Jumlah murid di wilayah Kecamatan Tulung, Klaten, yang memeriksakan diri ke layanan kesehatan karena diduga keracunan makan bergizi gratis (MBG) bertambah. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pun diminta tutup untuk berbenah.
"Siang ini tadi masih ada beberapa yang memeriksakan lagi. Tapi mudah-mudahan tidak dirawat inap, kondisinya cukup baik," ungkap Camat Tulung, Hendri Pamungkas kepada detikJateng, Rabu (29/4/2026) siang selepas Zuhur.
Dijelaskan Hendri, jumlah siswa dan guru yang terdampak gejala sekitar 200 orang. Jumlah yang dirawat inap ada 11 orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang rawat inap ada sembilan di Puskesmas Majegan dan dua orang di RS PKU Muhammadiyah Jatinom. Puskesmas Tulung tidak ada rawat inapnya," terang Hendri.
"Yang bergejala kebanyakan siswa SMPN 1 Tulung, SD ada beberapa. Siswa sekitar Puskesmas Majegan saja," imbuhnya.
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menyatakan setelah mengecek puskesmas, dia sempat mengecek SPPG. Dari situ ditemukan beberapa masalah di SPPG.
"Ada beberapa masalah. Yang pertama, berkaitan dengan cool storage AC-nya trouble, bahkan untuk gudang penyimpanan kering tidak ada AC-nya, " papar Hamenang.
Para murid di Tulung, Klaten, saat memeriksaan diri usai diduga keracunan makan bergizi gratis (MBG), Rabu (29/4/2026). Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng |
Hamenang pun meminta SPPG menghentikan operasionalnya selama tiga hari. SPPG diminta berbenah sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
"Kami minta kepala SPPG hari ini, ada juga koordinator SPPG sesuai SOP ditutup tiga hari, sambil berbenah dan juga menunggu hasil lab. Tadi juga ada problem Ipalnya," kata Hamenang.
"Ini warning bagi SPPG yang lain, mari semakin ditingkatkan kualitasnya dan SOP sehingga jangan sampai terjadi hal seperti ini. Program dari bapak Presiden yang sebenarnya bagus untuk menyehatkan dan mencerdaskan anak ini malah menimbulkan masalah, mari kita berbenah bersama," ujar Hamenang.
Terpisah Kepala SPPG Tulung, Roni Subekti, mengatakan SPPG-nya untuk sementara di-suspend. Pihaknya memastikan bakal berbenah.
"Kami akan evaluasi, sebenarnya sudah kami jaga betul tapi mungkin kami kecolongan. Kita akan evaluasi," katanya kepada detikJateng.
Sebelumnya diberitakan, sekitar 200 siswa dan guru di wilayah Kecamatan Tulung, Klaten diduga keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Siswa mengalami gejala mual, diare dan pusing usai makan menu sop galantin.
Adapun menu MBG tersebut disantap oleh para siswa kemarin. Mereka sejak semalam hingga pagi ini mengalami gejala mirip keracunan. Mereka kemudian berdatangan ke fasilitas layanan kesehatan setempat.
"Anak saya kelas VII C SMPN 1 Tulung, sampai rumah itu malah tidak mau makan. Habis Magrib kemarin mulai mual dan pusing," ungkap Bekti (40), ibu salah seorang siswa kepada detikJateng di lokasi, Rabu (29/4) siang.
Dijelaskan Bekti, meskipun mengalami gejala sakit perut dan pusing, anaknya tidak muntah. Setelah tidak membaik akhirnya pagi ini dibawa ke Puskesmas Majegan.
"Pagi ini tadi saya bawa ke Puskesmas. Katanya makan sop galantin jam 10.00 WIB habis istirahat," kata Bekti.
Siswa kelas IX B SMPN 1 Tulung, Stevani, mengatakan dirinya makan sop galantin MBG hari Selasa (28/4) kemarin. Menunya sop galantin, tempe dan ada telur puyuh.
"Ada sop galantin, tempe dan ada telur puyuh. Yang tidak enak sop sama telur puyuh tidak enak, rasanya gimana gitu," katanya.
Tenaga epidemiologi Puskesmas Majegan, Wahyu Handoyo, menjelaskan dari penyelidikan di lapangan ada 17 sekolah penerima manfaat MBG. Ada siswa dan guru yang bergejala.
"Ada 17 titik penerima. Ada 219 orang, 22 diantaranya guru yang bergejala (data sementara), pembagian MBG itu kemarin," katanya.
(apu/ams)
