- Bagaimana Tata Cara Ziarah Kubur Orang Tua? 1. Berwudhu 2. Mengucap Salam 3. Melantunkan Doa 4. Membaca Surat Al-Fatihah 5. Melanjutkannya dengan Surat Pendek di Al-Quran
- Bacaan Doa Ziarah Kubur
- Adab-adab Berziarah Kubur 1. Tidak Bertujuan Menyekutukan Allah SWT 2. Meratap di Atas Pusara Makam 3. Tidak Duduk di Atas Pusara 4. Menyiramkan Air 5. Berdoa Menghadap Pusara Kubur
- FAQ Ziarah Kubur dalam Islam Mengapa ziarah kubur orang tua dianjurkan dalam Islam? Apa yang sebaiknya dilakukan saat berada di makam orang tua? Hal apa saja yang perlu dihindari ketika berziarah kubur?
Menjelang bulan Ramadan tiba, ada sebuah tradisi berupa ziarah kubur yang sering kali dilakukan oleh kalangan muslim tertentu, termasuk berziarah ke makam orang tua yang telah tiada. Untuk itulah, tata cara ziarah kubur orang tua menjadi hal yang perlu dipahami oleh setiap orang yang hendak melakukannya.
KBBI mendefinisikan ziarah sebagai kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia, misalnya makam dan sebagainya. Meskipun ziarah kubur bisa dilakukan kapan saja, tapi sebagian kalangan muslim kerap menjadikan momentum sebelum Ramadhan sebagai waktu yang digunakan untuk melakukannya.
Tak hanya sekadar mendoakan mereka yang telah tiada, tindakan berziarah kubur juga memiliki panduan tata cara sampai adab-adab yang mesti diperhatikan. Terdapat juga lantunan doa yang dianjurkan untuk dibaca selama berada di sana. Untuk lebih jelasnya, berikut tata cara ziarah kubur yang bisa menjadi panduan bagi kaum muslim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin Utamanya:
- Ziarah kubur orang tua dianjurkan dalam Islam karena dapat melembutkan hati, mengingatkan akhirat, dan menjadi sarana mendoakan orang tua yang telah wafat.
- Tata cara ziarah kubur dilakukan secara sederhana, meliputi berwudhu, mengucap salam, membaca doa, Al-Fatihah, serta surat-surat pendek Al-Quran tanpa ritual khusus.
- Adab ziarah kubur wajib dijaga, di antaranya tidak meminta kepada ahli kubur, tidak meratap berlebihan, tidak duduk di atas pusara, serta berdoa.
Bagaimana Tata Cara Ziarah Kubur Orang Tua?
Sejatinya, tidak ada tata cara khusus untuk melakukan ziarah kubur ke makam orang tua yang telah tiada. Sebaliknya, tata cara ziarah kubur bisa dilakukan dengan mengacu secara umum. Untuk diketahui, ziarah kubur termasuk tindakan yang sebelumnya dilarang oleh Rasulullah SAW.
Disampaikan dalam buku 'Fikih Madrasah Tsanawiyah Kelas IX' tulisan H Ahmad Ahyar dan Ahmad Najibullah, pada awal Islam diperkenalkan oleh Rasulullah SAW, beliau melarang umatnya untuk berziarah kubur. Sebab, ada kekhawatiran tindakan berziarah kubur justru dilakukan dengan tujuan tertentu.
Kendati begitu, seiring berjalannya waktu dan Rasulullah SAW sudah meyakini keimanan kaum muslim cukup kuat, beliau memberikan anjuran. Terkait dengan anjuran berziarah kubur, Rasulullah SAW bersabda:
"Aku (Nabi) dulu melarang kamu ziarah kubur, maka sekarang berziarah kuburlah kamu, karena ziarah kubur itu bisa melunakkan hati, bisa menjadikan air mata bercucuran, dan mengingatkan adanya alam akhirat, dan janganlah kamu berkata buruk." (HR. Hakim)
Terdapat riwayat lain yang turut menerangkan tentang anjuran berziarah kubur bagi kaum muslim. Melalui buku 'Panduan Fardu kifayah Beserta Doa' oleh H Sopian Riduan, SAg dan MPd, di dalam sabda Rasulullah SAW disampaikan:
"Sesungguhnya aku dahulu telah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah karena akan bisa mengingatkan kalian kepada akhirat dan akan menambah kebaikan bagi kalian." (HR. Muslim)
Lantas, bagaimana tata cara ziarah kubur orang tua maupun orang-orang terdekat lainnya yang telah tiada? Masih menukil dari buku yang sama, berikut sejumlah langkah yang sesuai dengan ajaran Islam.
1. Berwudhu
Bagi seorang muslim yang akan berangkat ziarah kubur ke makam, hendaknya mengambil wudhu terlebih dahulu dari rumah. Meskipun tidak ada anjuran yang dikhususkan terkait hal ini, tetapi terdapat alasan mengapa seorang muslim sebaiknya berwudhu. Selain mensucikan diri, dengan berwudhu diharapkan juga sebagai cara untuk menyempurnakan niat untuk berziarah.
2. Mengucap Salam
Saat memasuki area pemakaman juga dianjurkan untuk mengucap salam. Ucapan salam ditujukan kepada ahli kubur maupun kaum muslim yang telah tiada dan dikebumikan di area pemakaman tersebut.
Ada sebuah lantunan salam yang bisa diucapkan oleh kaum muslim. Berikut bacaan salam ziarah kubur:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْقُبُورِ يَغْفِرُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ وَأَنْتُمْ سَلَفُنَا وَنَحْنَ بِالْأَثَرِ
"As-salaamu alaikum yaa ahlal-qubuur, Yaghfirullaahu lanaa walakum, Wa antum salafunga wanahnu bil-atsar."
Artinya: "Salam sejahtera semoga tercurahkan kepada kalian wahai penduduk alam kubur, semoga Allah memberikan ampunan kepada kita dan kepada kalian, dan kalian telah mendahului kita dan kelak, kita akan menyusul."
3. Melantunkan Doa
Setelah mengucapkan salam, seorang muslim dapat segera mendekati pusaran makam yang dituju. Kemudian lanjutkan dengan melantunkan doa. Selama membaca doa dianjurkan untuk mengarah ke arah kiblat.
Setelah selesai membaca doa ziarah kubur, seorang muslim dapat melanjutkan bacaan dzikir seperti tasbih, takbir, dan tahmid. Tidak ada jumlah dzikir yang dikhususkan untuk dibaca, sehingga seseorang dapat melafalkannya sesuai kemampuan.
4. Membaca Surat Al-Fatihah
Salah satu surat di dalam Al-Quran yang dianjurkan untuk dibaca selama ziarah kubur adalah membaca Surat Al-Fatihah. Dengan membaca Surat Al-Fatihah yang ditujukan semata-mata kepada Allah SWT, diharapkan dapat menjadi amalan baik bagi siapa pun yang melantunkannya.
5. Melanjutkannya dengan Surat Pendek di Al-Quran
Usai membaca Surat Al-Fatihah, dapat dilanjutkan dengan melantunkan surat pendek di dalam Al-Quran. Untuk diketahui, surat-surat pendek sebagai bagian dari Al-Quran diharapkan bagi dapat membawa pahala dari Allah SWT kepada setiap muslim yang mengamalkannya.
Bacaan Doa Ziarah Kubur
Ada berbagai versi doa ziarah kubur yang bisa diamalkan. Seperti halnya dijelaskan dalam buku karya Abu Ezza yang bertajuk 'Buku Pintar Doa untuk Anak', terdapat sebuah riwayat hadits yang menerangkan tentang bacaan doa ziarah kubur. Adapun doa yang dimaksud:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ نَسْأَلُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
Assalaamu 'alaikum ahlad diyaari minal mu'miniina wal muslimiin, wa innaa in syaa alloohu bikum laahiquun, nas alullooha lanaa wa lakumul 'aafiyah.
Artinya: "Keselamatan semoga tetap tercurahkan kepada para penghuni kubur dari golongan orang-orang mukmin dan orang-orang muslim, dan sesungguhnya Insya Allah kami akan menyusul kalian Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan untuk kalian semua." (HR. Ibnu Majah)
Selain doa tadi, ada juga ayat suci di dalam Al-Quran yang dianjurkan dibaca oleh muslim. Menukil dari buku '3 Golongan Musuh Allah Pada Hari Kiamat' karya Rizem Aizid, saat tengah berziarah kubur, kaum muslim dianjurkan membaca Surat Al-Hasyr ayat 10.
وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌࣖ ١٠
Walladzîna jâ'û mim ba'dihim yaqûlûna rabbanaghfir lanâ wa li'ikhwâninalladzîna sabaqûnâ bil-îmâni wa lâ taj'al fî qulûbinâ ghillal lilladzîna âmanû rabbanâ innaka ra'ûfur raḫîm.
Artinya: "Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, 'Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang'."
Adab-adab Berziarah Kubur
Tak hanya melakukan langkah-langkah dan doa tadi, ada juga adab dalam berziarah kubur yang perlu dipahami oleh setiap muslim. Dengan adanya adab dalam berziarah kubur, diharapkan dapat menjadi panduan bagi setiap muslim dalam memahami apa yang boleh dan sebaiknya dihindari.
Dinukil dari buku 'Yaasiin & Tahlil: Dilengkapi Talqin, Panduan Ziarah Kubur, dan Berbagai Doa Harian Penenteram Hati' yang disusun oleh Ustadz Imam Mubarok Bin Ali, berikut sejumlah adab ziarah kubur yang mesti diperhatikan.
1. Tidak Bertujuan Menyekutukan Allah SWT
Memohon atau meminta bantuan saat berziarah kubur termasuk sebagai larangan dalam Islam. Sebab, tindakan tersebut bisa dibilang termasuk menyekutukan Allah SWT. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan yang disampaikan oleh Syekh al-Albani:
"Tidaklah samar lagi bahwa sesuatu yang orang-orang lakukan ketika berziarah, semisal berdoa kepada mayat, beristighosah kepadanya, dan meminta sesuatu kepada Allah SWT dengan perantaranya, termasuk al-hujr yang paling berat dan ucapan batil yang paling besar. Maka, wajib bagi para ulama untuk menjelaskan kepada mereka tentang hukum-Nya dalam hal itu. Dan, memahamkan mereka tentang ziarah yang disyariatkan dan tujuan syar'i dari ziarah tersebut."
2. Meratap di Atas Pusara Makam
Kesedihan mendalam saat kehilangan orang terdekat sering kali masih dirasakan oleh siapa saja yang berziarah ke makam. Tak jarang, seseorang mengeluarkan tangisannya karena perasaan sedih dan kehilangan yang belum sepenuhnya hilang.
Hal tersebut sah-sah saja untuk dilakukan, tapi jika sampai meratap justru menjadi perbuatan yang dilarang. Meratap yang dimaksudkan seperti menangis hingga histeris, merobek kerah baju, maupun menampar pipi sendiri.
3. Tidak Duduk di Atas Pusara
Hendaknya bagi seorang muslim untuk tidak duduk di atas pusara makam. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu adab yang harus ditaati.
Sebaliknya, seseorang yang berziarah dianjurkan untuk berdiri. Hal tersebut sejalan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Sungguh, jika ada salah seorang dari kalian duduk di atas bara api, sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur" (HR. Muslim).
4. Menyiramkan Air
Salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh peziarah saat mengirimkan doa kepada yang telah tiada dibarengi dengan menyiram air di atas pusara makam. Tidak ada larangan untuk melakukan tindakan tersebut.
Namun, perlu diketahui bahwa seorang muslim tidak perlu menabur bunga atau menambahkan air dengan kembang tujuh rupa. Sebaliknya, siram pusara dengan air biasa. Hal tersebut sejalan dengan hadits yang menyebutkan:
"Sesungguhnya, Rasulullah SAW menyiram (air) di atas kubur Ibrahim, anaknya, dan meletakkan kerikil di atasnya."
5. Berdoa Menghadap Pusara Kubur
doa adalah intisari sholat, sehingga dengan berdoa menghadap kubur sebaiknya dihindari sebisa mungkin. Alasannya karena Rasulullah SAW melarang sholat menghadap kuburan.
Untuk itu, saat sedang mendoakan mereka yang telah tiada, usahakan agar tidak serta-merta menghadapkan diri ke pusara kubur. Lakukan dengan berdiri sambil memposisikan diri agar tidak secara langsung menghadap ke pusara makam tersebut.
Dengan memahami panduan melakukan ziarah kubur diharapkan bisa memberikan gambaran tentang apa yang dianjurkan atau sebaiknya dihindari saat berada di sana. Semoga informasi ini membantu, ya.
FAQ Ziarah Kubur dalam Islam
Mengapa ziarah kubur orang tua dianjurkan dalam Islam?
Ziarah kubur dianjurkan karena mampu melembutkan hati, mengingatkan manusia pada kematian, dan menumbuhkan kesadaran akan kehidupan akhirat. Dalam konteks orang tua, ziarah juga menjadi wujud bakti anak dengan mendoakan ampunan dan kebaikan bagi mereka yang telah wafat.
Apa yang sebaiknya dilakukan saat berada di makam orang tua?
Saat berada di makam, seorang muslim dianjurkan mengucap salam kepada ahli kubur, membaca doa, Al-Fatihah, serta ayat-ayat Al-Quran yang ditujukan kepada Allah SWT. Amalan tersebut diharapkan menjadi wasilah kebaikan bagi yang berziarah sekaligus pahala bagi orang tua yang telah meninggal.
Hal apa saja yang perlu dihindari ketika berziarah kubur?
Ziarah kubur hendaknya tidak disertai perbuatan yang dilarang, seperti meminta kepada penghuni kubur, meratap berlebihan, duduk di atas pusara, atau berdoa dengan menghadap langsung ke kubur. Semua adab ini penting dijaga agar ziarah tetap bernilai ibadah dan tidak menyimpang dari ajaran Islam.
(par/par)
