Cerita Paniknya Warga Saat Banjir Bandang Sapu Desa Trimulyo Demak

Cerita Paniknya Warga Saat Banjir Bandang Sapu Desa Trimulyo Demak

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Minggu, 05 Apr 2026 12:19 WIB
Kondisi Desa Trimulyo, Demak, usai dilanda banjir bandang. Foto diambil Sabtu (4/4/2026).
Kondisi Desa Trimulyo, Demak, usai dilanda banjir bandang. Foto diambil Sabtu (4/4/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Demak -

Tanggul Sungai Tuntang di Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak jebol pada Jumat lalu. Ternyata warga sempat berupaya meninggikan tanggul dengan karung berisi tanah dan pasir sebelum jebol.

Salah satu orang yang turut berjibaku meninggikan tanggul adalah Ismono, warga RT 1 RW 5, Dusun Selondoko. Menurutnya, air dari Sungai Tuntang sudah mulai melimpas sejak pagi hari.

"Kita karena biasanya di sini tuh hanya limpas, tidak pernah jebol. Jadi kita bersama warga itu kita berjibaku untuk peninggian tanggul, biar untuk hanya untuk jaga-jaga limpas saja," kata Ismono kepada detikJateng, Minggu (5/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat air mulai melimpas, Ismono bergegas mendatangi BPBD untuk mengambil karung kosong. Ia kemudian kembali ke dusun untuk bersama-sama dengan warga mengisinya dengan tanah dan pasir.

ADVERTISEMENT

"Pagi mulai limpas itu warga sudah mulai berjibaku, waktu itu saya juga baru pulang dari Demak ambil karung di kantor BPBD. Dari BPBD saya dikasih eh 300 karung kosong," tutur Ismono.

"Kemudian warga berjibaku ngisi karung dinaikkan diisi tanah, adanya tanah ya tanah, ada pasir ya pasir, yang penting segera diisi terus ditumpuk-tumpuk," tambahnya.

Usai selesai dengan pekerjaannya, Ismono kembali ke rumah dan berupaya mengamankan harta bendanya. Tak berselang lama, rupanya tanggul tak kuat menahan air dan jebol. Warga sekonyong-konyong lari menyelamatkan diri.

"Kemudian saya ke depan (kembali ke rumah) untuk istilahnya ya ngaman-ngamanke barang saya, tak taruh di tempat yang lebih tinggi. Habis itu ternyata dari belakang sudah teriak-teriak 'awas-awas, jebol-jebol!'. Nah, dari situ langsung pada lari yang penting nyawa masih selamat," ucap Ismono.

Akibat peristiwa ini, puluhan rumah dilaporkan rusak bahkan hanyut tak bersisa. Rumah Ismono juga termasuk yang terdampak hingga ia harus tidur di rumah saudara.

"Rumah rusak berat ada 13, rumah hanyut ada sembilan, rumah rusak ringan ada enam. Sampai saat ini untuk saya sendiri kalau nginep, kita di rumah saudara," beber Ismono.

Menurut Ismono, saat ini warga masih memerlukan banyak bantuan, mulai dari air bersih hingga pakaian layak pakai.

"Kami sangat-sangat membutuhkan bantuan baik itu berupa makanan, pakaian layak pakai, air. Untuk saya sendiri kaos ini pun saya juga sudah minta ke orang karena yang saya bawa hanya celana sama pakaian satu saja (saat banjir terjadi)," pungkasnya.


Diberitakan sebelumnya, tanggul Sungai Tuntang di Desa Trimulyo dan Sidoharjo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak jebol pada Jumat (3/4/2026) siang. Peristiwa ini mengakibatkan banjir masuk ke perumahan warga hingga setinggi satu meter.

Perangkat Desa Trimulyo, Rofiq mengatakan tanggul Sungai Tuntang jebol sekitar pukul 11.00 WIB. Tanggul yang tak mampu menahan debit air tinggi imbas hujan deras ditengarai menjadi penyebabnya.

"(Kejadian) sekitar jam 11.00 WIB, mas. Karena debit air terlalu tinggi. Semalam hujan, tapi kalau hujan di sini tuh nggak ngaruh dengan Kali Tuntang. Yang fatal itu kalau hujan di daerah atas, daerah Kedungjati (Kabupaten Grobogan), itu tetap larinya ke Tuntang," kata Rofiq melalui sambungan telepon pada detikJateng, Jumat (3/4/2026) sore.

Rofiq merinci ada tiga titik tanggul yang jebol di dua desa. Di wilayahnya, lebar tanggul jebol mencapai sekitar 15 meter.

"(Tanggul jebol ada) dua untuk Trimulyo, tambah satu untuk di Kelurahan Sidoharjo. Trimulyo (lebarnya) sekitar yang di RT 1 RW 4 itu kurang lebih di 10 meter, untuk yang di RT 1 RW 5 kurang lebih di 15 meter," ujar Rofiq.




(ahr/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads