Meriahnya Pawai Ogoh-ogoh Diiringi Musik Ebeg di Banyumas

Meriahnya Pawai Ogoh-ogoh Diiringi Musik Ebeg di Banyumas

Anang Firmansyah - detikJateng
Rabu, 18 Mar 2026 12:37 WIB
Ogoh-ogoh berbentuk kerbau dan babi diarak keliling Desa Klinting, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Rabu (18/3/2026).
Ogoh-ogoh berbentuk kerbau dan babi diarak keliling Desa Klinting, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Rabu (18/3/2026). Foto: Anang Firmansyah/detikJateng
Banyumas -

Umat Hindu di Desa Klinting, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, menyambut Hari Suci Nyepi dengan penuh khidmat sekaligus semarak. Rangkaian perayaan yang sarat makna spiritual ini tidak hanya menjadi momen refleksi diri, tetapi juga menghadirkan kebersamaan lintas warga melalui tradisi arak-arakan ogoh-ogoh.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Banyumas, Slamet, menjelaskan rangkaian Nyepi diawali dengan upacara Melasti yang telah dilaksanakan pada 15 Maret 2026 di Pantai Sodong. Prosesi ini dimaknai sebagai bentuk pembersihan lahir dan batin.

"Melasti itu bagaimana kita melakukan pembersihan, baik manusianya maupun sarana-prasarana yang digunakan untuk persembahyangan di pura," kata Slamet saat ditemui wartawan, Rabu (18/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah Melasti, umat Hindu melanjutkan dengan upacara Pengrupukan yang digelar menjelang Nyepi. Dalam prosesi ini, berbagai simbol menyeramkan dihadirkan sebagai representasi sifat buruk manusia.

ADVERTISEMENT

"Pengrupukan itu bagian dari penyeimbang. Disimbolisasikan dengan sifat angkara murka, wujud yang menyeramkan. Itu simbol materialistik manusia yang harus dinetralisir," jelasnya.

Menurut Slamet, sifat-sifat negatif, seperti iri hati, kesombongan, dan kemarahan menjadi hal yang perlu ditekan agar manusia dapat menyambut tahun baru dengan damai dan seimbang.

"Harapannya, saat menyambut tahun baru, kita memiliki makna kedamaian dan keseimbangan," ujarnya.

Rangkaian berikutnya adalah Tawur Agung Kesanga yang digelar di Pura Pedalaman Giri Kendeng sebagai bentuk penetralisir energi negatif sekaligus pembersihan alam semesta. Prosesi ini kemudian dilanjutkan dengan Catur Brata Penyepian saat Hari Nyepi.

Dalam momen ini, umat Hindu menjalani keheningan total. Aktivitas dihentikan, lampu dipadamkan, dan suasana dibuat sunyi untuk memberi ruang refleksi.

"Yang menarik dari Nyepi adalah keheningan. Bukan hanya manusia, tetapi alam juga perlu berhenti sejenak," tutur Slamet.

Ia menambahkan, selama setahun, berbagai energi negatif dari pikiran dan perkataan manusia kerap mendominasi kehidupan. Melalui Nyepi, semua itu dihentikan sementara agar tercipta ketenangan.

"Dari Nyepi itu diberhentikan sejenak agar nanti bisa lahir menjadi lebih tenteram dan damai," imbuhnya.

Salah satu tradisi yang paling menarik perhatian warga adalah pawai ogoh-ogoh. Ornamen kerbau yang menusuk babi dengan tinggi dua meter ini memiliki makna tersendiri.

"Ogoh-ogoh itu simbolisasi sifat manusia. Ada buta dan kala. Buta itu materi, kala itu waktu. Artinya, manusia sering dikuasai materi seiring waktu," terang Slamet.

Ia mencontohkan salah satu ogoh-ogoh yang diarak adalah sosok Buta Mahesasura yang melambangkan keserakahan. Selain itu, terdapat pula simbol babi yang menggambarkan sifat malas.

"Malas itu harus kita perkecil supaya manusia bisa menghasilkan sesuatu dengan semangat," katanya.

Di Desa Klinting sendiri, jumlah umat Hindu tercatat sekitar 200 jiwa. Pembuatan ogoh-ogoh dilakukan secara gotong royong oleh warga.

"Ini kolektif, kita buat bersama-sama," ucap Slamet.

Menariknya, arak-arakan ogoh-ogoh di Banyumas memiliki nuansa lokal yang khas. Iringan musik yang digunakan bukan gamelan Bali, melainkan musik tradisional banyumas berupa ebeg.

Kehadiran upacara ini juga menjadi tontonan menarik bagi masyarakat sekitar. Warga dari berbagai latar belakang, termasuk yang beragama Muslim, tampak antusias menyaksikan arak-arakan dari pinggir jalan.

"Kalau di sini pakai musik Jawa. Itu untuk membangkitkan semangat. Dulu bahkan hanya pakai kentongan," jelasnya.

Pawai ogoh-ogoh tersebut menempuh jarak sekitar 5 kilometer dengan berjalan kaki mengelilingi desa. Sepanjang perjalanan, arak-arakan diiringi tarian dan musik tradisional.

"Setelah diarak kemudian diakhiri dengan upacara Pengrupukan, yaitu ogoh-ogoh dibakar di lapangan sini," pungkasnya.




(par/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads