Di balik tembok besar di kawasan Simpang Polda Jateng, Kelurahan Lempongsari, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, berdiri bangunan besar yang nampak terbengkalai namun tetap menyisakan bekas-bekas kemegahannya. Bangunan tersebut dulunya merupakan hotel bernama Siranda.
Pantauan detikJateng dari Jalan Diponegoro, Kelurahan Lempongsari, kemegahan bangunan Hotel Siranda hanya bisa dilihat dari luar pagar tembok. Pintu gerbangnya tertutup rapat. Saat didekati, terdengar suara geraman anjing seolah mengingatkan bagi siapapun untuk tak memasuki kawasan Hotel Siranda.
Suasananya saat malam terasa lebih menyeramkan. Anjing putih besar sudah berjaga di depan gerbang, mengawasi siapapun yang mendekat. Tak ada orang berlalu lalang di trotoar sekitar hotel. Namun, tampak ada lampu yang menyala di salah satu sudut hotel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cat bangunan tampak mengelupas, sebagian dindingnya runtuh, dan semak liar menutup hampir seluruh sudut, menguatkan kesan misterius hotel di tengah Kota Semarang itu.
"Sudah lama sekali kosongnya. Lebih dari 10 tahun," kata Lurah Lempongsari, Tin Subekti, saat dihubungi detikJateng, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, bangunan itu dulunya memang sebuah hotel. Sudah lama hotel itu tutup dan kini menjadi aset salah satu bank swasta di Kota Semarang. Setiap tahun pihak bank rutin mengurus pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) ke kantor kelurahan.
"Sekarang nggak ada yang jaga. Kalau PBB juga saya arahkan ke bank," ujarnya singkat.
Beragam Cerita Seram
Kesan seram yang muncul dari bangunan terbengkalai itu membuat cerita-cerita horor mengalir dari mulut ke mulut. Cerita itu terus berkembang meski sulit untuk dibuktikan.
Salah satu warga setempat yang sejak kecil tinggal di sekitar lokasi hotel, Eko (46) masih ingat betul masa ketika Hotel Siranda menjadi tempat yang ramai dikunjungi tamu yang menginap.
Bangunan bekas Hotel Siranda di Gajahmungkur, Semarang. Foto diambil Kamis (5/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
"Wah itu tempat bermain saya pas cilik (kecil). Mbiyen (dulu) ramai. Ramai pengunjung," kata Eko kepada detikJateng.
Ia menyebut ukuran hotel itu cukup besar, dengan bentuk bangunan menyerupai huruf U. Di masa kecilnya, kawasan tersebut sering ia datangi untuk bermain, bahkan sesekali Eko memetik jambu di belakang hotel.
"Tutupnya waktu saya kecil, mungkin 1990-an. Waktu itu kan saya dari Boyolali pindah ke Semarang dibawa Bapak. Terus kecilnya rumah saya di dekat hotel itu," tuturnya.
Selama ini Eko mendengar cukup banyak cerita seram tentang bangunan yang terbengkalai itu. Rumor adanya makhluk-makhluk aneh beredar di kalangan warga.
"Katanya ada makhluk gaib lah, ada yang bentuk macan, 'mbak kunti', genderuwo, gitu-gitu. Tapi nggak kasat mata," ujarnya.
Tak sedikit orang yang penasaran dan ingin mengunjungi hotel itu untuk menguak misteri yang ada. Namun, kebanyakan dari mereka dilarang masuk karena adanya penjagaan ketat.
Cerita-cerita itu membuat bangunan terbengkalai tersebut kerap dihindari. Meski demikian, Eko menyebut belakangan ada gelandangan yang masuk dan tidur di area hotel, meski akses resmi dijaga ketat.
"Ada gelandangan, pemulung, tidur di sana. Tapi ya gitu, pikirannya kayak kosong, kayak sudah nggak benar," katanya.
Pernah Jaya di Masanya
Pegiat Sejarah Semarang, Johanes Christiono pun menceritakan sejarah Hotel Siranda. Berdasarkan catatan yang ia miliki, Hotel Siranda dibangun pada era 1970-an, bersamaan dengan geliat pembangunan hotel modern di Kota Semarang, yang hendak jadi tuan rumah konferensi internasional PATA (Pacific Asia Travel Association).
"Pada tahun 1970-an dibangun, hampir beriringan dengan pembangunan Hotel Metro, Hotel Sky Garden di Gombel, dan Hotel Patra Jasa. Ketika itu Indonesia tahun 1974 akan mengadakan konferensi internasional PATA, konferensi pariwisata pada masanya," jelasnya.
"Salah satu tempat untuk venue-nya itu di Semarang, makanya dibangun banyak hotel, karena di Semarang pada masa tahun 1970-an belum ada hotel yang modern. Adanya kan hotel-hotel kuno," lanjutnya.
Era 1980-an, kata Johanes, menjadi tahun kejayaan Hotel Siranda yang termasuk hotel mewah dan memiliki pemandangan indah Simpang Lima.
Namun, kemewahan itu tak bertahan lama. Ia menyebut ada kasus kematian seseorang yang terjadi di dalam hotel pada awal 1990-an. Peristiwa itu disebut menjadi titik balik yang membuat pengunjung menurun.
"Hotel Siranda ini kasusnya kematian, jadi ada bunuh diri atau pembunuhan. Setahu saya itu pembunuhan, setelah itu pengunjung susut," ungkapnya.
Kondisi itu membuat hotel itu mengalami kesulitan keuangan. Ujung-ujungnya bangunan hotel disita oleh bank.
Johanes juga meluruskan informasi yang kerap beredar di media sosial bahwa Hotel Siranda dibangun pada 1931. Ia menegaskan klaim itu keliru.
"Dilihat dari foto-foto Jalan Pahlawan tahun 1930-1940-an, menunjukkan area itu masih kosong. Siranda jelas bangunan era 1970-an," tegasnya.
Terkait maraknya cerita horor, Johanes menduga hal itu muncul lantaran kawasan di sekitar hotel itu dulunya merupakan kompleks permakaman tua. Bahkan menurutnya, di salah satu sudut dalam pagar Hotel Siranda masih ada sisa-sisa bong Cina yang kini tertutup semak.
"Sepanjang Sriwijaya, Veteran, sampai Gergaji itu dulu kuburan zaman kolonial. Sisa-sisanya masih ada," jelasnya.
Seperti Eko, Johanes juga mendengar banyak cerita mistis dari hotel terbengkalai itu. Padahal, kata dia, dulunya salah satu ruangan di Hotel Siranda pernah dijadikan tempat ibadah.
"Kalau menurut pengakuan warga, biasalah kalau rumah ada penghuni lainnya kan ada yang nakut-nakuti itu, terutama cerita-cerita yang jaga. Bahkan dulu pas masih berfungsi sebagai hotel, kadang ada yang cerita aneh-aneh," terangnya.
"Dulu kan sempat salah satu ruangnya dipakai untuk ibadah Minggu gereja pada tahun 1980-an, saya kenal dengan pendetanya, sekarang sudah meninggal. Ibadah Minggu itu selama berfungsi sebagai hotel saja, setelah tutup ya sudah pindah," sambungnya.
Kini, Hotel Siranda berdiri sebagai bangunan mati di tengah gemerlap Kota Semarang. Pagar terkunci, satpam dan anjing penjaga siaga, dan tidak sembarang orang boleh masuk.
"Kalau sekarang banyak yang rusak sekalipun itu dijaga sekuriti, kan tetap dijaga itu asetnya, mau masuk saja nggak boleh," kata Johanes.

