani para ulama salaf yang mengagungkan malam nishfu Sya'ban dan giat beribadah di malam itu. Ibnu Rajab al Hanbali menuturkan dalam kitab Latha'if al Ma'arif:

"Para tabi'in dari kalangan penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma'dan, Mak-hul, Luqman bin 'Amir dan lainnya selalu mengagungkan malam nishfu Sya'ban dan giat beribadah di malam itu. Dari mereka-lah, umat Islam menyimpulkan keutamaannya dan mengagungkannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh para ahli ibadah di kota Basrah dan lainnya."

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Terakhir kami menyinggung sedikit satu permasalahan terkait akidah yang wajib kita yakini. Para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah sepakat menyatakan bahwa takdir dan kehendak Allah tidak berubah karena doanya orang yang berdoa atau sedekah yang dilakukan oleh seseorang, baik pada nishfu Sya'ban atau di waktu-waktu yang lain.

Kita diperintahkan untuk berdoa, tiada yang lain adalah untuk menampakkan penghambaan kita kepada Allah subhanahu wata'ala . Seseorang yang doanya sesuai dengan apa yang Allah takdirkan terjadi, maka apa yang diminta hambanya akan terwujud. Dan jika doa seorang hamba tidak sesuai dengan apa yang Allah takdirkan untuknya, maka apa yang diminta hamba pasti tidak terwujud. Akan tetapi hamba itu telah memperoleh pahala dari ibadah yang telah dikerjakannya, yaitu berdoa.

Maksudnya, Allah pasti akan memberikan pahala kepada setiap orang yang berdoa dengan tulus ikhlas kepada-Nya.

Hadirin yang dirahmati Allah...

Demikianlah khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua. Amin.

(Sumber: tulisan KH Nur Rohmad di laman MUI)

2. Khutbah Jumat: Syaban, Gerbang Utama Bulan Suci Ramadhan

Jamaah Jum'ah Masjid Istiqlal yang dirahmati Allah SWT.

Setelah kita melangitkan segala puja dan puji kehadirat Allah SWT serta menyanjungkan shalawat kepada baginda nabi besar kita Muhammad SAW., mari kita sama-sama tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dengan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan berhenti larangan-larangannya. Tidaklah ada waktu yang sesingkat mungkin, dari hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan, kecuali kita manfaatkan untuk beribadah dan bertaqorrub kepada Allah SWT.

Saat ini kita tengah berada pada bulan Sya'ban, termasuk bulan bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT., bulan dimana Allah memerintahkan untuk melaksanakan puasa-puasa sunah, bulan yang Allah perintahkan kepada kita untuk memperbaiki hubungan horizontal, antar sesama saudara, kerabat, dan kawan seiring serta handai taulan.

Serupa kandungan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah ra.:

Artinya: Dari Aisyah Ummul Mu'minin ra. Mengatakan: bahwa Rasulullah SAW berpuasa di bulan Sya'ban hingga kami menyatakan tidak pernah tidak puasa, dan Rasulullah SAW juga tidak berpuasa hingga kami menyatakan: beliau tidak berpuasa. Dan aku tidak melihat Rasulullah berpuasa paling banyak di bulan lain setelah Ramadhan kecuali bulan Sya'ban. (HR. Bukhari dan Muslim)

وأخرج أبو داود عن عائشةَ رضي الله عنها قالت: ((كان أحب الشهورِ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يصومَه شعبان، ثم يصِلَه برمضان)).

Artinya: Abu Dawud ra juga meriwayatkan hadis dari Aisyah ra: bahwasanya bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk berpuasa adalah Sya'ban dan kemudian menyambungnya dengan Ramadhan.

Kenapa Rasulullah suka berpuasa di bulan Sya'ban? karena bulan Sya'ban adalah bulan yang paling banyak dilupakan orang karena terletak di antara bulan Rajab dan Ramadhan, dan di bulan Sya'banlah para malaikat mengangkat amal-amal hamba kepada Allah SWT secara periodik tahunan, dan Rasulullah ingin ketika amal-amal tersebut dilaporkan kepada Allah SWT. beliau dalam keadaan sedang puasa.

Artinya: Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid RA berkata: aku bertanya kepada Rasulullah, Ya Rasulullah aku tidak melihat engkau berpuasa di bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa di bulan sya'ban ini? Rasulullah SAW menjawab: karena Sya'ban adalah bulan yang banyak dilupakan dan orang, terletak di antara bulan Rajab dan Ramadhan, dan di bulan Sya'ban pahala amal-amal kita diangkat kepada Allah SWT, dan aku ingin Ketika amal-amal ku diangkat ke hadapan Allah SWT, aku sedang berpuasa.

Puasa Sya'ban adalah laksana salat qabliyah sedang puasa enam hari Syawal laksana sunah ba'diyah. Puasa baik yang wajib maupun sunah adalah barometer kecintaan hamba pada Allah SWT. barang siapa yang banyak melaksanakan puasa maka terindikasi kecintaannya kepada Allah yang tinggi dan begitu pula sebaliknya.

Jamaah Jum'ah yang berbahagia,

Periode penyampaian amal kepada Allah SWT ada empat macam: pertama yang bersifat harian; yaitu ganjaran amal-amal kita waktu siang diangkat ke langit sebelum masuk waktu malam, dan amal-amal yang dilakukan pada waktu malam diangkat ke langit sebelum masuk waktu siang.

Kedua yang bersifat satu pekan sekali, yaitu amal-amal kita diangkat ke langit setiap hari Senin dan hari Kamis. Karena itu pula kami disunahkan berpuasa Senin dan Kamis.

Dan yang ketiga adalah periode tahunan, yaitu pada bulan Sya'ban, bulan yang saat ini kita sedang Jalani sedang yang ke empat, terakhir adalah ketiga tutup usia kita.

Lalu amalan apa lagi yang dianjurkan diperbanyak kepada kita di bulan Sya'ban?

Kita baiki hubungan kita kepada anggota keluarga, kepada tetangga, kepada teman karib, teman sejawat, kepada siapa pun dan jangan kita menjadi provokator dalam masyarakat, karena Allah mengampuni dosa-dosa hambanya di bulan Sya'ban ini kecuali المشاحن والمشرك (orang yang gemar mengadu domba dan yang melakukan kesyirikan).

Musyahin adalah orang yang gemar memberi muatan negatif kepada orang lain, agar berseteru dengan pihak lain atau bahasa vulgarnya adalah provokator, yang gemar memprovokasi, membuat suasana panas hingga masyarakat gelisah dan akhirnya terjadi kekacauan. Maka kebalikan dari musyahin adalah islahu dzatal bain, memperbaiki hubungan sesama agar tercipta situasi yang kondusif untuk beribadah kepada Allah SWT dengan nyaman dan khusyu'.

Bulan Sya'ban juga merupakan pemanasan untuk masuk bulan Ramadhan. Agar di bulan Ramadhan kita sudah siap untuk melaksanakan rangkaian ibadah yang dianjurkan, maka kita dianjurkan untuk melakukan pemanasan sejak bulan Rajab dan Sya'ban. Serupa doa yang diajarkan oleh salafus shalih:

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

"Ya Allah mampui hidup kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikan usia kami hingga bulan Ramadhan."

Ibnu Rajab juga menguatkan:

رجب شهر الزرع وشعبان شهر الراي ورمضان شهر الحصاد

"Rajab bulan menanam, Sya'ban bulan menyiram dan memupuk tanaman tersebut dan bulan Ramadhan panen."

Di bulan Sya'ban ini kami dianjurkan untuk mulai membiasakan ibadah-ibadah yang akan kami lakukan pada bulan Ramadhan; puasa sunah, perbanyak membaca Al qur'an, bersedekah, shalat malam, serta membayar zakat mal yang sudah sampai nisab dan haul dan yang paling utama lagi adalah bertaubat dari segala perbuatan-perbuatan buruk dan maksiat kepada Allah SWT.

Sehingga masuk ke dalam bulan Ramadhan kita sudah dalam keadaan bersih putih dan semoga Allah memudahkan kita semua dalam melaksanakan ibadah-ibadah kepada Allah SWT sampai bulan Ramadhan.

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertransformasilah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di dasar sungai-sungai...

Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

(Sumber: tulisan KH Bukhori Sail Attahiry, Lc, MA di laman resmi Masjid Istiqlal)

3. Khutbah Jumat: Mengayubagya Nishfu Sya'ban (Bahasa Jawa)

Para sederek Kaum Muslimin ingkang Minulya

Mangga kita sesarengan nambahi taqwa kita dateng Allah, kanti tansah netepi taat dateng sedaya perintah lan dawuh dawuhipun, saha nebihi sedaya awisanipun. Ampun ngantos kuma wantun nilar kwajiban lan nglirwaaken dawuh dawuhipun Allah, lan ugi ampun ngantos nerjang palang awisan ipun Allah. Ing pangajab kita tansah pinaringan rahmat lan kanugerahan, saking ngarsa Dalem Allah Ta'ala, Amiin.

Para sederek Kaum Muslimin ingkang Minulya,

Wonten ing wulan Sya'ban menika wonten khususiyah, inggih menika dinten Nishfu Sya'ban. Prastawa sejarah ingkang sampun dumados ing saminipun wekdal kasebat, inggih menika prastawa tahwilul qiblah, pemindahan kiblat. Allah nurunaken wahyu perintah pindah kiblat. Inggih madep dateng arah Masjidil Haram, ingkang sekawit dateng arah Masjidil Aqsha. Dawuhipun Allah:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضُهَا فَوَلَ
وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Temen Ingsun mirsani wajah-ira (Muhammad) bolak balik ndangak ing arah langit, mangka yekti Ingsun arahake temenan sira ing kiblat kang sira senengi, mula adepna wajah-ira ing arahe Masjidil Haram." (QS.Al Baqarah :144)

Para sederek Kaum Muslimin ingkang Minulya,

Katah fadhilah lan kamulyanipun nishfu Sya'ban, jalaran Allah paring rahmat lan kanugerahan paring ijabah dateng para kawula ing wekdal kasebat. Kados kasebat wonten ing hadits Rasulullah SAW paring dawuh:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوا لَيْلَهَا وَصُوْمُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا
مِنْ مُسْتَغْفِرِ إِن فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزَقَهُ أَلَا مُبْتَلِي فَأَعَافِيَهُ
أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلِعَ الْفَجْرُ

"Nalika wus tumeka nishfu Sya'ban, mangka pada tangiya sira kabeh ing wengine nishfu Sya'ban, lan pada pasaha sira kabeh ing rinane, mangka sejatine Allah nurunake rahmate ing langit dunya sakwise surupe serngenge, nuli nAllah paring dawuh: "Anata wong kang nyuwun apura marang Ingsun, mesti Ingsun paringi pangapura, anata wong kang nyuwun rizki, mesti Ingsun paringi rizki, Anata wong kang lara, mesti Ingsun warasake, lan kaya ngono sak banjure, nganti tumeka metune fajar". (HR. Ibnu Majah)

Pramila mangga kita gayuh kanugerahan sarana nggegesang dalu nishfu Sya'ban, kanti ibadah, ngatah-ngatahaken dzikir lan donga, panyuwun rahmat lan maghfirahipun Allah.

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Ampun ngantos nglirwaaken saat ijabah ing malem nishfu Sya'ban jalaran Allah ngluberaken rahmat sedaya panyuwunan pun ijabahi dening Allah. Al-Imam Asy Syafi'i ngendika ing kitab al-Umm:

(قال الشَّافِعِيُّ) وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَان يُقَالُ إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ ليَالٍ فِي لَيْلَةِ الْجَمَعَةِ وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

Al Imam as-Syafi'i ngendika: "Wus tumeka ing kita, menawa sak temene kabehdonga panyuwunan mesti dikabulake ing sak jerone limang wektu bengi, yaiku;
1.Malem Jum'at, 2.Malem riyaya idul adha, 3.Malem riyaya idul fitri, 4. Kawitane wengi sangka wulan Rajab. 5.Malem Nishfu Sya'ban."
(Al-Imam as-Syafi'i, al-Umm :1/231).

Mugi mugi Allah maringana pitedah lan pitulung dateng kita sedaya, saget nindaaken ibadah lan pandonga ing nishfu Sya'ban, wusana Allah paring rahmat lan ijabah. Amin.

(Sumber: publikasi 'Khutbah Jum'ah Aswaja' oleh Pengurus NU Bantul)

4. Khutbah Jumat: Mari Perbanyak Puasa Sunah di Bulan Sya'ban

Segala puji hanya milik Allah, yang dengan rahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul di tempat ibadah ini pada hari yang penuh berkah, yakni Jumat yang mulia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW keluarga, dan para sahabatnya yang setia meniti jejak kebenaran.

Marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Caranya cukup sederhana yaitu mengerjakan apa yang telah menjadi perintah, dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Bila konsisten seperti itu, insya Allah kita dapat merasakan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Bulan Sya'ban telah tiba, dan dengan setiap matahari yang terbit, kita semakin mendekati bulan Ramadan yang mulia. Bagi umat Islam, Sya'ban bukanlah sekadar bulan biasa; ia adalah waktu yang diberkahi dan dianggap sebagai masa persiapan diri untuk menyambut bulan penuh berkah tersebut.

Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat berarti mengenai pentingnya memperbanyak puasa sunah di bulan Sya'ban. Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalur 'Aisyah memberikan gambaran nyata tentang praktik Rasulullah dalam menyambut bulan penuh keberkahan, Ramadan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَصُومُ حتَّى نَقُولَ: لا يُفْطِرُ، ويُفْطِرُ حتَّى نَقُولَ: لا يَصُومُ، فَما رَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إلَّا رَمَضَانَ، وما رَأَيْتُهُ أكْثَرَ صِيَامًا منه في شَعْبَانَ

"Dari Siti 'Aisyah ra berkata: "Rasulullah berpuasa hingga kami menyangka Ia berbuka, dan berbuka hingga kami menyangka Ia tidak berpuasa, dan aku tidak pernah melihat Rasul menyempurnakan puasanya satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasul memperbanyak puasanya daripada berpuasa di bulan Sya'ban".

Dalam petuahnya, Rasulullah mengajak umatnya untuk merenungkan betapa berharganya waktu di bulan Sya'ban. Meskipun Rasulullah menjalani puasa sunah di bulan ini, bukan berarti puasa tersebut menjadi kewajiban. Puasa Sya'ban dapat dianggap sebagai persiapan batin dan fisik, sebagai sebuah BeritaKlik-BeritaKlik terakhir menjelang "bulan penuh rahmat".

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Marilah kita sambut bulan Sya'ban dengan hati yang bersih, semangat yang membara, dan niat yang tulus. Memperbanyak puasa sunah seperti puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, atau bahkan puasa Daud menjadi langkah awal menuju perubahan positif dalam diri kita. Sambutlah bulan ini sebagai ladang amal yang subur, tempat kita menanam benih kebaikan yang akan kita panen di akhirat kelak.

Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menggambarkan keutamaan yang sungguh luar biasa dari melaksanakan puasa sunah. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَعْدَ اللَّهُ تَعَالَى وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيفًا

"Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan dirinya dari neraka sejauh jarak tujuh puluh tahun."

Keutamaan ini bukan hanya terbatas pada keberuntungan terhindar dari siksaan neraka, namun juga menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menjalankan ibadah-Nya. Puasa sunah bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang membawa hamba kepada kedekatan dengan Sang Pencipta.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Bulan Sya'ban bukan hanya sebagai awal pembukaan tirai Ramadan, tetapi juga sebagai kesempatan bagi umat Islam untuk membersihkan hati, memperbanyak amal ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan memperbanyak puasa sunah di bulan Sya'ban, kita dapat mempersiapkan jiwa dan raga agar siap menyongsong bulan penuh berkah, Ramadan, dengan penuh kekhusyukan.

Oleh karena itu, mari manfaatkan bulan Sya'ban dengan sebaik-baiknya. Perbanyaklah puasa sunah, perdalam ibadah, dan perkokoh niat untuk menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan jiwa yang penuh keimanan. Sebab, di setiap detiknya, bulan Sya'ban menawarkan peluang keemasan untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Dengan itu, kita siapkan diri, sembari menantikan datangnya bulan Ramadan sebagai tamu agung yang membawa berkah dan keampunan. Semoga setiap amalan yang kita lakukan di bulan ini menjadi catatan indah di hadapan Allah SWT. Aamiiin.

(Sumber: laman resmi Muhammadiyah)

5. Khutbah Jumat: Amaliyah Nisfu Syaban

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Kami mengajak diri sendiri dan para jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan berusaha menunaikan perintah perintah Allah dan meninggalkan segala perintahnya. Dengan harapan Allah senantiasa melimpahkan rahmat keberkahan dalam hidup kita sejak di dunia sampai di akhirat. Apapun yang terjadi dalam kehidupan di dunia ini semua telah ditentukan olehNya. Sebagaimana firmanNya:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَالْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

"Katakanlah: 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal'." (QS.At-Taubat: 51)

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Ibadah di bulan Sya'ban menandai tentang kesiapan kita dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Yang sangat menarik perhatian adalah bahwa bulan ini mengandung momentum special yang dikenal dengan "Nisfu Sya'ban". Nisfu Sya'ban berarti pertengahan bulan Sya'ban atau tanggal 15 Sya'ban. Imam Ghazali mengistilahkan Nisfu Sya'ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Kita dianjurkan menghidupkan malam tersebut dengan memperbanyak ibadah dan melakukan amalan baik pada malam nisfu Sya'ban. Sayyid Muhammad bin 'Alawi Al-Maliki menegaskan bahwa terdapat banyak kemuliaan di malam nisfu Sya'ban; Allah SWT mengampuni dosa orang yang minta ampunan pada malam itu, mengasihi orang yang minta kasih, menjawab do'a orang yang meminta, melapangkan penderitaan orang susah, dan membebaskan hamba dari neraka.

Setidaknya terdapat tiga amalan yang dapat dilakukan pada malam nisfu Sya'ban. Tiga amalan ini disarikan dari kitab Madza fi Sya'ban karya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Pertama, memperbanyak doa.

Anjuran ini didasarkan pada hadits riwayat Abu Bakar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

يَنْزِلُ اللَّهُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِكُلِّ شَيْءٍ ، إِلَّا لِرَجُلٍ مُشْرِكٌ أَوْ رَجُلٍ فِي قَلْبِهِ شَحْنَاهُ

"(Rahmat) Allah SWT turun ke bumi pada malam nisfu Sya'ban. Dia akan mengampuni segala sesuatu kecuali dosa musyrik dan orang yang di dalam hatinya tersimpan kebencian (kemunafikan)," (HR Al-Baihaqi).

Kedua, membaca dua kalimat syahadat sebanyak-banyaknya. Dua kalimat syahadat termasuk kalimat mulia. Dua kalimat ini sangat baik dibaca kapan pun dan di mana pun terlebih lagi pada malam nisfu Sya'ban. Sayid Maliki mengatakan:

"Seyogyanya seorang muslim mengisi waktu yang penuh berkah dan keutamaan dengan memperbanyak membaca dua kalimat syahadat, La Ilaha Illallah Muhammad Rasululullah, khususnya bulan Sya'ban dan malam pertengahannya."

Ketiga, memperbanyak istighfar.

Tidak ada satu pun manusia yang bersih dari dosa dan salah. Itulah manusia, senantiasa bergelimang dosa. Namun kendati manusia berdosa, Allah SWT senantiasa membuka pintu ampunan kepada siapa pun. Karenaya, meminta ampunan sangat dianjurkan terlebih lagi di malam nisfu Sya'ban.

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Jangan pula abaikan perbanyak do'a permohonan di malam nishfu Sya'ban karena malam itu segala permohonan akan diijabah oleh Allah.

Al-Imam Syafi'i berkata dalam kitab al-Umm:

قَالَ الشَّافِعِيُّ : وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ فِي لَيْلَةِ الْجَمَعَةِ وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

Al Imam as-Syafi'i berkata: "Telah sampai kepada kami bahwa sesungguhnya permohonan akan dikabulkan dalam lima malam, yaitu;

1.Malam Jum'at,
2.Malam hari raya Idul Adha,
3.Malam hari raya Idul Fitri,
4. Awal malam di bulan Rajab
5.Malam Nishfu Sya'ban." (Al-Imam as-Syafi'i, al-Umm :1/231).

Semoga kita semua dianugerahi umur panjang yang barakah; diberi kesempatan berjumpa dengan bulan Ramadhan. Harapan kita dapat meningkatkan kualitas kehambaan dan merengkuh kebahagiaan dunia dan akhirat. Amiiin.

(Sumber: publikasi 'Khutbah Jum'ah Aswaja' oleh Pengurus NU Bantul)

6. Khutbah Jumat: Mempersiapkan Ramadan di bulan Sya'ban

Jamaah jumat yang berbahagia,

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Meningkatkan takwa dapat dengan menaati seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk menjalani kehidupan ini sesuai dengan ajaran-Nya. Amin.

Shalawat dan salam marilah kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menjadi penerang jalan menuju agama yang diridhai Allah. Semoga kita menjadi umat pengikut jejak langkahnya dan dikumpulkan kembali bersama beliau di akhirat kelak. Amin.

Jamaah jumat yang berbahagia,

Sebentar lagi, kita akan memasuki bulan Ramadan yang penuh berkah. Sebelum datangnya bulan yang mulia ini, ada bulan yang sangat penting dalam persiapan kita, yaitu bulan Sya'ban. Bulan Sya'ban adalah bulan yang dapat membantu kita mempersiapkan fisik, spiritual, dan mental untuk menjalani Ramadan dengan sebaik-baiknya.

Dalam khutbah kali ini, saya ingin mengajak kita semua untuk merenungkan bagaimana bulan Sya'ban dapat menjadi bekal yang berharga bagi kita dalam menyambut Ramadan.

Jamaah jumat yang berbahagia,

Sya'ban adalah bulan yang sangat istimewa, karena di dalamnya terdapat kesempatan besar untuk memperbaiki diri. Rasulullah SAW dalam hadis-hadisnya mengajarkan kepada kita untuk memanfaatkan bulan Sya'ban dengan memperbanyak ibadah, terutama puasa sunnah.

Rasulullah SAW sendiri sangat memperbanyak puasa sunnah di bulan ini, sebagai persiapan untuk memasuki Ramadan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَصُومُ حتَّى نَقُولَ: لا يُفْطِرُ، ويُفْطِرُ حتَّى نَقُولَ: لا يَصُومُ، فَما رَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إلَّا رَمَضَانَ، وما رَأَيْتُهُ أكْثَرَ صِيَامًا منه في شَعْبَانَ
"Dari Siti Aisyah ra berkata: "Rasulullah berpuasa hingga kami menyangka Ia berbuka, dan berbuka hingga kami menyangka Ia tidak berpuasa dan aku tidak pernah melihat Rasul menyempurnakan puasanya satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadan dan aku tidak pernah melihat Rasul memperbanyak puasanya daripada berpuasa di bulan Sya'ban".

Hadis lain dari riwayat an-Nasai juga menguatkan bahwa Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, meskipun tidak secara penuh.

لقد كانَت إحدانا تُفطِرُ في رَمضانَ ، فما تقدرُ على أن تقضيَ حتَّى يدخلَ شعبانُ ، وما كانَ رسولُ اللَّهِ يصومُ في شَهْرٍ ما يصومُ في شعبانَ ، كانَ يصومُهُ كُلَّهُ إلَّا قليلًا بل كانَ يصومُهُ كُلَّهُ
"Salah satu dari kami biasa berbuka di bulan Ramadan, dan tidak mampu untuk mengqadha puasa tersebut hingga masuk bulan Sya'ban. Rasulullah tidak berpuasa di bulan mana pun seperti yang beliau berpuasa di bulan Sya'ban, beliau berpuasa sepanjang bulan itu kecuali sedikit."

Jamaah jumat yang berbahagia,

Bulan Sya'ban memberikan kita kesempatan untuk menyesuaikan tubuh kita dengan puasa yang lebih panjang. Ketika kita berpuasa di bulan Sya'ban, tubuh kita akan terbiasa dengan menahan lapar dan dahaga.

Ini sangat penting karena ketika Ramadan tiba, kita tidak akan merasa terkejut dengan tantangan fisik yang ada. Sebaliknya, kita akan lebih siap secara fisik untuk menjalani puasa dengan penuh kekuatan, sehingga kita bisa fokus pada ibadah lainnya, seperti membaca Al-Quran, salat tarawih, dan berbuat kebaikan.

Saudaraku, kita sering kali merasa lelah atau kesulitan ketika pertama kali berpuasa setelah tidak melakukannya dalam waktu yang lama. Namun, dengan memulai di bulan Sya'ban, kita akan merasa lebih siap dan mampu menjalani puasa di bulan Ramadan dengan lebih baik.

Jamaah jumat yang berbahagia,

Selain mempersiapkan fisik, bulan Sya'ban juga merupakan bulan untuk memperkuat disiplin spiritual kita. Ramadan adalah bulan yang lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah waktu untuk membersihkan hati dan jiwa, untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Puasa yang sesungguhnya adalah puasa yang tidak hanya menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk perbuatan buruk, baik itu perkataan yang tidak baik, perbuatan yang tidak bermanfaat, ataupun pikiran yang negatif.

Sya'ban adalah waktu yang tepat untuk melatih diri kita dalam mengendalikan nafsu dan memperbaiki perilaku kita. Melalui puasa sunnah di bulan ini, kita diajarkan untuk lebih disiplin dalam menjaga diri dari segala hal yang dapat merusak puasa kita, baik secara fisik maupun spiritual. Ini adalah pelatihan bagi jiwa kita, agar ketika Ramadan datang, kita siap untuk menjalani puasa dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan yang tinggi.

Jamaah jumat yang berbahagia,

Selain puasa, bulan Sya'ban juga mengingatkan kita untuk memperbanyak membaca Al-Quran. Di bulan Ramadan, setiap huruf yang kita baca dari Al-Quran akan diberi pahala yang sangat besar. Karenanya, orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an merupakan sebaik-baik manusia.

عن عثمانَ بن عفانَ رضيَ اللَّه عنهُ قال : قالَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « خَيركُم مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعلَّمهُ » رواه البخاري
Dari Usman bin Affan ra, Rasulullah SAW. bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Tirmidzi).

Dengan membiasakan diri membaca Al-Quran di bulan Sya'ban, kita akan lebih siap untuk membaca dan merenungkan ayat-ayat Allah di bulan Ramadan, yang mana itu akan semakin memperkuat iman kita.

Oleh karena itu, mari kita manfaatkan bulan Sya'ban dengan sebaik-baiknya. Mari kita latih tubuh kita untuk siap berpuasa, kita latih jiwa kita untuk lebih disiplin dan menjaga diri, serta kita perbanyak membaca Al-Quran sebagai persiapan untuk menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh harapan.

Marilah kita berdoa, semoga Allah senantiasa memberi kita taufik dan hidayah-Nya untuk memanfaatkan bulan Sya'ban sebagai waktu persiapan yang baik bagi kita. Semoga kita semua dapat menjalani Ramadan dengan penuh berkah, kedamaian, dan kesucian hati. Amin.

(Sumber: laman resmi Muhammadiyah)

Demikian tadi penjelasan mengenai khutbah Jumat bulan Syaban dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat!




(par/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads