Masjid Raya Sheikh Zayed Solo mengumumkan pemenang lomba desain keranda jenazah. Desain keranda yang menang ini mudah dibongkar pasang.
Juara pertama lomba desain tersebut yakni Galang Firman dari PT MAK. Direktur operasional Masjid Raya Sheikh Zayed, Munajat mengatakan, juara desain keranda jenazah dilihat dari ergonomis dan memudahkan masyarakat.
"Saya lihat desain juara satu ini nilai ergonomisnya sangat tinggi. la menjawab semua poin tadi dengan nilai tinggi," katanya dihubungi detikJateng, Jumat (13/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain nilai dari nilai ergonomisnya, Munajat menyebut bahwa produksinya lebih mudah, dan sistem knockdown atau bongkar pasang lebih mudah.
"lihat nilainya tinggi karena mungkin produksinya lebih mudah, variasi materialnya sedikit, dan sistem knockdown-nya gampang. Jadi nilainya komprehensif. Juri sudah membayangkan kalau ini diproduksi akan mudah atau tidak," ujarnya.
Baca juga: Ada OTT KPK di Cilacap |
Lebih lanjut, Munajat mengatakan bahwa ada tiga juri yang menilai langsung desain keranda jenazah tersebut. Tiga juri tersebut, kata Munajat dua dari PT Dtech Enginering dan satu dari MAVI (Masyarakat Vokasi Indonesia).
Munajat mengatakan bahwa lomba diikuti oleh sekitar 250 peserta ini telah menghasilkan sepuluh besar pemenang.
"Diambil sepuluh besar, aslinya kemarin hanya enam, tapi karena pesertanya banyak, hadiahnya kita tambah," ucapnya.
Dirinya mengatakan bahwa, lomba desain keranda jenazah muncul karena sudah hampir 1.300 tahun tidak ada perubahan yang signifikan.
"Permasalahannya kan sudah kita sampaikan, bahwa keranda jenazah itu sudah 1.300 tahun hampir tidak ada inovasi. Kalaupun ada inovasi, sifatnya parsial," ucapnya.
Ia menjelaskan, aspek utama penilaian adalah ergonomis. Dalam tradisi Islam, jenazah harus diperlakukan dengan penuh penghormatan seperti layaknya orang hidup.
"Keranda sebelumnya cenderung flat (datar). Jika jenazah sedang sakit, misalnya diabetes, guncangan saat diangkat bisa menyebabkan lecet atau berdarah. Desain baru ini harus meminimalisir guncangan itu," jelasnya.
Selain kenyamanan jenazah, faktor tinggi badan pembawa yang berbeda-beda juga menjadi perhatian. "Biasanya yang mengangkat tingginya beda-beda, ada keluarga hingga tetangga. Desain harus memudahkan mereka," tambahnya.
Tak hanya soal kenyamanan, desain yang terpilih juga harus memenuhi unsur feasibility atau kelayakan produksi. Juri menghindari desain yang menggunakan material terlalu mewah seperti titanium yang sulit didapat.
"Kami ingin desain ini bisa diproduksi oleh bengkel las kecil di masjid atau masyarakat di seluruh pelosok Indonesia. Bahannya harus tersedia di toko besi atau online," tegas Pak Munajat.
Setelah pengumuman, para pemenang telah sepakat untuk menghibahkan hak cipta desain mereka. Saat ini, desain tersebut sedang dalam proses pendaftaran ke Kemenkumham agar tidak diklaim secara sepihak.
"Pembuatnya sudah membuat surat pernyataan bahwa desain ini disedekahkan untuk umat. Jadi nanti milik umum. Masyarakat silakan memproduksi atau bahkan memperbaiki desainnya. Kami ingin mendorong masyarakat agar lebih senang berinovasi," pungkasnya.
Baca juga: Jokowi Maafkan Rismon Sianipar, Tapi... |
(alg/aku)
