Balai Pelestarian soal Riuh Panggung Sanggabuwana Rusak: Kalau Lumutan Wajar

Balai Pelestarian soal Riuh Panggung Sanggabuwana Rusak: Kalau Lumutan Wajar

Tara Wahyu NV - detikJateng
Senin, 06 Apr 2026 15:56 WIB
Sejumlah abdi dalem mengusung kursi untuk persiapan acara Jumeneng Nata Bhinayangkare atau upacara penobatan raja baru di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Jumat (14/11/2025). Upacara penobatan raja baru bergelar Pakubuwono XIV tersebut digelar pihak keraton setempat pada Sabtu (15/11) besok. ANTARAFOTO/Maulana Surya/foc.
Keraton Kasunanan Surakarta. Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya
Solo -

Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah X belum menerima laporan soal kerusakan Panggung Sanggabuwana usai direvitalisasi. Jika kerusakan yang dimaksud adalah adanya lumut, BPK menilai hal itu adalah hal yang wajar.

Kepala BPK Wilayah X, Manggar Sari Ayuati, mengaku belum melihat video yang beredar mengenai kondisi Panggung Sanggabuwana setelah direvitalisasi. Disinggung mengenai adanya lumut seperti yang diutarakan pihak Paku Buwono XIV Purbaya, merupakan hal yang wajar.

"Saya kira kalau ini kan lagi musim hujan sudah ada beberapa bulan. Kalau saya kemarin sempat lihat pada saat ke sana itu cuma memang ada lumut-lumut sedikit kan ya wajar toh ini musim penghujan," kata Manggar dihubungi awak media, Senin (6/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apalagi Panggung Sanggabuwana didominasi cat berwarna putih. Oleh karena itu, jika ada noda langsung terlihat.

ADVERTISEMENT

"Kemudian itu kan memang putih bersih, jadi kotor sedikit itu kan memang kelihatan. Ya memang harusnya lumutnya itu kalau ada lumut memang harus langsung dibersihkan begitu ya," ucapnya.

Manggar mengatakan musim penghujan menjadi salah satu faktor munculnya lumut. Ia mengaku sempat melihat lumut saat kunjungan Menteri Kebudayaan akhir bulan lalu.

"Tapi saya kira itu masih dalam tahap wajar kalau saya kemarin lihat pada saat Pak Menteri kunjungan itu akhir bulan kemarin itu. Kayaknya memang melihat ada lumut, tapi kan memang itu tempat terbuka ya, maksudnya kena hujan panas secara langsung dan ini musimnya juga hujan. Saya pikir kalau lumut-lumut sedikit begitu juga masih wajarlah gitu," bebernya.

Disinggung mengenai kerusakan yang lain, Manggar mengaku belum mendapat laporan. Di sisi lain, pihaknya juga belum melihat kondisi Panggung Sanggabuwana pascarevitalisasi.

"Mohon maaf, saya kan belum lihat lagi kondisinya seperti apa begitu. Jadi kalau dia bocor di dalam itu, memang ada laporan resmi atau gimana, biar nanti dilaporkan sama pengelolanya kalau ada seperti itu. Belum ada ke kami laporan tentang kebocoran atau kerusakan, belum ada," terangnya.

Mengenai kajian akademik, dirinya memastikan telah dilakukan kajian akademik sebelum revitalisasi.

"Kajian akademiknya itu studi kelayakan dan studi teknis sudah ada, di BPK wilayah X sudah dibuat," pungkasnya.

Viral Panggung Sanggabuwana Rusak Usai Direvitalisasi

Sebelumnya, rekaman video beredar memperlihatkan kondisi atap Panggung Sanggabuwana bocor usai direvitalisasi.

Selain bocor, sejumlah kerusakan juga terlihat di video yang diunggah oleh akun Instagram @seputar_surakarta. Dari video yang beredar terdapat kaca yang pecah, kayu yang sudah dimakan rayap, cat yang mengelupas, selain itu tangga juga mengelupas. Padahal, Panggung Sanggabuwana diresmikan oleh Menteri Kebudayaan pada 16 Desember 2025.

Mengenai sejumlah kerusakan itu, juru bicara Paku Buwono XIV Purbaya, KPA Singonagoro mengaku sempat menanyakan kondisi Panggung Sanggabuwana. Dari informasi yang ia dapat, kondisi Panggung Sanggabuwana seperti video yang beredar.

"Saya konfirmasi memang di dalam kondisinya seperti itu. Kami menyayangkan Pak Menteri melakukan revitalisasi yang secara harfiah bermaksud bagus, baik, tapi dengan pengerjaan asal-asalan seperti ini kan mencoreng citra Kementerian Kebudayaan tentunya," katanya saat dihubungi detikJateng, Jumat (3/4/2026).

Singonagoro mengaku sempat curiga mengenai kondisi Panggung Sanggabuwana saat acara Grebeg Poso. Ia menyebut, beberapa tembok sudah berlumut.

"Pas waktu Hajat Dalem Grebeg Syawal atau Poso itu, saya melihat nampaknya dari luar kondisi temboknya sudah lumutan. Yang baik dari sisi yang dilihat dari arah Smarakata dan juga dari dalam, samping sebelah barat ya. Di situ terlihat seperti undak-undakan kecil yang sudah berupa lumut," ucapnya.

LDA Sebut Video Lama

Berbeda dengan pihak Paku Buwono XIV Purbaya, Lembaga Dewan Adat (LDA) menyebut video kerusakan di Panggung Sanggabuwana merupakan video lama. Kerusakan-kerusakan itu terjadi sebelum adanya revitalisasi.

"Itu video lama, apa yang ada di video itu tidak sesuai. Saat ini tidak ada masalah, kalau ada kita terus melakukan perawatan," kata Ketua Eksekutif LDA, KPH Eddy Wirabhumi saat dihubungi, Jumat (3/4).

Sedangkan adanya jamur dan lumut, Eddy mengatakan terakhir dilihat sudah dibersihkan semua. Sedangkan narasi adanya kebocoran, pihaknya mengklaim itu hanya air hujan yang masuk ke Sanggabuwana.

"Yang di luar juga memang sempat ada apa jamur-jamur, lumut-lumut yang muncul itu ya sudah bersih sebelum itu viral sudah bersih lagi tapi kalau enggak percaya dicek ulang ya itu bagian dari perawatan biasa," terangnya.

"Kaitan sama kebocoran gitu. Mereka itu ngambil gambar itu tidak di lantai tidak sampai lantai paling atas. Jadi itu di bawah lantai paling atas karena lantai paling atasnya terkunci dan tidak ada kebocoran di atas. Kalaupun ada air di lantai dua itu tampias dari jendela yang mana di atas jendela itu kan ada yang bolong itu nah itu memang waktu itu belum dipasang ini apa namanya yang kayak kaca itu itu untuk mengurangi tampiasnya itu," sambungnya.

Halaman 2 dari 2
(afn/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads