Pemkot Semarang Siapkan Lahan Huntara Korban Tanah Gerak Jangli di Rowosari

Pemkot Semarang Siapkan Lahan Huntara Korban Tanah Gerak Jangli di Rowosari

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Selasa, 21 Apr 2026 12:02 WIB
Walkot Semarang, Agustina Wilujeng.
Walkot Semarang, Agustina Wilujeng. Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
Semarang -

Wali Kota (Walkot) Semarang, Agustina Wilujeng, angkat bicara soal progres pengadaan hunian sementara (huntara) untuk warga terdampak tanah gerak di Jangli, Kecamatan Tembalang. Agustina menyebut pihaknya telah menyiapkan lahan di Rowosari, Tembalang.

"(Pemkot Semarang menyiapkan lahan di Rowosari untuk warga Jangli terdampak tanah gerak?) Untuk huntara," kata Agustina saat ditemui di Balai Kota Semarang, Kecamatan Semarang Tengah, Selasa (21/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemkot Semarang menyiapkan lahan sesuai kebutuhan huntara. Meski begitu, Agustina mengatakan, warga ingin tetap tinggal di Jangli.

"Kita ini dari keinginan pemerintah menyiapkan hunian sementara, tetapi warganya maunya tetap tinggal di Jangli," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Agustina, warga ingin tetap tinggal di Jangli lantaran alasan ekonomi. Agustina mengatakan, Rowosari dinilai jauh dari lokasi kerja masyarakat Jangli.

"Mengapa begitu, karena ini berhubungan dengan ekonominya mereka ada di sekitar situ. Kalau mereka tinggal di Rowosari, tempat kerjanya jadi jauh. Spend money-nya akan lebih tinggi untuk mereka bisa bekerja seperti biasanya," jelasnya.

Meski begitu, Agustina mengatakan, pihaknya bakal berdiskusi lebih lanjut jika memang warga keberatan dengan lahan di Rowosari. Dia berharap, lahan di Rowosari bisa menjadi solusi.

"Maka, apapun kita siapkan, kalau masyarakatnya berkeberatan ya kita diskusikan kembali, tapi mudah-mudahan itu menjadi solusi. Karena kalau masyarakatnya nggak mau, mereka akan kembali ke situ (Jangli)," sebutnya.

Pemkot Semarang pun tengah berkoordinasi dengan Pemprov Jateng dan kementerian terkait agar mendapatkan solusi terbaik untuk warga Jangli.

"Kita sedang pikirkan lebih lanjut dan koordinasi dengan pemerintah provinsi dan Kementerian Perumahan, mudah-mudahan kita bisa bisa mendapatkan yang terbaik untuk masyarakat," lanjutnya.

Diberitakan sebelumnya, Ketua RT 7 RW 1 Jangli, Joko Sukaryono, mengatakan per Rabu (16/4) warga masih diperbolehkan tinggal di tenda meski masa pinjam lahan sebelumnya telah habis.

"Untuk kondisi tanggal 16 ini, kita masih tinggal di tenda. Informasinya nanti sambil menunggu proses huntap," kata Joko saat ditemui di Kampung Sekip, Rabu (16/4/2026).

Joko menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak kelurahan, pembangunan huntap saat ini sedang diproses. Warga diperkirakan masih harus bertahan di pengungsian.

"Kurang lebih kita 1-2 bulan lagi tinggal di tenda sambil nunggu proses huntap itu sudah siap," jelasnya.

"Informasinya (lahan huntap) di Rowosari, tapi detailnya seperti apa, bentuknya bagaimana, kita belum tahu," lanjutnya.

Ia menyebut, hanya warga terdampak yang bisa mendapatkan huntap, yakni ada 17 rumah, 23 kepala keluarga, yang berisi 63 jiwa. Namun ia juga belum mengetahui huntap tersebut akan berupa rusunawa atau rumah sendiri-sendiri bagi tiap warga.

"Itu (63 jiwa) termasuk bayi baru lahir dan wanita hamil. (Mekanisme huntapnya nanti mengangsur atau bagaimana?) Kita belum tahu skemanya, yang jelas setelah kemarin 1 minggu sebelumnya kita mencari kejelasan, nggak ada kejelasan," ujarnya.

"Makanya kemarin kami sempat membuat plan A plan B, kami kembalikan ke rumah masing-masing, akhirnya dapat warning dari TNI warga yang terdampak tidak boleh kembali karena ditakutkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," lanjutnya.




(par/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads