Luapan Sungai Dengkeng dan anak-anak sungainya di Klaten tidak hanya merendam permukiman tapi juga sawah. Total sampai hari ini 390 hektare lahan padi mayoritas siap panen terendam.
Data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten, luas lahan sebanyak itu tersebar di beberapa kecamatan. Yaitu Kecamatan Cawas, Trucuk, Gantiwarno dan Bayat.
Untuk Kecamatan Cawas terdapat di Desa Cawas, Japanan, Tlingsing, Pogung, Balak, Tirtomarto, Baran, Mlese dan Plosowangi yang mencapai 232 hektare. Di Kecamatan Trucuk yang terdampak ada 22 hektare di Desa Gaden dan Planggu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Kecamatan Gantiwarno tersebar di Desa Ngadong, Gesikan, Kragilan, Sawit, dan Katekan dengan luas lahan 94,775 hektare. Untuk Kecamatan Bayat seluas 42 hektare di Desa Janbakan, Ngerangan, Wiro, Tawangrejo, dan Tegalrejo.
"Ini data sementara yang masuk ke dinas. Kita sambil menunggu perkembangan sampai besok apakah tanaman termasuk kategori puso, atau masih bisa diselamatkan," terang Kepala DKPP Klaten, Iwan Kurniawan kepada detikJateng, Kamis (5/3/2026) siang.
Menurut Iwan, pendataan di lapangan masih terus dilakukan. Sementara soal bantuan benih sejauh ini belum ada.
"Dari dinas belum ada stok baik bantuan benih, maupun pupuk. Ini baru kita ajukan ke pusat," imbuh Iwan.
Pantauan detikJateng, kondisi terparah berada di Desa Cawas karena tanggul jebol. Padi siap panen masih terendam meskipun air di permukiman sudah surut.
Padi sebagian ambruk terkena arus air. Sebagian padi tertimpa materi sampah plastik dan kayu, bahkan ada kursi yang sampai ke tengah lahan padi.
Sekdes Cawas, Fauzi menyatakan lahan kas desa untuk para perangkat desa juga jadi korban. Padahal padi usianya siap panen.
"Ada yang 40 hari tapi banyak yang 90 hari atau siap panen kelep (tenggelam). Ada yang sudah laku tapi ada yang belum, tapi untuk yang mati paling 5 persen karena banyak siap panen," ungkap Fauzi kepada detikJateng.
"Yang ambruk padinya yang di tepi jalan karena kena arus. Yang di tengah sawah aman," sambung Fauzi.
Sebelumnya diberitakan, hujan deras sejak Selasa (3/3) sore memicu terjadinya luapan Sungai Dengkeng beserta anak sungainya. Air naik ke permukiman di Kecamatan Cawas, Bayat, Trucuk dan Wedi.
"Air mulai naik ke tanggul utara dan selatan Sungai Dengkeng sekitar pukul 21.15 WIB. Semakin malam semakin deras," ungkap Margono warga sekitar bendungan dan jembatan Cawas, Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas kepada detikJateng, Rabu (4/3) pagi.
Dijelaskan Margono, air lebih banyak melimpas dari tanggul ke selatan di Desa Cawas, Kecamatan Cawas. Air masuk permukiman dan jalan raya.
"Air di jalan raya, jadi Desa Cawas sekitar pasar belum bisa dilewati saat ini (pukul 04.00 WIB). Kalau tempat saya (utara jembatan Cawas) relatif aman," jelas Margono.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Klaten, Syahruna, menjelaskan hujan intensitas sedang-lebat terjadi pada hari Selasa 3 Maret 2026 sekitar pukul 16.30-23.00 WIB. Sampai pukul 02.46 WIB hari ini di Kecamatan Trucuk ada lima desa terendam.
"Ada lima desa, Desa Kalikebo, Trucuk, Karangpakel, Gaden, dan Planggu. Ketinggian air bervariasi 20 sentimeter sampai satu meter," terang Syahruna saat diminta konfirmasi detikJateng.
Di Kecamatan Cawas, sebut Syahruna, ada beberapa desa terdampak. Yaitu Desa Cawas, Plosowangi, Baran, Japanan dan Tlingsing.
"Di Cawas ada Desa Cawas, Plosowangi, Baran, Japanan dan Tlingsing. Di Kecamatan Bayat meliputi Desa Paseban, Kebon dan Wiro dengan ketinggian bervariasi dan di Di Kecamatan Wedi ada Desa Melikan yang tergenang," lanjut Syahruna.
(alg/apl)