Dalam sejarah panjang Mataram Islam, ibu kota kerajaan sudah berkali-kali pindah tempat. Di antara lokasi yang pernah dijadikan pusat kerajaan adalah Kotagede, Pleret, Kartasura, dan Desa Sala.
Perpindahan sentral pemerintahan Mataram Islam dari Kartasura ke Desa Sala terjadi kira-kira 10 tahun sebelum kerajaan besar bentukan Panembahan Senopati ini resmi terfragmentasi. Pasalnya, pada 1755, Perjanjian Giyanti diselenggarakan, memecah Mataram Islam menjadi Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Menurut keterangan akun Instagram resmi UPTD Museum Disbudpar Kota Surakarta, @uptmuseum_surakarta, peristiwa kepindahan keraton Mataram Islam ke Sala dari Kartasura dikenal dengan nama Boyong Kedhaton. Berikut sejarah lengkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin Utamanya:
- Boyong Kedhaton adalah peristiwa perpindahan keraton Mataram Islam dari Kartasura ke Desa Sala. Kejadian ini terjadi pada Rabu Pahing, 17 Februari 1745.
- Keraton Kartasura ditinggalkan karena rusak parah akibat pemberontakan orang-orang China.
- Raja yang memindahkan keraton dari Kartasura ke Desa Sala adalah Paku Buwono II. Tokoh lain yang berperan penting adalah Pangeran Mijil dan Kyai Yosodipuro.
Sekilas tentang Kasunanan Kartasura
Diringkas dari Jurnal Keraton berjudul 'Konflik Internal dan Perpindahan Kraton Kartasura ke Sala' tulisan I Made Ratih Rosanawati, semua bermula dengan keberhasilan Amangkurat II merebut tahta Mataram Islam. Ia naik tahta dengan sokongan dari VOC, kemudian membangun istana di Kartasura.
Dengan dibangunnya istana ini, dimulailah periode baru Mataram Islam, yakni Kasunanan Kartasura. Sepeninggal Amangkurat II, kursi kepemimpinan beralih ke Sunan Amangkurat III yang bertikai dengan Pangeran Puger.
Singkat cerita, jurang pemisah keduanya semakin lebar. Pangeran Puger melarikan diri ke Semarang. Ia meminta bantuan kompeni untuk menghabisi Amangkurat III. Rencananya berhasil dan sang pangeran mengangkat dirinya sebagai Paku Buwono I.
Paku Buwono I wafat pada 1719. Tahta kepemimpinan beralih ke tangan Amangkurat IV. Semasa memerintah, sang raja menghadapi banyak pemberontakan, tetapi berhasil memadamkannya berkat kekuatan militer dan dukungan VOC. Usai Amangkurat IV, yang berkuasa adalah Paku Buwono II.
Paku Buwono II adalah raja terakhir Kasunanan Kartasura. Ia memerintah selama kurang lebih 16 tahun, dari 1726 hingga 1742. Pada masa kepemimpinan raja bernama asli Raden Mas Prabasuyasa inilah, Keraton Kartasura dipindah ke Desa Sala.
Alasan Keraton Kartasura Dipindahkan
Pemerintahan Paku Buwono II juga diterpa badai pemberontakan. Salah satunya adalah pemberontakan orang-orang China pada tahun 1740 yang termasyhur sebagai Geger Pecinan. Penyebab perlawanan ini adalah pembunuhan orang-orang China oleh bangsa Eropa di Batavia.
Menurut penjelasan Soedjipto Abimanyu dalam buku Kitab Terlengkap Sejarah Mataram, Paku Buwono II mulanya memihak orang-orang China. Namun, setelah mengalami kekalahan kala menghadapi gabungan kekuatan VOC dan pasukan Adipati Cakraningrat IV dari Madura, Paku Buwono II kembali memihak VOC.
Paku Buwono II mengambil tindakan dengan menyingkirkan Patih Natakusuma yang anti VOC. Tindakan ini membuat para pemberontak China marah. Keraton Kartasura dihajar habis-habisan, membuat raja terakhir Kartasura itu melarikan diri ke Ponorogo.
Pada 1743, Paku Buwono II sempat kembali ke Kartasura. VOC yang 'memandatkan' keraton tersebut memberi syarat perjanjian baru yang isinya sangat memberatkan. Antara lain adalah raja dilarang mengangkat putra mahkota dan patih tanpa persetujuan VOC.
Kondisi Kartasura sekembalinya Paku Buwono II sudah tidak keruan. Karena dianggap tidak layak dijadikan pusat kerajaan lagi, Paku Buwono II berencana memindah ibu kota kerajaan.
Pemilihan Tempat Keraton Baru di Desa Sala
Berdasar informasi dalam buku Sejarah Kerajaan Tradisional Surakarta tulisan Dwi Ratna Nurhajarini dkk, Paku Buwono II memerintahkan Patih Pringgalaya dan Sindureja untuk mencari tempat baru. Bersama keduanya, turut ikut pula Mayor van Hohendorff dari VOC, Kyai Tumenggung Honggowongso, Raden Tumenggung Puspanagara, dan Raden Tumenggung Mangkuyuda.
Setelah beberapa waktu, ditemukan 3 tempat untuk pembangunan istana baru, yakni di Desa Kadipala, Desa Sala, dan Desa Sanasewu. Para utusan Paku Buwono II bulat memilih Desa Sala setelah bermusyawarah, tetapi sang sunan sendiri belum begitu yakin.
Paku Buwono II menunjuk empat orang untuk menelaah lebih lanjut Desa Sala, yakni Pangeran Wijil, Kyai Kalipah Buyut, Mas Penghulu Fakih Ibrahim, dan Raden Tumenggung Tirtawiguna. Keempatnya melaporkan penemuan kepada raja mereka.
Ringkasnya, usai peninjauan seberapa lama, tepatnya setelah menemukan sumber mata air di Desa Sala, Paku Buwono II mantap untuk mendirikan istana di Desa Sala. Diperkirakan, ketetapan itu terjadi pada bulan September 1744.
Boyong Kedhaton dari Kartasura ke Desa Sala
Pembangunan pun dimulai dengan menutup area rawa Desa Sala dengan balok-balok kayu. Namun, air tak mau berhenti mengucur. Bahkan, bermunculan ikan-ikan yang habitatnya di laut. Pangeran Wijil dan Kyai Yosodipuro lantas bersemedi meminta petunjuk.
Dari hasil semedi itu, Paku Buwono II memberikan dana ganti rugi kepada Kyai Gede Sala. Sumber mata air yang terus memancar itu ditutup dengan bunga delima dan daun lumbu. Berhenti sudah persoalan air.
Pembangunan pun dilanjutkan. Tercatat, istana baru selesai didirikan pada 1745 Masehi atau 1670 tahun Jawa.
Secara berurutan, yang dipindahkan ke istana baru di Desa Sala adalah beras dan padi, perlengkapan dapur dan segala macam bumbu masak, sato iwen (ayam, itik, dan sejenisnya), ternak kaki 4, dan perlengkapan-perlengkapan lain.
Disediakan pula sesaji, meliputi bekakak ikan, bunga sirih, gecok kecapa, tumpeng megana, kendit, sayuran, ikan, dan seterusnya. Setelah semuanya siap, Paku Buwono II bersama keluarganya pindah ke Desa Sala.
Perpindahan ke keraton Sala terjadi pada Rabu Pahing, 17 Sura Tahun Je 1670 atau Rabu Pahing, 17 Februari 1945. Tercatat, rombongan Paku Buwono II diikuti tak kurang 50.000 orang. Di bagian depan, ada kelompok abdi dalem yang membawa beringin Dewandaru dan Jayandaru.
Selain para abdi dalem, turut serta pula bupati, patih, pasukan VOC, putra mahkota, prajurit Sarageni dan Priyantaka, pasukan pengawal keamanan, pembawa barang pusaka, dan rakyat biasa. Perpindahan itu dimeriahkan dengan tembakan meriam, suara musik, dan tabuhan gamelan.
Sesampainya di pusat pemerintahan baru, berbagai agenda diselenggarakan. Sebut saja pagelaran di bangsal Pangrawit, penanaman pohon beringin kembar, dan selamatan. Selama satu bulan berikutnya, seluruh warga diperkenankan berpesta di rumah masing-masing atau bersama para pembesarnya.
Peristiwa yang dinamakan Boyong Kedhaton ini menandai berakhirnya Mataram Islam era Kasunanan Kartasura sekaligus dimulainya masa Kasunanan Surakarta. Tidak lama setelahnya, Mataram Islam resmi bubar karena pecah menjadi Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Demikian kisah lengkap Boyong Kedhaton, perpindahan keraton Mataram Islam dari Kartasura ke Desa Sala. Semoga menambah wawasan detikers, ya!
(sto/ahr)
