Angkringan adalah bisnis kuliner yang mudah ditemukan hampir di semua kota besar di Jawa, bahkan mulai merambah ke luar Jawa. Tapi siapa sangka cikal -bakal angkringan justru berasal dari desa pelosok, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten.
Desa Ngerangan berada di ujung selatan Kabupaten Klaten, berbatasan dengan Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Jarak dari pusat kota Klaten sekitar 12 kilometer ke selatan. Bentang alam desa dengan luas 294.785 hektare itu berupa perbukitan dengan lahan pertanian tadah hujan.
Secara demografis, desa terakhir di sisi selatan Kabupaten Klaten itu berpenduduk 5.892 jiwa. Penduduk sebanyak itu tersebar di 13 RW dengan 19 pedukuhan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di salah satu dukuh, tepatnya Dukuh Sawit terdapat museum angkringan dan gapura kampung sejarah angkringan. Museum itu sebagai penanda sejarah awal angkringan yang tidak bisa dipisahkan dengan nama Karso Jukut, warga Dukuh Sawit.
"Sejarah angkringan itu dimulai tahun 1938 berawal dari Mbah Karso Jukut, warga Sawit. Jukut muda saat usia 14 tahun ditinggal ayahnya meninggal, Jukut anak tertua dari empat bersaudara," tutur Ketua Pokdarwis Sumunar dan Bumdes Terang Jaya Desa Ngerangan, Suwarna kepada detikJateng, Kamis (5/3/2026).
Suwarna menceritakan sebagai anak tertua, Jukut muda harus membantu menghidupi keluarganya, sedangkan sumber daya alam desanya tidak menjanjikan. Jukut memutuskan merantau dengan berjalan kaki ke kota Solo.
"Jukut berjalan kaki dari Sawit ke Solo dengan tujuan mencari pekerjaan, dan berhenti di perempatan Kerten (Laweyan, Solo) tetapi ada keributan sehingga Jukut yang takut dan bersembunyi. Setelah itu Jukut bertemu Mbah Wono dan mengatakan sedang mencari pekerjaan," kata Suwarna.
Jadi Pedagang Nasi
Oleh Mbah Wono, lanjut Suwarna, Jukut diberi pekerjaan menggarap sawah di daerah Kerten. Sifat rajin dan ulet membuat Jukut menjadi orang kepercayaan dan diminta ikut mengurus jualan nasi, terik tempe dan tahu.
"Jukut ditugaskan berjualan dan bersedia sehingga dibuatkan alat berupa tumbu (wadah anyaman bambu) keliling kampung ke kampung. Tapi karena pembeli banyak minta minum, akhirnya Jukut punya ide, lalu membeli kayu dan membuat angkringan pikulan tahun 1942 yang ada tempat minumnya," papar Suwarna.
Mantan anak buah Karso Jukut, Wakiman, di museum angkringan Desa Ngerangan, Bayat, Klaten. Foto diambil Selasa (17/3/2026). Foto: Achmad Husein Syauqi/detikJateng |
Berjalannya waktu, sambung Suwarna, Jukut mengembangkan dagangan dengan membungkus nasi segitiga berisi sedikit nasi, sambal dan ikan teri. Sejak itulah mulai laris manis.
"Di situ mulai laris dan semakin laris. Suatu saat Jukut izin pulang kampung ke Desa Ngerangan tapi baliknya ke Solo mengajak Mbah Jeman untuk ikut jualan, Mbah Jeman meninggal baru sekitar tahun 2020 lalu dengan usia 97 tahun, dia saksi sejarah angkringan," lanjut Suwarna.
Suwarna mengatakan keduanya jika pulang kampung mengajak empat pemuda desa lainnya sehingga Jukut menjadi juragan. Setelah sukses bisnis kuliner itu, Jukut diambil sebagai menantu Mbah Wono.
"Jukut diambil menantu Mbah Wono dan dibelikan tanah bekas kandang untuk tinggal di Kerten. Kemudian dibangun tempat menampung tetangga dari Desa Ngerangan yang ikut jualan dan ternyata Jeman ternyata ahli membuat teh dan jahe sehingga berkembang jualan nasi dan berbagai minuman," ujar Suwarna.
Ajak Warga Sekampung
Lama-kelamaan, kata Suwarna, jumlah warga Desa Ngerangan yang ikut semakin banyak, bahkan dari desa lain mencapai 25-30 orang. Nama awal kuliner itu konon bukan angkringan tetapi nasi hik.
"Namanya bukan angkringan tapi dulu hik, karena saat keliling penjual meneriakkan 'hik turr' sebagai penanda. Dari keliling dipanggul, angkringan berubah tahun 1974 menjadi gerobak dorong yang punya ide adalah Mbah Medi Midin, anak buah Mbah Jukut," jelas Suwarna.
Hik atau angkringan gerobak dorong itu, ujar Suwarna, terus berkembang sehingga mulai tahun 1980 -1990 an mulai mangkal di titik tertentu. Hik atau angkringan juga menyebar ke Jogja.
"Tahun 1970 an mulai ada yang berjualan ke Yogyakarta tapi kadang masih belum laku sehingga pindah jualan ke Solo. Berkembangnya waktu akhirnya diterima warga Yogyakarta tapi dengan sebutan lebih terkenal sebagai angkringan atau warung koboi," imbuh Suwarna yang juga pelopor sekolah angkringan.
Wakiman (80), keponakan dan bekas anak buah Jukut, menceritakan dirinya ikut Jukut berjualan selama 15 tahun. Saat dirinya ikut berjualan, belum ada gerobak dorong atau mangkal.
"Dulu saya ikut jualan dari tahun 1970 dan masih pikulan kayu, pakai angkringan kayu, keliling. Dulu di Kerten depan Lokananta rumahnya ( rumah Jukut)," ungkap Wakiman kepada detikJateng.
Menurut Wakiman, saat dirinya ikut berjualan hik keliling, Jukut memiliki anak buah sekitar 30 orang, termasuk dirinya. Dulu namanya hik masih pikulan keliling kota Solo.
"Saya keliling Solo, ya nasi teri tapi terus ada gorengan, lauk dan lain sebagainya. Jukut itu paman saya keseharian senang puasa ngrowot," tutur Wakiman mengenang.
Simak Video "Mencicipi Emping Lezat Sambil Belajar Membuatnya di Klaten"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/ams)

