Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyiapkan lahan pengungsian sementara bagi warga terdampak tanah gerak di Kampung Sekip RT 07 RW 01, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.
Lahan untuk pengungsian seluas sekitar 500 meter persegi itu berjarak sekitar 150 meter dari lokasi tanah gerak. Alat berat ekskavator dikerahkan untuk menyiapkan lahan kosong yang masih basah karena hujan semalam.
"Lahan tersebut kondisi tanah, jadi harus dikeraskan dulu, di tanah milik (warga) pribadi. Jaraknya kurang lebih dari sini ya 150-an meter," kata Ketua RT 07 RW 01 Jangli, Joko Sukaryono saat ditemui di lokasi, Jumat (13/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Luasnya 500 meter persegi untuk warga yang terdampak. Kalau jumlah (yang akan ditampung) sekitar 17 KK, jumlah jiwa sekitar 54 orang termasuk 10 anak-anak," sambungnya.
Joko mengatakan, jumlah rumah terdampak tanah gerak terus bertambah. Hingga kini tercatat ada 15 rumah yang mengalami kerusakan, tiga rumah di antaranya roboh.
"Retakan tanah semakin panjang. Hari ini kemungkinan warga terdampak akan dievakuasi semua," ujar Joko.
Lahan untuk pengungsian korban tanah gerak di Kelurahan Jangli, Tembalang, Kota Semarang, Jumat (13/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Camat Tembalang, Abdul Haris Nur Hidayat, mengatakan pemerintah kecamatan bersama Pemkot Semarang telah bergerak sejak awal kejadian dengan memberikan bantuan darurat.
"Yang terdampak ada 15 rumah, 17 KK, dan 54 jiwa. Ini membutuhkan penanganan kemanusiaan. Karena lokasi tidak memungkinkan, kami siapkan tenda darurat di lahan ini," kata Haris di lokasi.
Ia menjelaskan, akan ada enam tenda pengungsian dan satu tenda dapur umum di lahan seluas sekitar 500 meter persegi tersebut. Bantuan lainnya dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) juga sedang disiapkan.
"DLH nanti menyiapkan urinoir, kemudian dari Dinas Sosial untuk keperluan logistiknya, dari BPBD ada tenda dan dapur umum. Hari ini sedang pemerataan lahan," jelasnya.
"Nanti setelah rata, mungkin sore ini BPBD menyiapkan pemasangan tenda. Dapur umum segera akan kita siapkan juga. Pemerataan lahan menggunakan alat berat DPU," sambungnya.
Haris menambahkan, lokasi pengungsian ini rencananya digunakan maksimal selama dua bulan sesuai kesepakatan dengan pemilik lahan.
"Nanti setelah dua bulan tentu akan kita rapatkan lagi di tingkat pemerintah kota untuk menentukan solusi berikutnya," ungkapnya.
Tenda pengungsian sementara warga di musala di Kampung Sekip RT 07 RW 01, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jumat (13/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Sementara menunggu lahan pengungsian siap, warga terdampak tanah gerak menumpang di musala setempat. Tampak sudah ada dua tenda yang didirikan di pelataran musala.
Salah satu penghuni tenda itu ialah Sri Darningsih (58) yang rumahnya roboh pada Kamis (12/2) kemarin. Ia menginap di pengungsian bersama warga lainnya.
"Sekarang kami di posko. Ada bantuan dari Dinas Sosial, selimut, kasur, jadi bisa dipakai istirahat. Harapannya nanti ada dapur umum karena kami kan juga mau masak gimana," kata dia.
"Untuk warga yang rumahnya masih bisa ditempati tetap di rumahnya. Tapi kebanyakan ibu-ibu yang takut, sama yang rumahnya roboh lari ke pengungsian semua," sambungnya.
Sri mengatakan, rumahnya sebenarnya belum sempat dibongkar. Namun, struktur bangunan ambruk lebih dulu karena tanah terus turun dan menggeser tiang penyangga di rumahnya.
"Tidak dibongkar ya ini, tapi memang roboh sendiri. Struktur tanahnya semakin turun, semua tiangnya bergerak, ada yang maju, ada yang mundur, ada yang bengkok, ada yang lepas dari sambungannya," kata Sri.
Sebelumnya diberitakan, peristiwa pergerakan tanah terjadi di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Akibatnya, sebanyak 15 rumah warga terdampak dan akses jalan penghubung antara Jangli dan kawasan Universitas Diponegoro (Undip) terputus.
Lurah Jangli, Maria Teresia Takndare, mengatakan tanah gerak terjadi di RT 07 RW 01 Kelurahan Jangli, Kamis (5/2) dan Jumat (6/2) lalu. Peristiwa tersebut dipicu hujan deras yang turun terus-menerus dalam beberapa pekan terakhir.
"Karena kondisi hujan yang terus-menerus, membuat di wilayah saya, tepatnya di RT 07 RW 01, terjadi pergerakan tanah," kata Maria saat dihubungi detikJateng, Minggu (8/2).
(dil/apl)


