Warga terdampak tanah bergerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, mulai diliputi kegelisahan. Pasalnya meski sudah mengungsi 1,5 bulan hingga kini belum ada kejelasan relokasi, sementara masa tinggal di tenda pengungsian dibatasi sampai 16 April 2026.
Pantauan detikJateng di pengungsian warga terdampak tanah gerak di Jangli, Kecamatan Tembalang, para warga tengah sibuk memasak di tenda dapur umum. Mereka bergotong royong menyediakan makanan malam untuk seluruh pengungsi.
Lima tenda BPBD masih berdiri di tanah lapang yang kini jadi tempat pengungsian warga. Dua kamar mandi juga tersedia di samping tenda dapur umum yang berisi berbagai alat memasak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara di Kampung Sekip yang dilanda tanah gerak, tampak rumah warga sudah porak poranda. Retakan di Jalan Jangli-Undip terlihat semakin besar sejak terakhir terlihat, hingga motor tak bisa melintas.
Ketua RT 07 RW 01 Jangli, Joko Sukaryono, mengatakan kondisi pengungsi saat ini masih relatif aman. Namun, ketidakpastian tempat tinggal setelah tenggat waktu membuat warga gelisah.
"Untuk kondisi pengungsi yang berada di tenda saat ini masih baik-baik saja. Cuma untuk kejelasan relokasi sampai saat ini kita belum ada jawaban," kata Joko di lokasi, Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan, lahan yang digunakan untuk pengungsian merupakan lahan pribadi warga lainnya, sehingga hanya bisa dipakai sementara. Sedangkan di Kampung Sekip hingga saat ini tanah gerak masih terus terjadi.
"Batas waktu tinggal di situ sampai tanggal 16 April. Sedangkan sekarang kurang lebih (waktunya tinggal) seminggu, belum ada kepastian relokasi yang dijanjikan pemerintah," jelasnya.
Menurut Joko, sebelumnya pemerintah sempat menjanjikan relokasi bagi warga terdampak, termasuk pembiayaan yang akan ditanggung. Namun, hingga kini realisasi tersebut belum terlihat.
"Janjinya seperti waktu RI 2 datang, Pak Gubernur mengatakan nanti (warga) akan direlokasi dan biayanya ditanggung pemerintah. Tapi sampai saat ini belum ada jawaban," katanya.
Kondisi ini lantas membuat warga terus mempertanyakan nasib mereka setelah masa pengungsian berakhir. Joko bahkan menyiapkan skenario darurat jika relokasi tak kunjung terealisasi.
"Kalau tanggal 16 kita tidak direlokasi ke yang dijanjikan pemerintah, pastinya akan kita kembalikan ke rumah masing-masing. Tapi dari TNI warning kita tidak bisa kembali," ujarnya.
Hal itu, kata dia, dikarenakan lahan tersebut milik TNI. Kemudian alternatif lainnya, ia akan memindahkan tenda pengungsian ke jalan utama Kampung Sekil, jika lahan pengungsian saat ini harus dikosongkan.
"Kalau tenda belum diambil BPBD, saya kembalikan ke jalan utama untuk alternatif darurat kedua. Karena perjanjiannya hanya sampai tanggal 16 April sudah bersih," ucapnya.
Saat ini, total pengungsi mencapai sekitar 24 KK atau 63 jiwa yang menempati lima tenda. Mereka telah tinggal di pengungsian hampir satu setengah bulan. Kondisi hidup mereka di tenda pun serba terbatas.
"Tidur seadanya. Makan kita mengadakan dapur umum mandiri, ibu-ibu kita masak dua kali sehari," ujar Joko.
Sementara itu, salah satu warga yang mengungsi, Suprihati (51) mengaku, kehidupan di pengungsian penuh keterbatasan. Ia bahkan harus berhenti bekerja sejak mengungsi.
"Sudah sebulan lebih di sini. Janjinya kalau dari pemerintah dicarikan tempat tinggal, tapi nggak tahu nanti nunggu tanggal 16 gimana. Semoga aja cepat," ujarnya.
"Selama di sini ya sulit semua, tapi mau gimana lagi, pokoknya dibikin happy aja. Memang gini (keadaannya), mau gimana lagi," lanjutnya.
Ia menambahkan, hingga kini belum ada informasi lanjutan terkait relokasi, meski tenggat waktu semakin dekat. Suprihati dan warga lainnya pun hanya bisa berharap pemerintah bisa memberikan bantuan berupa relokasi.
"Semoga menjadi kenyataan dicarikan tempat, semoga berhasil. Sampai saat ini belum ada info," katanya.
Diberitakan sebelumnya, peristiwa pergerakan tanah terjadi di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Akibatnya, sebanyak belasan rumah warga terdampak dan akses jalan penghubung antara Jangli dan kawasan Universitas Diponegoro (Undip) terputus.
Lurah Jangli, Maria Teresia Takndare, mengatakan tanah gerak terjadi di RT 07 RW 01 Kelurahan Jangli, Kamis (5/2) dan Jumat (6/2) lalu. Peristiwa tersebut dipicu hujan deras yang turun terus-menerus dalam beberapa pekan terakhir.
"Karena kondisi hujan yang terus-menerus, membuat di wilayah saya, tepatnya di RT 07 RW 01, terjadi pergerakan tanah. Dampaknya ada 10 rumah dan jalan penghubung Jangli-Undip putus," kata Maria saat dihubungi detikJateng, Minggu (8/2).
(apl/dil)