Ratusan kapal nelayan memadati Sungai Silugonggo, Juwana, Pati hari ini. Kapal tersebut bersandar untuk mudik Lebaran dan menyambut tradisi sedekah laut yang akan digelar pada akhir pekan ini.
Pantauan detikJateng di lokasi, pukul 10.00 WIB kepadatan kapal terjadi di sekitar tempat pelelangan ikan (TPI) unit 1 Juwana. Banyak kapal nelayan bertonase besar di atas 30 GT (Gross Tonage) bersandar setelah membongkar hasil tangkap ikan.
Terlihat para anak buah kapal (ABK) pun sibuk di atas kapal. Mereka memperbaiki kapal yang telah digunakan untuk melaut mencari ikan selama berbulan-bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasat Polairud Polresta Pati, Kompol Hendrik Irawan, membenarkan adanya kepadatan kapal di sepanjang Sungai Silugonggo Juwana. Menurutnya, kepadatan yang terjadi saat ini tidak seramai tahun lalu karena adanya faktor cuaca dan jumlah hasil tangkapan ikan yang tidak sebanyak tahun lalu.
"Untuk tahun ini, kedatangan ini mungkin sedikit berkurang 30 persen, karena mungkin cuaca maupun tangkapan ikan yang belum maksimal, sehingga masih banyak kapal di luar," jelas Hendrik saat dihubungi lewat sambungan telepon, Rabu (25/3/2026).
Hendrik mencatat ada sekitar 750 kapal nelayan yang bersandar di Sungai Silugonggo Juwana. Mereka datang untuk lebaran di kampung halaman hingga merayakan tradisi sedekah laut yang akan digelar akhir pekan ini.
"Sampai sekarang jumlah kapal total di sini 750 unit kapal. Nelayan ini pulang kampung dan nanti merayakan tradisi sedekah laut," jelas Hendrik.
Hendrik mengatakan petugas gabungan polisi dan TNI rutin melakukan patroli untuk mengamankan situasi padatnya kapal nelayan di Sungai Silugonggo ini.
"Kami membentuk 4 tim yang piket selama 24 jam. Tiga tim untuk sungai, dan satu tim dari melaksanakan kegiatan imbauan pekerjaan panas terhadap pekerja kapal yang melaksanakan pengelasan ataupun perbaikan. Itu antisipasi kebakaran kapal atau hal yang tidak kita inginkan," kata Hendrik.
Akibat dari kepadatan ini terjadi ketersendatan arus sungai. Sebab banyak kapal yang baru datang dan bongkar hasil tangkap ikan di TPI.
"Kita tim sungai piket selama 24 jam untuk patroli di perairan. Meskipun tersendat adanya kedatangan pengaturan kapal masih bisa kita kendalikan," jelas Hendrik.
"Di saat kapal selesai bongkar kadang sedikit terkendala mundur. Kapal otomatis gantian dengan kapal yang mau bongkar, itu yang kita atur supaya tidak tersendat maupun keluhan dari nelayan tradisional," imbuhnya.
Menurutnya kapal nelayan ini biasanya kembali melaut setelah perayaan sedekah laut.
"Biasanya sedekah laut selesai baru perlahan akan berangkat lagi," jelas dia.
Terpisah, Sekjen Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Pati, Suratman mengatakan momen lebaran dan sedekah laut dimanfaatkan nelayan kembali ke kampung halaman. Maka, tidak heran sebagian besar nelayan kembali ke Juwana Pati. Rencananya sedekah laut di Juwana akan digelar pada hari Minggu (29/3) mendatang.
"Kedatangan kapal tahun ini tidak seramai tahun lalu. Karena ada kapal nelayan di Papua yang belum pulang. Pertama cuaca kurang bagus untuk mencari ikan dan yang kedua hasil tangkap belum maksimal sehingga kontrak kepada nelayan menambah masa berlayar di laut agar sesuai target yang diharapkan," ungkap Suratman ditemui di lokasi.
(par/apl)
