Sosok Mbah Lancing dikenal sebagai keturunan Brawijaya V dan seorang wali yang menyebarkan ajaran Islam di pesisir selatan Jawa. Kiprahnya dalam syiar menyebarkan Islam, membuat sosoknya sangat disegani dan dihormati.
Menurut juru kunci makam Mbah Lancing, Kamdi, nama Mbah Lancing itu merupakan nama panggilan dari masyarakat sekitar karena dia senang menggunakan kain batik untuk bebedan atau celana yang disebut juga dengan lancing. Mbah Lancing juga dikenal sebagai sosok wali penyebar agama Islam di pesisir selatan Jawa.
"Mbah Lancing itu wali, penyebar islam di Yogyakarta sampai Kebumen dan sekitarnya. Dikasih nama Mbah Lancing karena beliau Lancingan atau pakai celana Lancing," kata juru kunci makam, Kamdi (75) saat ditemui detikjateng, Senin (9/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat sejarah Kebumen, Ravie Ananda saat dihubungi detikjateng menjelaskan nama Mbah Lancing tercatat di buku silsilah raja-raja sebagai salah satu anak Prabu Brawijaya V dengan nama Harya Surengbala alias Jaka Lancing. Sebelum menyebarkan ajaran Islam, Jaka Lancing menimba ilmu di tempat Kyai Adin Gesikan dan bertapa di Gunung Geong.
"Di buku silsilah pangiwa (silsilah raja-raja) dari zaman sebelum Majapahit hingga Mataram Islam, di dalamnya ditulis salah satu anak Brawijaya V ada yang bernama Harya Surengbala alias Jaka Lancing. Sejak kecil dititipkan pada Kyai Adin Gesikan Tanah Panjer (Kebumen saat ini) untuk menimba ilmu. Terus dia bertapa di Gunung Geong (perbukitan Kebumen utara). Nah setelah itu baru di masa dewasanya hingga tuanya berada di Mirit," kata Ravie.
Ravie menambahkan, Jaka Lancing juga merupakan adik dari Raden Fatah, yakni pendiri dan Sultan pertama Kasultanan Demak. Jaka Lancing diketahui merupakan anak ke-50 Prabu Brawijaya V dari istri selir. Selain memiliki nama Harya Surengbala ia juga dikenal sebagai Panembahan Madiretna alias Raden Banyakpatra.
"Dengan kata lain Jaka Lancing adalah adik dari Raden Fatah tapi beda ibu. Saudara lainnya ada Jaka Wirun (makamnya di Desa wirun Kutoarjo utara). Dalam sejarah pangiwa, anak Brawijaya V ada banyak sekitar 114 dengan istri yang banyak juga. Jaka Lancing anak ke-50 dari istri selir Brawijaya V. Nama lain Jaka Lancing adalah Harya Surengbala alias Panembahan Madiretna alias Raden Banyakpatra," pungkasnya.
Peran utama Mbah Lancing dalam menyebarkan Islam diyakini dilakukan melalui pendekatan sosial. Pola dakwahnya mirip dengan banyak tokoh Islam awal di Jawa, yaitu dengan membangun hubungan dengan warga pesisir dan petani setempat. Ajaran Islam dikenalkan melalui teladan hidup sehari-hari, menggabungkan dakwah dengan nilai budaya Jawa agar mudah diterima masyarakat.
Menurut sejumlah sumber lokal, Mbah Lancing bersama Mbah Kyai Marwi ikut merintis permukiman awal di Desa Mirit. Dari situ dakwah berkembang perlahan ke wilayah pesisir selatan atau kawasan Urut Sewu.
Dalam cerita lisan masyarakat Mirit, Mbah Lancing sering disebut bersama Mbah Marwi sebagai tokoh awal yang ikut membangun kehidupan sosial-keagamaan desa. Mbah Lancing lebih dikenal sebagai figur spiritual dan dakwah, sedangkan Mbah Marwi disebut membantu pembukaan wilayah permukiman.
Artinya, perintisan desa saat itu bukan langsung membentuk desa administratif seperti sekarang, tetapi dimulai dari kelompok hunian kecil yang berkembang perlahan. Keduanya dianggap meletakkan dasar kehidupan Islam masyarakat pesisir.
Mbah Lancing sendiri diceritakan tidak menikah hingga akhir hayatnya. Sebagian warga meyakini Mbah Lancing memilih hidup sederhana dan lebih mengutamakan tugas dakwah, membimbing masyarakat awal, membuka wilayah permukiman, mengajarkan Islam secara langsung dan hidup dekat dengan masyarakat tanpa banyak urusan keluarga.
"Namanya Mbah Lancing atau Mbah Bayi, sedane dereng krama (meninggalnya belum menikah)," kata Kamdi.
Dalam tradisi tokoh agama Jawa, ada sosok-sosok yang memang dikenal sangat fokus pada pengabdian spiritual. Dalam budaya Jawa-Islam, beberapa tokoh leluhur digambarkan menjalani laku prihatin, yaitu hidup sederhana, menahan diri, dan tidak mengejar kehidupan duniawi.
Ini bukan berarti 'menjaga kesucian' dalam arti harus tidak menikah, tetapi lebih kepada mengurangi keterikatan dunia, memperkuat ibadah, menjaga konsentrasi pada tugas sosial dan spiritual.
Sosoknya yang berjasa dan dianggap menjadi panutan di Desa Mirit, membuat warga desa menghormati hingga meneladani Mbah Lancing. Bahkan, hingga kini masyarakat desa setempat kerap berziarah dan ngalap berkah di makam Mbah Lancing.
(afn/apu)