Pratama Arhan Jadi Pemegang Ijazah Blockchain Pertama di Indonesia

Pratama Arhan Jadi Pemegang Ijazah Blockchain Pertama di Indonesia

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Rabu, 29 Apr 2026 15:31 WIB
Pemain Timnas, Pratama Arhan, usai wisuda ke-87 Udinus di Hotel Patra, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Rabu (29/4/2026).
Pemain Timnas, Pratama Arhan, usai wisuda ke-87 Udinus di Hotel Patra, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Rabu (29/4/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Pemain Timnas, Pratama Arhan, mencatatkan sejarah baru dengan menjadi salah satu wisudawan pertama Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang menerima ijazah blockchain. Terobosan itu juga jadi yang pertama kalinya di Indonesia.

Wisuda ke-87 Udinus digelar di Hotel Patra Convention, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Arhan mengaku bangga bisa menjadi penerima ijazah blockchain dalam wisuda kali ini.

"Alhamdulillah tentunya saya sangat senang bisa lulus dan dapat ijazah blockchain juga, tentunya buat saya suatu kebanggaan," kata Arhan usai wisuda, Rabu (29/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tengah kesibukannya sebagai atlet profesional yang bermain di luar negeri, Arhan pun tetap mampu menyelesaikan pendidikannya di program studi Sarjana Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Udinus.

"Pasti banyak halangan, karena kan memang membagi waktunya agak sedikit susah karena saya harus ke Timnas, terus tim saya juga di luar negeri. Jadi saya kesusahan membagi waktu," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

"Tapi alhamdulillah juga pihak Udinus juga ngasih kelonggaran juga buat saya ada daring. Jadi saya lebih tenang. Tim juga sangat suportif," lanjutnya.

Kendati demikian, Arhan mengaku sudah menyiapkan langkah berikutnya di dunia pendidikan. Ia berencana melanjutkan studi S2 di kampus yang sama.

"Saya akan mengambil beasiswa juga di Udinus tentunya. Saya mau ambil jurusan Ilmu Komunikasi," jelasnya.

Namun, ia mengaku tidak akan langsung melanjutkan kuliah S2 dalam waktu dekat. Arhan memilih fokus menyelesaikan kompetisi bersama klubnya di luar negeri.

"Mungkin saya akan break dulu, rest dulu, karena mau finishing season dulu, karena liga masih jalan. Mungkin saya akan fokus dulu, baru nanti daftar lagi. Mungkin (targetnya) akhir tahun," tambahnya.

Rektor Udinus, Pulung Nurtantio Andono menyampaikan, penggunaan teknologi blockchain pada ijazah itu baru pertama kali dilakukan di Udinus. Tujuannya yakni menjamin keaslian dokumen dan mencegah pemalsuan.

"Untuk memverifikasi ijazah ini asli apa palsu itu jauh lebih mudah. Karena kita menggunakan layer blockchain, maka ijazah ini tidak bisa dihapus dan pastinya asli. Dan ini Mas Arhan sebagai perwakilan pertama," jelasnya.

Ia menambahkan, teknologi itu akan terus diterapkan pada seluruh wisudawan Udinus ke depannya. Bahkan berpotensi digunakan untuk mencatat seluruh rekam akademik mahasiswa sejak awal masuk hingga lulus.

"Insyaallah kita akan terapkan sampai selamanya, karena teknologi ini menurut saya bagus sekali. Di mana sesuatu yang sudah kita tulis di dalam block tidak bisa ditulis ulang," ucapnya.

"Bisa ditulis ulang tetapi akan kelihatan siapa yang menulis ulang. Sehingga sebenarnya pemanfaatan blockchain ini saya pikir tidak hanya untuk ijazah. Tapi pemanfaatannya bisa sangat luas," lanjutnya.

Sementara itu, Chief Information Officer Dubai Blockchain Center, Igor Arkhypenko menilai, langkah Udinus menjadi terobosan besar dalam pemanfaatan teknologi blockchain di dunia pendidikan.

Ia menyebut, selama ini banyak orang menganggap blockchain hanya berkaitan dengan keuangan atau cryptocurrency. Padahal, teknologi tersebut juga sangat relevan untuk verifikasi dokumen penting seperti ijazah.

"(Ini blockchain pertama di Indonesia?) Iya, ini pertama kalinya kita melihat implementasi blockchain di universitas untuk diploma. Ini menunjukkan blockchain tidak hanya untuk cryptocurrency, tapi juga untuk dokumen penting dan verifikasi keasliannya," ujarnya.

Menurutnya, penggunaan blockchain memungkinkan lulusan membuktikan capaian akademik secara cepat di mana pun berada.

"Mahasiswa bisa membuktikan prestasinya di mana saja di dunia dalam hitungan detik. Misalnya melamar kerja ke Eropa atau Amerika, verifikasi bisa langsung dilakukan tanpa proses panjang," jelasnya.

Menurutnya, selama ini proses pembuktian dokumen akademik kerap memakan waktu lama karena harus melalui tahapan seperti penerjemahan dan legalisasi. Dengan blockchain, proses tersebut bisa dipangkas secara signifikan.

"Kalau sebelumnya butuh waktu lama untuk verifikasi, dengan teknologi ini bisa dilakukan dalam hitungan detik," katanya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: 36 Biksu Thudong yang Jalan Kaki dari Thailand Telah Sampai di Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(alg/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads