Kasus Campak di Jateng Terus Ngegas, Kudus-Brebes Masuk KLB

Kasus Campak di Jateng Terus Ngegas, Kudus-Brebes Masuk KLB

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Jumat, 03 Apr 2026 14:22 WIB
Ilustrasi campak
Ilustrasi campak. Foto: Freepik
Semarang -

Jumlah kasus suspek campak di Jawa Tengah (Jateng) terus bertambah. Kini, Kabupaten Kudus dan Brebes pun ikut masuk dalam kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB), menyusul Cilacap, Klaten, dan Pati.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Heri Purnomo. Ia mengatakan, hingga hari ini data temuan kasus Campak di Jateng masih bertambah.

"Total suspeknya ada 1.757 suspek campak. Itu di 30 kabupaten/kota," kata Heri saat dihubungi, Jumat (3/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diketahui, sebelumnya ada tiga daerah yang telah memenuhi indikasi KLB, yakni Cilacap, Pati, dan Klaten. Saat ini, sudah ada 5 daerah yang memenuhi KLB.

"Ada 5 kabupaten/kota yang mengalami peningkatan kasus, dengan ini yang sudah memenuhi kriteria KLB tapi belum (mendeklarasikan) KLB yaitu Kabupaten Cilacap, Kabupaten Klaten, Pati, Kudus, dan Brebes, ini yang cukup tinggi," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Sementara untuk kasus yang sudah dipastikan positif campak hingga saat ini terdata ada 144 kasus, sementara untuk positif rubella mencapai 18 kasus.

"(Sebaran tertinggi?) Untuk di Jawa Tengah di Cilacap, Brebes itu juga tinggi, artinya melebihi standar yang masuk kriteria KLB-nya. Daerah dengan suspek campaknya paling tinggi itu di Cilacap, tapi suspeknya," ungkapnya.

"Di Kudus juga tinggi, ada 228, itu juga suspeknya cukup tinggi, Brebes 126, Banyumas 120 itu suspeknya. Kalau yang positif campak itu paling tinggi Cilacap, 21," lanjutnya.

Ia memaparkan, ada 18 kasus positif campak di Pati, 14 kasus di Banyumas. Sementara jumlah kasus di Klaten masih berkembang, terakhir ada 4 kasus positif.

"Tapi itu (kasus di Klaten) mengelompok, artinya tidak menyebar di beberapa desa, tapi hanya satu desa," ungkapnga.

Hingga saat ini, kata dia, tidak ada korban meninggal yang diakibatkan oleh positif campak. Menurutnya, tahun ini ada kecenderungan peningkatan kasus campak dibandingkan tahun lalu.

"Kecenderungannya iya (meningkat), tetapi belum bisa kita evaluasi. Karena memang jumlahnya sampai sekarang kan cukup tinggi, 1.757, ini baru bulan Maret," tuturnya.

Ia menjelaskan, penanganan darurat bagi pasien campak, akan ada investigasi atau penyidikan epidemiologi. Kemudian Dinkes akan melacak pasien tersebut telah melakukan kontak fisik dengan siapa saja.

"Pelacakan kontak, artinya dilihat apakah ada kasus tambahan dengan gejala yang sama seperti demam, ruam, di sekitar lingkungan pasien campak. Jadi dilakukan investigasi," kata dia.

"Kemudian kita ambil sampelnya berupa serum dari pasien campak, untuk mengetahui apakah dia benar-benar campak atau hanya suspek saja. Kemudian melaksanakan tata laksana kasus campak yang meliputi isolasi," lanjutnya.

Ia menyebut, pasien campak akan menjalani isolasi minimal 7 hari sejak timbulnya bercak merah di tubuh. Pasien juga diberikan vitamin A dan obat sesuai kondisi masing-masing pasien.

"Kemudian kita minta juga untuk hidup sehat dengan pakai masker, cuci tangan, dan seterusnya," terangnya.

Ia pun menekankan agar kasus campak bisa langsung dilaporkan agar Dinkes bisa melakukan pemantauan dan analisis data untuk menentukan apakah cakupan imunisasi campak sudah tepat.

"Misal (cakupan imunisasi campak) masih kurang atau sebenarnya sudah terpenuhi, itu kita lakukan kajian. Termasuk pemantauan wilayah setempatnya, dan terakhir kita cegah penularan lebih banyak lagi," ucapnya.

Jika imunisasi campak dirasa masih belum merata, maka akan dilakukan langkah pencegahan melalui Otbreak Response Immunization (ORI). Langkah itu telah digencarkan di wilayah yang berisiko.

"Imbauannya bagi masyarakat, harus makan makanan yang bergizi, terapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Ketika ada yang terkena bintik-bintik merah, segera dibawa ke faskes terdekat, minimal ke Puskesmas, untuk dilakukan penanganan dan diisolasi," imbaunya.

Para orang tua juga diminta untuk memastikan agar anak-anaknya mendapatkan imunisasi campak. Terlebih, kerap kali ada anak-anak yang tidak mau diimunisasi.

"Ini akan sangat mudah ketularan, ketika dia tidak diimunisasi," tegasnya.




(apl/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads