Potongan video sejumlah emak-emak menerabas arus sungai dengan menggendong siswa sekolah tersebar di media sosial. Dalam video tersebut terlihat bagaimana warga susah payah menerjang arus sungai demi menyingkat jarak tempuh.
Video tersebut viral setelah diunggah oleh akun Instagram @infobanyumasterkini yang berkolaborasi dengan @purwokerto24jam_. Dalam video berdurasi 39 detik itu sempat terlihat salah satu emak yang nyaris terjatuh.
"Sebuah video yang memperlihatkan orang tua murid menggendong anaknya menyeberangi sungai saat berangkat sekolah viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi di Grumbul Kesal, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam video tersebut, terlihat seorang warga menggendong anaknya menyusuri aliran sungai demi memangkas jarak menuju sekolah. Aksi itu dilakukan karena akses jembatan menuju sekolah dinilai cukup jauh dan harus memutar," tulis keterangan video dalam unggahan tersebut seperti dikutip detikJateng, Jumat (23/1/2026).
Akses ke Jembatan 2 Kilometer
Sekretaris Desa Darmakradenan, Ahmad Miftah, membenarkan kondisi itu terjadi di wilayahnya. Menurut dia kondisi tersebut sudah berlangsung puluhan tahun.
"Kita mengirimkan karena itu akses untuk minta jembatan gantung. Karena kalau mau berangkat sekolah itu harus mutar. Sudah berlangsung puluhan tahun," kata Miftah saat dimintai konfirmasi.
Ia menjelaskan, jika tidak menyeberang sungai, warga harus memutar sejauh sekitar 2 kilometer. "Mutarnya bisa 2 kiloan. Kalau terpaksa muter ya harus naik sepeda motor, biayanya jadi tambah banyak," ujarnya.
Menurutnya, ada empat RT di RW 6 yang bermukim di seberang sungai jumlahnya sekitar 200 jiwa atau sekitar 50 kepala keluarga (KK). Namun hanya segelintir warga yang nekat menerabas arus sungai karena jaraknya lebih dekat ke sekolah anaknya.
"Ada empat RT. Sekitar 50 KK, kalau dijumlah sekitar 200-an warga. Setiap hari menyeberangi Sungai Tajum karena itu akses untuk anak sekolah lebih cepat," jelasnya.
Hanya Seberangi Sungai Saat Air Surut
Ia menyebut, jika menyeberang sungai, waktu tempuh ke sekolah hanya sekitar 5-10 menit berjalan kaki. Namun jika harus memutar lewat jembatan, waktu tempuh bisa mencapai 15 menit hingga setengah jam.
"Kalau muter bisa 15 menit, bahkan bisa setengah jam. Padahal kalau nyeberang paling 5-10 menit sudah nyampe ke sekolah," tuturnya.
Menurut Miftah, penyeberangan sungai hanya dilakukan saat kondisi arus landai. Jika hujan deras dan air sungai tinggi, mereka terpaksa memutar lewat jalur yang lebih jauh.
"Kalau hujan gede dan air tinggi, ya nggak ada aktivitas penyeberangan. Terpaksa muter," kata Miftah.
Warga Harap Ada Jembatan Gantung
Ia menambahkan, keberadaan jembatan gantung akan sangat membantu aktivitas warga sehari-hari, tidak hanya untuk anak sekolah, tetapi juga akses menuju pusat pemerintahan desa.
"Kalau ada jembatan gantung, aktivitas sehari-hari bisa lebih baik lagi. Akses ke pusat pemerintah desa juga lebih cepat," ucapnya.
Terkait upaya pembangunan jembatan, pihak desa mengaku sudah beberapa kali mengajukan proposal ke pemerintah kabupaten. Namun hingga kini belum ada respons.
"Proposal-proposal sudah dari dulu, tapi belum dikasih juga," katanya.
Ia berharap agar pemerintah dapat memberikan perhatian khusus untuk pembangunan jembatan melalui program Jembatan Merah Putih.
"Ini cuma karena ada program apa jembatan merah putih. Jadi itu kemarin kan kita upload lagi. Mudah-mudahan dapat," pungkasnya.
(afn/dil)
