Pihak Paku Buwono XIV Purbaya merespons rencana revitalisasi dan pembukaan untuk umum Keraton Kilen atau Kulon. Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay menyebut, rencana pembukaan Keraton Kulon harus seizin PB XIV Purbaya.
"Kalau masalah Keraton Kilen itu bagi kami senang-senang saja untuk dibersihkan kemudian direvitalisasi, tetapi juga harus mengingat manfaatnya untuk apa. Karena sebelum-sebelumnya ketika Keraton Kilen itu selesai dibangun juga dikosongkan kemudian terbengkalai," katanya ditemui di Keraton Solo, Selasa (17/3/2026).
Rumbay membantah bahwa Keraton Kulon terbengkalai pada era Paku Buwono XIII. Menurutnya, sejak Paku Buwono XII, Keraton Kulon tidak dipergunakan hingga terbengkalai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi isu yang beredar itu terbengkalai dan rusak semenjak kepemimpinan PB XIII itu tidak benar, karena memang dari ketika PB XII pun Keraton Kilen karena tidak dipergunakan dan tidak dihuni jadi memang sudah terbengkalai dan tidak terawat," ungkapnya.
Disinggung mengenai rencana pembukaan Keraton Kulon untuk masyarakat umum, Rumbay menyebut tidak pas. Menurutnya, Keraton Kulon masuk wilayah privasi Keraton Solo.
"Ya bagaimana ya, ini kan wilayah keputren ya sebenarnya, wilayah privasi keraton. Terutama Keraton Kilen itu kan dulu tempat tinggal raja PB X dengan permaisurinya yang dari Hamengkubuwono. Jadi agak kurang pas menurut saya kalau dibuka untuk umum," terangnya.
Menurutnya apabila hal tersebut akan dilaksanakan, harus seizin Sri Susuhunan Paku Buwono Empat Belas atau Paku Buwono XIV Purbaya.
"Seharusnya nanti harus ada kajian dan sekali lagi harus seizin Sinuwun Pakubuwono XIV (Purbaya), karena selama yang kami tahu untuk pembukaan dan lain sebagainya yang dikerjakan sekarang tanpa seizin beliau," pungkasnya.
Tedjowulan Bersihkan Keraton Kulon
Diberitakan sebelumnya, kondisi bangunan Keraton Kilen atau Keraton Kulon yang berada di dalam kompleks Keraton Solo saat ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak semak-semak dan pohon besar yang menutupi sejumlah bangunan di dalamnya.
Oleh karena itu, Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan bersama Lembaga Dewan Adat (LDA) melakukan bersih-bersih Keraton Kulon. Aksi bersih-bersih ini juga dibantu anggota TNI dari Brigif 6 yang mengerahkan 24 personel. Pihak Balai Pelestarian Kebudayaan X juga hadir untuk melakukan pendataan di Keraton Kulon.
"Gusti Tedjowulan mengerahkan para abdi dalem dibantu sekitar 24 anggota Kostrad TNI dari Brigif 6 Surakarta," kata juru bicara KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, Kanjeng Pakoenegoro saat ditemui di sela bersih-bersih Keraton Kulon.
Pakoenegoro menyebut bersih-bersih Keraton Kulon merupakan perintah dari KGPH Panembahan Agung Tedjowulan untuk memulai revitalisasi. Ia menyebut, setelah Sanggabuwana, revitalisasi dilanjutkan pada Keraton Kulon.
"Ini sinergi dengan rencana revitalisasi tahap berikutnya setelah Panggung Sanggabuwana dan Museum yang masih berkelanjutan, akan berlanjut revitalisasi itu melalui pintu masuk Keraton Kilen yang mudah diakses oleh masyarakat," ujarnya.
Dengan adanya revitalisasi di Keraton Kulon, diharapkan ke depan bisa menjadi destinasi wisata baru di Keraton Solo. Menurutnya, kondisi di Keraton Kulon cukup memprihatinkan dengan adanya pohon setinggi orang dewasa.
"Nanti harapannya wilayah pariwisata di Keraton Surakarta Hadiningrat akan meluas tidak hanya di wilayah timur saja, tapi juga di wilayah barat. Nah, upaya itu dimulai dengan pembersihan. Kita bisa lihat sendiri bagaimana kondisinya yang sudah cukup sangat bahkan memprihatinkan, rumput setinggi orang dewasa, pohon-pohon tidak terawat, kita bersihkan tahap pertama," ungkapnya.
(aku/afn)