Sosok Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Iran yang Tewas dalam Serangan AS-Israel

Sosok Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Iran yang Tewas dalam Serangan AS-Israel

Ulvia Nur Azizah - detikJateng
Minggu, 01 Mar 2026 12:22 WIB
Iranian Supreme Leader Ali Khamenei speaks during a televised speech in Tehran, Iran, September 23, 2025. (Reuters)
Ali Khamenei. Foto: dok. Reuters
Solo -

Dunia dikejutkan dengan kabar tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Media pemerintah Iran telah mengonfirmasi bahwa pria berusia 86 tahun tersebut terbunuh di kantornya akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Kematian sosok yang telah berkuasa selama 36 tahun ini menandai berakhirnya sebuah era panjang di Republik Islam Iran.

Presiden AS, Donald Trump, melalui platform Truth Social, menyebut serangan ini sebagai upaya untuk melumpuhkan program nuklir Iran.

"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam Sejarah, telah mati," tulis Trump pada Sabtu (28/2/2026) di Truth Social setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari Al Jazeera, pemerintah Iran kini menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Di tengah duka tersebut, ketidakpastian besar menyelimuti masa depan politik dan keamanan di Timur Tengah.

Mari kita mengenal sosok Ayatollah Ali Khamenei yang baru saja tewas dengan menyimak penjelasan berikut ini, detikers!

ADVERTISEMENT

Poin utamanya:

  • Ayatollah Ali Khamenei tewas di kantornya pada 28 Februari 2026 akibat serangan udara gabungan AS dan Israel di tengah ketegangan program nuklir.
  • Selama 36 tahun berkuasa, ia membangun jaringan milisi regional dan menjadikan IRGC sebagai pilar utama pertahanan serta ekonomi Iran.
  • Kematian Khamenei memicu masa berkabung nasional selama 40 hari dan spekulasi mengenai pembentukan dewan khusus untuk transisi kekuasaan.

Ayatollah Ali Khamenei: Arsitek Keamanan Negara yang Tak Tergoyahkan

Ayatollah Ali Khamenei mulai menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi pada tahun 1989, menggantikan pendiri revolusi, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Meskipun Khomeini adalah pencetus revolusi, banyak pakar berpendapat bahwa Khamenei-lah yang sebenarnya membangun fondasi negara Iran modern. Dikutip dari The Conversation, ia memiliki kekuasaan yang jauh lebih absolut dibandingkan pendahulunya.

Selama tiga dekade, Khamenei berhasil memperluas pengaruh Iran ke seluruh kawasan melalui strategi poros perlawanan. Ia mendanai dan melatih berbagai milisi seperti Hezbollah di Lebanon, Hamas di Gaza, hingga kelompok Houthi di Yaman. Strategi ini dirancang untuk menantang dominasi Arab Saudi dan mengancam keberadaan Israel tanpa harus terlibat dalam perang terbuka secara langsung.

Di bawah kepemimpinannya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tumbuh menjadi kekuatan politik dan ekonomi yang luar biasa. IRGC bukan hanya sekadar militer, melainkan alat represi yang efektif untuk menjaga kelangsungan rezim dari segala bentuk ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.

Memerintah dengan Tangan Besi dan Ideologi Anti-Barat

Pandangan dunia Khamenei sangat dipengaruhi oleh kebencian mendalam terhadap Amerika Serikat, yang ia juluki sebagai 'Setan Besar'. Kebijakan luar negerinya yang keras, terutama terkait pengayaan nuklir, membuat Iran terisolasi secara internasional. New York Times melaporkan bahwa meskipun ia sempat menyetujui kesepakatan nuklir 2015, kepercayaan Khamenei terhadap Barat hancur total setelah AS menarik diri secara sepihak pada 2018.

Di dalam negeri, Khamenei memerintah dengan tangan besi. Ia tidak memberi ruang bagi reformasi moderat. Aspirasi rakyat sering kali dilabeli sebagai hasutan yang diatur oleh pihak asing. Puncaknya terlihat pada penanganan protes besar 'Women, Life, Freedom' tahun 2022 dan demonstrasi ekonomi pada Januari 2026.

Laporan Al Jazeera menyebutkan bahwa dalam serangan terbaru yang menewaskan Khamenei, sedikitnya 201 orang tewas di 24 provinsi, termasuk korban jiwa di sekolah-sekolah. Namun, bagi Khamenei, kekerasan terhadap demonstran di masa lalu dianggap perlu demi menjaga stabilitas negara. Hal ini membuat legitimasinya di mata rakyat kelas menengah perkotaan terus merosot hingga akhir hayatnya.

Detik-Detik Terakhir dan Serangan Brutal

Serangan yang menewaskan Khamenei merupakan bagian dari operasi militer besar-besaran. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengklaim bahwa banyak tokoh senior, termasuk komandan Garda Revolusi dan pejabat program nuklir, telah dieliminasi. Donald Trump menegaskan bahwa teknologi pelacakan canggih membuat Khamenei tidak mampu menghindar dari target.

Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengecam keras serangan ini sebagai kejahatan perang karena menargetkan area berpenduduk sipil di kota-kota besar. Sebaliknya, pihak AS dan Israel berdalih bahwa aksi ini legal demi mencegah Iran memiliki senjata nuklir yang mengancam keamanan global.

Masa Depan Iran yang Penuh Teka-Teki

Kematian Khamenei meninggalkan lubang besar dalam struktur kekuasaan Iran. Sebagai pemegang otoritas tertinggi atas militer, peradilan, dan pemerintahan, suksesi kepemimpinannya akan sangat kompleks. Barbara Slavin dari Stimson Center mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Iran kemungkinan akan membentuk dewan khusus untuk menjalankan roda pemerintahan sementara.

Berbeda dengan pemakaman Ayatollah Khomeini pada 1989 yang dihadiri jutaan pelayat yang histeris, suasana kali ini mungkin akan berbeda. Analisis dari The Conversation menunjukkan bahwa banyak warga Iran yang kini merasa benci terhadap sistem ulama yang dianggap korup dan represif. Perpecahan antara pendukung setia rezim dan rakyat yang menginginkan perubahan menjadi tantangan terbesar bagi siapa pun yang akan menggantikan posisi sang Ayatollah.

Kini, Iran berada di persimpangan jalan. Apakah kepergian Khamenei akan membawa keruntuhan rezim sesuai harapan Donald Trump, atau justru memicu eskalasi perang regional yang lebih luas? Yang pasti, jatuhnya sang pemimpin tertinggi telah mengubah peta politik Timur Tengah selamanya. Demikian, semoga bermanfaat!

FAQ Ayatollah Ali Khamenei

1. Apakah Ayatollah Ali Khamenei keturunan Nabi Muhammad?

Ya, dalam tradisi Syiah, Ayatollah Ali Khamenei dianggap sebagai seorang Sayyid. Hal ini ditandai dengan sorban hitam yang dikenakannya, yang secara simbolis menunjukkan bahwa ia merupakan keturunan dari garis silsilah Nabi Muhammad SAW melalui Imam Musa al-Khadzim.

2. Apakah Khomeini masih hidup?

Tidak. Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Revolusi Islam Iran, telah wafat pada tahun 1989. Setelah kematiannya, posisi Pemimpin Tertinggi Iran kemudian digantikan oleh Ayatollah Ali Khamenei yang menjabat hingga kematiannya di tahun 2026 ini.

3. Siapa pemegang kekuasaan tertinggi di Iran?

Pemegang kekuasaan tertinggi di Iran adalah Rahbar atau Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader). Posisi ini memegang otoritas absolut atas militer, sistem peradilan, kebijakan luar negeri, dan dapat membatalkan keputusan presiden. Setelah kematian Khamenei, kekuasaan kemungkinan akan dijalankan oleh dewan sementara hingga pemimpin baru dipilih.




(par/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads