Bencana banjir bandang melanda wilayah Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, pada Sabtu dini hari (24/01). Dampak terparah dirasakan di Dusun Sawangan, Desa Penakir dan sejumlah wilayah sekitarnya yang mengakibatkan ratusan warga mengungsi serta rusaknya infrastruktur vital.
Camat Pulosari, Arif Seno Aji mengatakan bahwa sebanyak 630 warga terpaksa mengungsi ke sejumlah lokasi aman, di antaranya Kantor Kecamatan Pulosari, Gedung NU, serta beberapa masjid dan madrasah di wilayah sekitar.
"Ada total tercatat 630 jiwa mengungsi. Sebagian besar warga sudah dievakuasi sejak dini ke tempat-tempat pengungsian yang aman," kata Arif Seno Aji kepada detikJateng di lokasi, Minggu (25/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam peristiwa tersebut, satu orang warga dilaporkan meninggal dunia. Selain itu, beberapa warga mengalami gangguan kesehatan dan telah mendapatkan penanganan medis dari rumah sakit terdekat serta layanan kesehatan yang disiagakan selama 24 jam.
Infrastruktur di sana juga terdampak cukup parah. Khususnya enam jembatan di Desa Penakir yang dilaporkan putus.
"Banjir bandang juga mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur, terutama enam jembatan yang putus di Desa Penakir. Kerusakan terparah terjadi di Dukuh Sawangan dan Dukuh Sarangan, sehingga akses warga terisolasi. Untuk sementara, TNI Zeni direncanakan akan membangun jembatan darurat guna memulihkan mobilitas masyarakat," ungkapnya.
Kondisi dampak banjir bandang di Pulosari Pemalang, Minggu (25/1/2026). Foto: Robby Bernardi/detikJateng |
Selain itu, ada sekitar 10 rumah warga di aliran sungai wilayah Panjangan mengalami rusak berat hingga hanyut. Meski demikian, seluruh warga yang tinggal di bantaran sungai berhasil dievakuasi lebih awal sehingga korban jiwa dapat diminimalisir.
"Tercatat 10 rumah warga di sepanjang aliran sungai wilayah Panjangan hanyut. Dampak bencana juga merambah sektor pendidikan. SD Negeri 2 Nyalembeng dilaporkan kemasukan material lumpur dan puing banjir,". Jelasnya.
Saat ini, proses pembersihan tengah dilakukan oleh relawan gabungan serta elemen masyarakat lainnya. Sedangkan untuk akses jalan, jalur Purwosari-Karangsari kini sudah dapat dilalui setelah dilakukan pembukaan menggunakan alat berat. Sementara itu, akses menuju Dukuh Sawangan, Desa Penakir, masih dalam tahap pembersihan material dan pembukaan jalur.
Penanganan bencana berjalan cukup baik berkat kolaborasi lintas sektor, melibatkan pemerintah daerah, BPBD, TNI-Polri, relawan, hingga para donatur. Bantuan logistik dari Kementerian Sosial dan Dinas Sosial juga telah disalurkan kepada para pengungsi.
"Terkait penyebab banjir bandang, bahwa hingga kini masih dalam tahap penyelidikan oleh tim Perhutani yang melakukan pemantauan menggunakan drone," ungkapnya .
Arif mengimbau masyarakat tidak mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, termasuk isu adanya cekungan atau danau di atas yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan longsoran besar.
Sementara itu, kondisi aliran Sungai Gintung, Sungai Penakir, dan Sungai Ageng atau Comal dilaporkan mulai berangsur normal. Meski debit air sempat meningkat, namun tidak signifikan seperti saat kejadian.
"Dengan kondisi yang mulai terkendali, penanganan bencana kini perlahan memasuki fase pemulihan," kata Arief.
Namun, perbaikan infrastruktur serta pemulihan aktivitas warga diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Kondisi dampak banjir bandang di Pulosari Pemalang, Minggu (25/1/2026). Foto: Robby Bernardi/detikJateng |
(alg/ahr)

