- Berapa Rakaat Sholat Tarawih?
- Tata Cara Sholat Tarawih
- Niat Sholat Tarawih 1. Niat sholat Tarawih sebagai Imam 2. Niat sholat Tarawih untuk Makmum 3. Niat Sholat Tarawih untuk Dilakukan secara Sendiri
- Niat Sholat witir Sholat Witir 1 Rakaat Sholat Witir 1 Rakaat Imam dan Makmum Niat Sholat Witir 2 Rakaat Berjamaah Niat Sholat Witir 3 Rakaat Bersamaan secara Sendiri
Sholat Tarawih merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada malam bulan Ramadhan. Ibadah ini menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak amal, mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan sholat berjamaah maupun sendiri di rumah.
Meski hukumnya sunnah, pelaksanaan sholat Tarawih kerap menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Mulai dari bagaimana niat yang benar, berapa jumlah rakaat yang dianjurkan, hingga perbedaan tata cara pelaksanaannya di berbagai masjid. Perbedaan ini sering kali membuat sebagian jemaah merasa ragu atau bingung dalam mengamalkannya.
Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami niat dan jumlah rakaat sholat Tarawih secara tepat berdasarkan tuntunan syariat dan penjelasan para ulama. Dengan pemahaman yang benar, sholat Tarawih dapat dilaksanakan dengan lebih tenang, khusyuk, dan tetap dalam koridor ajaran Islam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berapa Rakaat Sholat Tarawih?
Jumlah rakaat sholat tarawih merupakan persoalan fiqih yang sejak dahulu memiliki beberapa pendapat di kalangan ulama. Perbedaan ini didasarkan pada praktik Rasulullah SAW, para sahabat, serta ijtihad para imam mazhab. Oleh karena itu, umat Islam perlu memahaminya secara proporsional agar perbedaan tersebut tidak menimbulkan perpecahan.
Dalam buku Tuntunan Shalat Lengkap dan Benar karya Dra. Neni Nuraeni, M.Ag, dijelaskan terdapat dua pendapat utama terkait jumlah rakaat sholat tarawih. Pendapat pertama menyebutkan sholat tarawih dilaksanakan sebanyak delapan rakaat, ditambah tiga rakaat sholat witir sehingga berjumlah sebelas rakaat. Pendapat ini merujuk pada keterangan Aisyah ra. yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah sholat sunnah malamnya, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, lebih dari sebelas rakaat. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan salam setiap dua rakaat atau empat rakaat, kemudian ditutup dengan sholat witir tiga rakaat.
Pendapat kedua dalam buku tersebut menyatakan sholat Tarawih dikerjakan sebanyak dua puluh rakaat, ditambah tiga rakaat witir sehingga berjumlah dua puluh tiga rakaat. Jumlah ini merujuk pada praktik yang dilaksanakan pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra. sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi. Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa kaum muslimin pada masa itu melaksanakan sholat Tarawih dua puluh rakaat secara berjamaah. Meski demikian, ditekankan bahwa kualitas sholat lebih utama daripada sekadar jumlah rakaat. Delapan rakaat dengan bacaan yang panjang dan khusyuk dinilai lebih baik daripada dua puluh rakaat yang dilakukan dengan tergesa-gesa.
Pandangan yang sejalan juga dijelaskan dalam Fiqih Sunnah Jilid 1 karya Sayyid Sabiq, terdapat riwayat sahih yang menunjukkan sholat Tarawih dua puluh rakaat telah diamalkan pada masa Umar, Utsman, dan Ali ra., serta menjadi pendapat mayoritas ulama fiqh dari mazhab Hanafi, Hanbali, Syafi'i, dan ulama lainnya. Namun demikian, sebagian ulama tetap berpendapat bahwa jumlah rakaat yang disunahkan berdasarkan praktik Rasulullah SAW adalah sebelas rakaat termasuk witir. Rakaat selebihnya dipandang sebagai tambahan yang baik untuk dikerjakan, bukan sebagai kewajiban.
Sementara itu, dalam buku Mengetuk Pintu Langit di Bulan Ramadhan karya Dr. KH. Fuad Thohari, M.A., dijelaskan adanya tiga pendapat utama. Pertama, menurut ahli hadis, sholat Tarawih berjumlah sebelas rakaat berdasarkan hadis Aisyah ra. Kedua, menurut jumhur ulama fiqh, sholat Tarawih berjumlah dua puluh tiga rakaat sebagaimana yang dilaksanakan pada masa sahabat dan tidak mendapat penolakan dari mereka. Ketiga, menurut ulama Madinah dan Imam Malik, sholat Tarawih dilaksanakan sebanyak tiga puluh enam rakaat dengan tujuan memperbanyak keutamaan ibadah di bulan Ramadhan.
Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sholat tarawih memiliki keluasan dalam pelaksanaannya. Tujuan utama sholat tarawih adalah memperkuat hubungan dengan Allah SWT, mendekatkan diri kepada Al-Qur'an, serta mempererat silaturahmi sesama muslim jika dilaksanakan berjemaah di masjid. Oleh karena itu, perbedaan jumlah rakaat hendaknya disikapi dengan sikap saling menghormati dan tidak dijadikan alasan untuk berselisih di tengah umat Islam.
Tata Cara Sholat Tarawih
Sholat Tarawih merupakan sholat sunnah yang dikerjakan pada malam hari di bulan Ramadhan. Dalam praktiknya, Tarawih memiliki beberapa variasi tata cara yang semuanya memiliki dasar dan tetap dinilai sah menurut syariat. Salah satu bentuk yang sering dipertanyakan adalah pelaksanaan Tarawih dua atau empat rakaat sekali salam.
Menurut NU Online, sholat Tarawih empat rakaat sekali salam tetap sah, karena memiliki dasar dari praktik Rasulullah SAW. Hal ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha, yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan sholat malam dengan empat rakaat sekali salam, kemudian empat rakaat lagi, dan ditutup dengan witir tiga rakaat (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa sholat malam yang menjadi dasar Tarawih pernah dikerjakan Nabi dengan pola empat rakaat sekali salam.
Terkait pelaksanaan empat rakaat berturut-turut tanpa tasyahud awal, para ulama menjelaskan bahwa hal tersebut tidak membatalkan sholat. Sebab, dalam Mazhab Syafi'i, tasyahud awal hukumnya sunnah, bukan rukun atau wajib. Artinya, jika tasyahud awal ditinggalkan baik sengaja maupun tidak shalat tetap sah dan tidak perlu diulang. Kaidah fikih menyebutkan bahwa amalan sunnah jika ditinggalkan tidak membatalkan ibadah.
Dengan demikian, jika seseorang melaksanakan sholat Tarawih empat rakaat sekaligus tanpa duduk tasyahud awal, sholatnya tetap sah. Tidak ada larangan dalam syariat, dan tidak ada ulama yang menyatakan sholat tersebut batal. Perbedaan jumlah rakaat dan pola salam dalam Tarawih termasuk dalam ranah khilafiyah yang seharusnya disikapi dengan sikap saling menghormati.
Niat Sholat Tarawih
Berikut adalah niat sholat Tarawih dan Witir yang dikutip dari buku Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik: Dilengkapi dengan Jus Amma, Doa-Doa Sholat, dan Doa Doa Harian karya Titi Suwarni.
1. Niat sholat Tarawih sebagai Imam
أَصَلَّى سُنَّةَ التَّرَاوِيُحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءَ إِمَامًا للَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat Tarāwihi rakʼatayni mustaqbilal qiblati adā'an imāman lillāhi ta'ālā.
Artinya: "Aku menyengaja sembahyang sholat sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT."
2. Niat sholat Tarawih untuk Makmum
أَصَلَّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat Tarāwihi rakʻatayni mustaqbilal qiblati adā'an ma'mūman lillāhi taʻālā.
Artinya: "Aku menyengaja sembahyang sholat sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah SWT."
3. Niat Sholat Tarawih untuk Dilakukan secara Sendiri
أَصَلَّى سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءَ لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat Tarăwihi rakʻatayni mustaqbilal qiblati ada'an lillāhi taʻālā.
Artinya: "Aku menyengaja sembahyang sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai karena Allah SWT
Niat Sholat witir
Sholat Witir 1 Rakaat
أصلى سنة الوتر ركعة مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةٍ أَداء لله تعالى
Ushalli sunnatal witri rak'atan- (mustaqbilal qiblati ada'an) lillahi ta'ala.
Artinya: Aku berniat sholat sunnah Witir satu rakaat dengan menghadap kiblat, tunai, karena Allah SWT.
Sholat Witir 1 Rakaat Imam dan Makmum
أصلى سنة الوتر ركعة مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءَ (مَأْمُوْمَا إِمَامًا) الله تعالى
Ushalli sunnatal Witri rak'atan mustaqbilal qiblati ada'an (imamam/makmuman) lillahi ta'ala.
Artinya: Aku berniat sholat sunnah Witir satu rakaat dengan menghadap kiblat, tunai, (imam/makmum) karena Allah SWT.
Niat Sholat Witir 2 Rakaat Berjamaah
أَصَلَّى سُنَّةَ مِنَ الوِثْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءَ إِمَامًا لِلهِ تَعَالَى (مَأْمُوْمَا إِمَامًا) اللَّهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatam minal witri rak'ataini mustaqbilal qiblati ada'an (imaman/makmuman) lillaahhi ta'aalaa
Artinya: Aku niat shalat sunnah witir 2 rakaat (imam/ makmum) karena Allah ta'ala.
Niat Sholat Witir 3 Rakaat Bersamaan secara Sendiri
أصَلَّى سُنَّةَ الْوِثْرِ ثَلَاثَ رَكْعَاتِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءَ لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal witri tsalâtsa raka'âtin mustaqbilal qiblati adâ'an lillâhi ta'âlâ.
Artinya: Aku berniat sholat sunah witir tiga rakaat dengan menghadap kiblat, karena Allah Ta'ala.
Dengan memahami niat, jumlah rakaat, serta panduan pelaksanaan sholat Tarawih, umat Islam diharapkan dapat menjalankan ibadah ini dengan penuh keyakinan dan kekhusyukan.
Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(par/apl)
