Sejumlah warga di Dusun Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, terlihat merapalkan doa di pinggir pantai. Mereka sebenarnya sedang beziarah ke makam saudara yang kini tidak lagi nampak akibat tenggelam oleh abrasi.
Pantauan detikJateng di lokasi pada Kamis (19/3/2026) sore, mulanya tampak sepasang suami istri yang duduk berdempetan di tepi pantai. Mereka adalah Imron (51) dan Rusmiyanti (51) warga Muktiharjo Kidul, Pedurungan, Kota Semarang.
Imron yang mengenakan jaket dan celana, lengkap dengan peci dan Rusmiyanti yang mengenakan gamis khusyuk membaca Al-Quran. Tempat mereka membaca doa itu bukan pantai pasir yang indah, tapi tumpukan berbagai macam sampah yang terkumpul akibat ombak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari utara pantai, tidak terlihat satu makam pun maupun patok, semuanya terendam air laut. Hanya hamparan laut, sebuah pulau kecil, dan berlonjor-lonjor tiang listrik.
Jika diukur melalui Google Earth, makam yang tenggelam di laut berjarak sekitar 500 meter dari pantai. Namun, doa tetaplah doa, tetap dirapal tak terbatas jarak.
"Di mana pun kita berdoa, pasti akan sampai. Tapi kan setidaknya kita mendekat (ke makam yang telah tenggelam), kalau bisa. Kalau tidak bisa, kan kita (berdoa) di rumah," kata Imron saat ditemui usai berziarah, Kamis (19/3/2026).
Imron menyebut, terdapat setidaknya belasan sanak saudaranya yang tenggelam akibat abrasi. Makam-makam tersebut disebutkan mulai tenggelam sejak tahun 2000-an.
"Tadinya 2010 masih bisa naik perahu (untuk melihat makam), tapi sekarang sudah tidak bisa," timpal Rusmiyanti.
Imron mengatakan mendiang ayahnya yang dikubur di sana wafat pada sekitar 2002. Ia dan Rusmiyanti rutin berziarah jika memiliki waktu luang seperti akhir pekan.
"Sudah di sini (berdoa di pantai) sejak lima tahunan," ucap pria yang sehari-harinya bekerja di bengkel itu.
Suasana warga berziarah di pinggir pantai kawasan Tambakrejo, Tanjung Mas, Semarang Utara, Kota Semarang. Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng |
Mengetahui kondisi makam sanak saudaranya membuat Imron kecewa. Sebab dia dan istrinya tidak dapat lagi melihat dan merawat makam sanak saudaranya.
"Kalau kita bisa dekat, mau ngopeni kan enak. Ada rumput mungkin dicabuti atau gimana gitu. Kecewa, memang kecewa. Tapi ya memang keadaan gimana, Harus kita pasrahkan ke yang di atas," ungkapnya.
Imron merasa, berdoa untuk mendiang sanak saudaranya, terutama orang tua, begitu penting. Sebab, dia percaya, orang tua merupakan "pusakanya".
"Karena orang tua, seperti kalau saya itu, pusaka yang ampuh," ungkapnya.
Sebelum terdampak abrasi, Rusmiyanti menambahkan, dirinya sering merawat makam keluarganya seperti mencabut rumput dan menabur bunga. Kini, dirinya hanya menabur bunga di laut.
"Sekarang tabur bunga di laut, juga sebagai tanda sudah ada orang di sini," katanya.
Sementara itu, warga asal Tambaklorok, Semarang Utara, Endang Setiasari (36) dan Suyadi (51) juga tampak berziarah di pantai kawasan Tambakrejo. Mereka merupakan saudara kandung yang berziarah ke makam keluarga mereka yang terendam air laut.
"Makam nggak ada (tenggelam), tapi kan ada patoknya di situ," ungkap Suyadi menjelaskan alasannya dan adiknya berziarah.
"Kasihan kalau nggak didoain. Walaupun sudah hilang semua, kan kasihan," timpal Endang.
Endang mengatakan dirinya dan kakaknya tetap menabur bunga. Hal itu dilakukan lantaran tidak dapat lagi merawat makam keluarganya.
"Tabur kembang ke laut aja bisanya. Ya, mau gimana lagi, kita nggak bisa ngapa-ngapain karena sudah tenggelam semua, hanya sisa-sisa saja yang di situ," kata Endang.
Sementara itu, Suyadi menambahkan, sebelumnya keluarganya berziarah dengan menggunakan perahu. Namun, kini sudah tidak memungkinkan lagi.
"Biasanya naik kapal," katanya.
(alg/alg)
