Nama besar Kota Solo tak terlepas dari perjuangan Pahlawan Nasional Letnan Kolonel Slamet Riyadi. Untuk mengenang jasanya sebagai pahlawan di Kota Bengawan, namanya diabadikan di jalan utama Kota Solo.
Perjuangan Slamet Riyadi dimulai sejak awal proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ketika berebut senjata dan penyerahan kedaulatan Kota Solo dari Jepang. Sejak saat itu, namanya menjadi populer di kalangan warga Solo.
"Beliau mulai tercatat namanya muncul dalam sejarah perjuangan kemerdekaan itu sejak awal proklamasi ketika perebutan senjata dan penyerahan kedaulatan dari Jepang di Kota Solo, yang saat itu terpusat di kantor Kempeitai di Jalan Slamet Riyadi sekarang, tepatnya di bekas Hotel Cakra," kata Sejarawan sekaligus Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni, kepada detikJateng, Senin (9/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah perjuangannya melawan Jepang, dibentuklah angkatan bersenjata Pemerintah Republik Indonesia. Slamet Riyadi pun ditunjuk sebagai Komandan Angkatan Bersenjata di Kota Solo.
"Penugasan pertama Pak Slamet Riyadi saat itu di Wonogiri," ucapnya.
Tak berhenti di situ, perjuangan Slamet Riyadi berlanjut di Agresi Militer Belanda pada tahun 1949. Bersama Mayor Ahmadi yang mengomandoi Tentara Pelajar (TP), Slamet Riyadi menginisiasi aksi Serangan Umum 4 Hari di Solo.
"Misi tersebut berjalan dengan sukses dan gemilang karena berhasil menguasai hampir 90% wilayah teritorial Kota Solo," ucapnya.
Sedangkan wilayah Belanda pada saat itu hanya terpusat di Benteng Vastenburg hingga radius 1 kilometer. Sedangkan wilayah lainnya dikuasai oleh Tentara Republik Indonesia.
"Jadi waktu itu, kekuatan bersenjata dari Belanda itu hanya terpusat di Benteng Vastenburg sekarang, sampai radius 1 km. Di luar itu menjadi wilayah kekuasaan Tentara Republik Indonesia, di bawah komando Pak Slamet Riyadi dan Mayor Ahmadi," ujarnya.
Kegemilangannya dalam operasi militer, Presiden Soekarno menugaskan Slamet Riyadi untuk ke Ambon yang saat itu terjadi Gerakan Republik Maluku Selatan.
"Karena kegemilangan dari operasi-operasi militer yang beliau jalankan, kemudian pada waktu terjadi gerakan separatis di Ambon, yakni RMS, Republik Maluku Selatan itu, beliau kemudian juga ditugaskan untuk memadamkan api pemberontakan separatis di sana," terangnya.
Sayangnya, Slamet Riyadi harus gugur saat sedang menjalani misi di Ambon. Slamet Riyadi gugur di usia yang masih sangat muda, yakni 23 tahun.
"Kebetulan di sana (Ambon), beliau gugur karena tertembak oleh salah seorang sniper dari pasukan Belanda, pasukan musuh. Yang saat itu mem-back-up gerakan dari separatisme RMS di Maluku atau di Ambon saat itu," tuturnya.
Sejak gugur itu, Slamet Riyadi dikebumikan di Maluku. Dani menyebut bahwa Slamet Riyadi pernah memberikan pesan sebelum gugur.
"Sejak peristiwa gugurnya beliau di sana, beliau pun akhirnya dimakamkan di sana karena Pak Slamet Riyadi pernah berwasiat, 'Di mana saya gugur, saya harus dimakamkan di situ karena di situ juga tanah tumpah darahku sebagai orang Indonesia'," bebernya.
Mendengar gugurnya Slamet Riyadi, masyarakat Kota Solo memberikan nama jalan utama dengan Slamet Riyadi.
"Sekitar tahun '55, kalau nggak salah. Jadi, setelah Pak Slamet Riyadi gugur di Ambon, warga Solo mendengar kabar itu. Hari itu sebagai satu bentuk penghormatan karena Pak Slamet Riyadi ini sangat disegani dan dicintai oleh warga Solo, itu langsung diabadikan sebagai nama jalan protokol di tengah kota itu," pungkasnya.
(apl/apu)
