Pihak Paku Buwono XIV Purbaya menggelar Grebeg Pasa di halaman Masjid Agung Solo. Rombongan grebeg dimulai dengan para prajurit Keraton Solo, lalu dilanjutkan dengan membawa dua gunungan.
Dari pantauan detikJateng, rombongan keluar dari Kori Kamandungan dan melanjutkan sampai halaman Masjid Agung Solo. Warga yang hendak berebut gunungan sudah menunggu sejak pagi.
Pihak Takmir Masjid Agung sendiri telah menunggu untuk dilanjutkan wilujengan dan pembacaan doa. Setelah dibacakan, warga pun langsung berebut gunungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu warga, Dina Oktavia (28), mengaku selalu datang ke grebeg setiap tahun. Di tahun ini, ia mendapat telur dan kacang panjang.
"Ini dapat telur, dapat kacang panjang, sama rencana mau dibuat sayur. Nanti buat dimasak sama Ibu di rumah," katanya ditemui di Masjid Agung, Minggu (22/3/2026).
Dina sendiri memercayai bahwa ada keberkahan dari makanan yang diperebutkan dari gunungan tersebut. Apalagi, kata dia, sebelum jadi bahan rebutan sudah didoakan terlebih dahulu.
Suasana Grebeg Pasa di Keraton Solo, Minggu (22/3/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng |
"Nanti biar bisa dapat berkahnya, kan tadi sudah didoain sama Abdi Dalem. Ya, semoga saja dapat berkahnya dari bisa dapat ini," ucapnya.
Dirinya sendiri mengaku datang sekira pukul 09.30 WIB, meskipun rombongan tiba sekira pukul 10.38 WIB.
"Datang jam 09.30 WIB sampai sini. Iya, soalnya di jadwal kan itu mulainya jam 10.00, ternyata molor. Ke sini sama adik," terangnya.
Terpisah, Ketua Takmir Masjid Agung Solo, Muhtarom, mengatakan Grebeg Pasa, sama dengan Grebeg Mulud maupun Grebeg Besar, pada hakikatnya merupakan satu kesatuan konsep besar sebagai wujud syukur Raja dan Keraton atas nikmat Allah SWT.
Khusus untuk Grebeg Pasa, tradisi ini merupakan bentuk syukur atas terlaksananya ibadah puasa selama satu bulan penuh. Ia mengatakan Keraton menyajikan sepasang gunungan yang sarat akan simbolisme peran laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga:
"Gunungan Jalu (laki-laki) itu terdiri dari bahan-bahan mentah seperti polo kapendem, polo kasampar, dan polo kagantung. Hal ini menyimbolkan tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga (Arrijalu qawwamuna 'alan nisa) yang berkewajiban mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga," terangnya.
"Yang satunya Gunungan Estri (perempuan) yang berisi makanan siap saji yang melambangkan peran istri sebagai manajer rumah tangga yang baik. Seorang istri diharapkan mampu mengolah dan menyajikan hasil kerja suami untuk kebutuhan hajat hidup keluarganya," sambungnya.
Selain itu, terdapat pula judang-judang berisi makanan yang dimaknai sebagai bentuk sedekah dan keselamatan. Takmir Masjid Agung menekankan bahwa esensi dari seluruh rangkaian ini adalah sedekah untuk menolak bala (As-sodaqotu daf'ul bala).
"Sedekah itu bisa menolak bala. Ketika kita banyak sedekah, insyaallah kita akan dijauhkan dari marabahaya," pungkasnya.
(apu/apu)

