Di Desa Kawengan, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, terdapat makam sosok bernama Simbah Genthiri atau juga dikenal dengan sebutan Maling Genthiri. Sosok ini legendaris bagi masyarakat setempat lantaran dianggap sebagai 'Robin Hood'-nya Blora, pencuri yang membagikan jarahannya kepada warga miskin.
Saat detikJateng berkunjung, langsung 'disambut' gapura yang menuju makam desa. Makam Maling Genthiri ini dibangun berbentuk joglo, dikelilingi dinding papan berbahan kayu. Di dalam joglo, makam Mbah Genthiri berbentuk persegi panjang, dibuat dengan bahan keramik. Dengan kelambu putih yang sudah lusuh menyelimuti makam.
Di bagian depan terdapat teras dengan lantai keramik. Ada juga 2 pohon kepoh berukuran besar menjulang tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tokoh masyarakat setempat, Mbah Soli (82), bercerita sosok Maling Genthiri diyakini berasal dari Tuban, Jawa Timur. Ia mengungkap Maling Genthiri kisahnya terjadi sekitar tahun 1860-an.
Dikatakan Soli, semasa muda, Genthiri adalah pribadi nakal yang suka mencuri.
"Nalika enome niku pendamelane niku nakal, maling (ketika muda itu perbuatannya itu nakal, maling," ucapnya dengan Bahasa Jawa saat ditemui di rumahnya, Senin (23/2/2026).
Namun, ada alasan kenapa Genthiri atau Kenthiri ini mencuri. Soli yang lahir tahun 1944 itu berujar, hasil mencuri Genthiri akan dibagikan kepada masyarakat miskin.
"Nek asal bandha dunya iku dingge nyukupi randha sing kurang pangan. Disukake anak yatim piatu sing isih wis cilik ditinggal bapake (kalau mendapat harta dunia itu dipakai mencukupi janda yang kurang pangan. Diberikan anak yatim piatu yang masih kecil sudah ditinggal ayahnya)," jelas Soli.
Makam Maling Genthiri berada di pemakaman umum Desa Kawengan, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Senin (23/2/2026). Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng |
Kejar Wanita yang Dicintai
Soli melanjutkan, Genthiri sempat diberi petuah oleh gurunya. Jika ingin menjadi maling yang hebat, dia harus memperistri perempuan bernama Dewi Sirep.
Padahal, Dewi Sirep sudah mempunyai suami bernama Jaka Selakon. Tak ayal, Genthiri terlibat duel maut melawan Jaka Selakon untuk memperebutkan Dewi Sirep.
"Jaka Selakon dipateni (dibunuh) Mbah Genthiri. Jasad diuncalke (dilempar) di desanya," ucap Soli.
Melihat suaminya tewas, Dewi Sirep berusaha kabur dari Maling Genthiri. Ia berlari ke arah barat, yang ternyata adalah daerah kekuasaan (wasesa) Genthiri. Karena itulah, daerah tersebut kini bernama Desa Seso yang masuk Kecamatan Jepon.
Pelariannya tiba di arah utara, sampai di sebuah bangunan berpagar besi, pager wesi dalam istilah Jawa. Sehingga kelak bernama Desa Gersi di Kecamatan Jepon.
"Melangkah pager wesi, terus meninggalkan petilasan di sana, anak pitu (7 turunan) dijadikan Desa Gersi," ucap Soli.
Pelariannya berlanjut ke sebuah lahan pisang yang bentuknya memanjang. Karena itu, daerahnya kini dikenal sebagai Desa Gedangdowo, masuk Kecamatan Jepon. Ketika di daerah barat, Dewi Sirep sempat bertempur melawan Maling Genthiri, di tempat yang kini dinamai Desa Tempuran.
"Tempur di sana. Kemudian meninggalkan petilasan, bumi situ kemudian dinamakan Desa Tempuran," terang dia.
Mbah Genthiri terus melakukan pengejaran cintanya. Sampai pada sebuah batu, Mbah Genthiri berdiri di atas batu (angkruk-angkruk). Daerah tersebut sekarang dinamakan Angkruk, sebuah dusun di Desa Jatirejo, Jepon.
Pengejaran Maling Genthiri terhadap Dewi Sirep terus berlanjut, Genthiri tiba di suatu tempat kemudian beristirahat karena hari akan gelap. Dalam istilah Jawa bermakna kedalon atau kewengen, artinya kemalaman atau menjelang malam.
"Terus lari ngidul (ke selatan), dugi mriku kewengen (sampai sana kemalaman). Mbesuk iki bumi karan kedalon/kewengen (kelak ini bumi dinamai Kedalon)," jelas Suli. Kedalon sendiri adalah dusun di Desa Jatirejo.
Dalam mengejar Dewi Sirep, Genthiri membawa dua pusaka, yakni Tombak Daradasih dan Gunting Beganjing. Maling Genthiri membacem kedua tombak itu di tempat yang kini bernama Desa Bacem.
Dalam pengejaran Maling Genthiri sempat terjadi perkelahian dengan Dewi Sirep. Soli menyebut perkelahian atau gelutan (dalam bahasa Jawa), dan menjadi daerah bernama Gelutan. Sekarang menjadi Dukuh Kolutan, Desa Kawengan, Kecamatan Jepon.
Makam Maling Genthiri berada di pemakaman umum Desa Kawengan, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Senin (23/2/2026). Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng |
Saat mengejar Dewi Sirep ke selatan, Genthiri bernasib sial. Ia terpeleset batang pohon pisang. Karena itulah, di sana ada pantangan bagi warga untuk menanam pisang, karena diyakini mendatangkan marabahaya jika nekat melakukannya.
"Daerah situ tidak boleh diiciri (ditanami) pohon pisang. Kalau diiciri pohon pisang ada akibatnya," jelasnya.
Dalam pengejaran Maling Genthiri, terdapat sebuah padasan (tempat wudu dari gentong tanah liat). Mbah Genthiri saat berlari tersandung padasan, seketika padasan hancur berkeping-keping. Serpihan itu dalam bahasa Jawa disebut Kereweng. Akhirnya tempat itu dinamakan Desa Kawengan, Kecamatan Jepon.
Tewas Terjerat Talas
Nasib sial terus terjadi hingga puncaknya Genthiri kehilangan nyawanya. Saat berlari di tempat yang banyak ditumbuhi talas, dia tersandung salah satu batangnya dan terjatuh. Robin Hood Blora itu pun meninggal.
"Kesrimpet 'gendruk wulung' (tumbuhan talas) itu nganti seda (sampai meninggal dunia)," ucap Soli.
Sampai sekarang warga setempat dilarang memiliki padasan dan dilarang menanam pohon talas. Ketika ada pohon talas, orang yang melihat langsung mencabut dan membuangnya. Padasan dan pohon talas menjadi pantangan.
"Sejak zaman dulu enggak ada yang punya padasan, talas juga. Kalau mau masak talas itu ya beli dari luar. Kalau ada tanaman talas, dicari, pasti ada yang sakit. Kalau ketemu pohon talas langsung dibuang," jelasnya.
Selain itu, di Desa Kawengan, ada pantangan menggelar ketoprak yang menampilkan lakon Maling Genthiri. Konon, jika dimainkan bakal mendatangkan bencana.
"Mesti enten akibate (pasti ada akibatnya). Kelompok (ketoprak) buyar (bubar) ya bisa, ketuanya tiba-tiba terjadi sesuatu ya bisa, atau yang punya rumah terkena sesuatu apa gitu juga bisa. Di desa sini enggak berani main cerita Mbah Genthiri," ucap dia.
Soli menyatakan, Genthiri merampok orang kaya, dan membagikan jarahannya kepada orang miskin.
"Dulu Mbah Genthiri ya bajingan. Penggaweane (kerjanya) ya maling, ngampak (merampok), begal. Tetapi tidak untuk pribadi," terang Soli.
Lebih lanjut, Soli berkata warga setempat selalu memperingati atau Haul Maling Genthiri setiap tanggal 1 Suro/Muharam.
Makamnya kerap menjadi tempat para peziarah dari berbagai daerah, biasanya mereka berziarah pada malam Jumat. Mendoakan Genthiri dan juga meminta keselamatan kepada Allah SWT.
"Ya minta keselamatan, minta seger waras. Yang penting ya seger waras itu. Biasanya malam Jumat, datang berdoa di sana (makam Mbah Genthiri)," jelasnya.
Lebih lanjut, Genthiri memiliki kuda yang digunakan sebagai kendaraan dan juga berperang. Kuda itu bernama Jaran Dawuk, berwarna klawu (Jawa: abu-abu). Biasanya Maling Genthiri menunggangi kuda berkeliling desa untuk mengumumkan akan gas deso atau sedekah bumi.
"Naik Jaran Dawuk keliling desa untuk ulem-ulem (undang-undang) kalau mau gas deso," pungkas Soli.
Dimintai konfirmasi terpisah, sejarawan Blora, Totok Supriyanto, menuturkan cerita Maling Genthiri cukup dikenal di kalangan masyarakat Kota Sate.
"Legenda itu memang marak di Blora, khsusnya di wilayah Blora bagian utara," jelasnya.
Menurutnya, Maling Genthiri di Blora hidup sekitar abad 19. Ia juga membenarkan tewasnya Genthiri akibat terjerat talas.
"Legenda Maling Genthiri sekitar tahun 1860-an. Mungkin pernah berjasa dalam perjuangan di sekitar hulu Sungai Lusi. Kematiannya karena keserimpet talas," jelasnya.
"Itu era kolonial Belanda. Cerita tutur dari mulut ke mulut. Itu sebagai khasanah cerita lokal yang ada. Dari mulut ke mulut terus kemudian diangkat menjadi lakon ketoprak," tambah Totok.

