Banjir di RT 2 RW 3, Dusun Sayung Kidul, Desa Sayung, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak terpaksa membuat para warga naik getek untuk keluar kampung, termasuk para pelajar yang hendak menuntut ilmu ke sekolah.
Usai memarkirkan sepeda motor di jalan depan kampung yang tidak terendam banjir, salah satu pelajar, Muhammad Ziddan Kafi Ibrahim (15), tampak melepas sepatu dan celana sekolahnya. Dengan cekatan, ia kemudian melompat dari satu rakit ke rakit yang lain.
Setelah tiba di rakitnya, dengan sisa-sisa tenaga sepulang sekolah, Ziddan kemudian mengayuh rakitnya dengan sebilah bambu panjang untuk pulang ke rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada detikJateng, Ziddan menuturkan dirinya bersama puluhan pelajar lain dari kampungnya harus naik getek saat berangkat dan pulang sekolah karena banjir yang terlalu tinggi.
"Anak sekolah di sini ada sekitar 20, naik getek biar nggak basah karena banjir ketinggian sekitar 50-80 sentimeter," kata Ziddan sembari mengayuh rakit, Senin (27/4/2026).
Pelajar kelas IX di SMP Negeri 1 Karangtengah itu menuturkan rutinitas berangkat dan pulang sekolah naik rakit sudah dilakukan sejak enam bulan lalu. Pasalnya, banjir tidak kunjung surut.
"Sejak kurang lebih enam bulan naik getek, banjirnya memang sudah selama itu nggak surut-surut," ujar Ziddan.
Ada kalanya Ziddan terpaksa membolos sekolah karena banjir di kampungnya terlalu tinggi, sehingga ia harus mengungsi ke rumah saudaranya di Kota Semarang.
"Pernah bolos, mengungsi ke rumah saudara di Semarang soalnya banjirnya sudah tinggi. Alhamdulillah sekolah juga mengerti kalau yang kena banjir itu ndak papa kalau misal ndak bisa berangkat," ungkap Ziddan.
Ziddan yang masih remaja tak mengetahui kenapa banjir bisa terjadi begitu lama di kampungnya. Ia hanya berharap genangan air itu cepat surut dan dapat berangkat sekolah tanpa rasa lelah.
"Pengennya cepat surut, karena kalau seperti ini terus berangkat sekolah harus lebih pagi, tenaga juga sudah habis gara-gara bawa getek, di sekolah ngantuk," pungkas Ziddan.
Respons Pemkab Demak
Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (Dinputaru) Demak, Naning Prih Hatiningrum mengatakan wilayah Sayung termasuk wilayah cekungan. Hal ini menyebabkan air di wilayah itu akan bertahan cukup lama.
"Nemang posisi Sayung atau kalau kita lihat secara geografis di peta itu cekungan ya, termasuk wilayah yang terdalam dibandingkan lokasi yang ada di kanan kirinya," kata Naning melalui sambungan telepon kepada detikJateng.
"Oleh karenanya memang ketika terjadi hujan atau debit air yang tinggi pasti di situ akan menjadi cukup lama air akan bertahan di situ, genangan yang cukup lama," tambahnya.
Naning menyebut salah satu upaya yang kini dilakukan oleh Pemkab Demak untuk mengatasi banjir di Sayung Kidul dan Lengkong adalah memompa air dari permukiman ke sungai.
"Oleh karenanya salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemkab saat ini adalah melakukan pompanisasi untuk mengalirkan air yang ada di kedua desa tersebut," terang Naning.
Naning juga tidak menampik adanya pendangkalan (sedimentasi) di sungai tersebut. Untuk mengatasi persoalan ini, Pemkab Demak juga aktif melakukan normalisasi sungai.
"Setuju dan itu memang faktanya, itu yang seperti yang panjenengan lihat dan apa yang disampaikan oleh warga, memang ada sedimentasi yang cukup tinggi karena memang daerah muara nggih menjadi muaranya sedimentasi juga tapi ada upaya-upaya yang kita lakukan salah satunya adalah normalisasi," ujar Naning.
"Kalau memang terkait dengan kewenangan itu bukan kewenangan di kabupaten, tapi karena ini terkait dengan dampak yang ditimbulkan, maka salah satu yang kita lakukan adalah melakukan normalisasi sungai-sungai yang masuk ke Sayung ataupun yang alirannya menuju ataupun melewati Sayung," imbuhnya.
(afn/apu)