12 Puisi Hari Buruh 2026 yang Penuh Semangat dan Menggugah Emosi

12 Puisi Hari Buruh 2026 yang Penuh Semangat dan Menggugah Emosi

Sri Wahyuni Oktafia - detikJateng
Kamis, 30 Apr 2026 11:01 WIB
Ilustrasi peringatan Hari Buruh.
Ilustrasi peringatan Hari Buruh. (Foto: ChatGPT)
Solo -

Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap 1 Mei selalu menjadi momen penting bagi para pekerja untuk menyuarakan aspirasi. Di berbagai daerah, aksi demonstrasi kerap digelar sebagai bentuk perjuangan menuntut kesejahteraan, keadilan, hingga perlindungan hak buruh. Dalam suasana tersebut, berbagai bentuk ekspresi digunakan untuk menyampaikan pesan, salah satunya melalui puisi.

Puisi bukan sekadar rangkaian kata, tetapi juga media yang mampu menggugah emosi dan membakar semangat massa. Melalui diksi yang kuat dan penuh makna, puisi sering dibacakan saat orasi atau dituliskan dalam poster aksi untuk memperkuat pesan perjuangan. Tak heran, puisi menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan demonstrasi Hari Buruh.

Bagi detikers yang sedang mencari referensi, berikut 12 puisi Hari Buruh 2026 yang penuh semangat dan cocok digunakan untuk aksi demonstrasi, orasi, maupun media sosial. Yuk simak daftar lengkapnya!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

12 Puisi Hari Buruh 2026 untuk Aksi Demonstrasi Penuh Semangat

Dikutip dari skripsi "Potret Buruh Indonesia Pada Masa Orde Baru dalam Kumpulan Puisi Nyanyian Akar Rumput Karya Wiji Thukul dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Sekolah" oleh Dimas Albiyan Yuda Nurhakiki, buku Jentera Terkasa: Kumpulan Puisi Penyair Jawa Tengah oleh Balai Bahasa Jawa Tengah, Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul, Kumpulan Sajak Nun oleh Abdul Wachid B.S., dan laman Universitas Brawijaya, berikut kumpulan puisi Hari Buruh.

ADVERTISEMENT

Puisi Hari Buruh 2026 #1: Suti

Pencipta: Wiji Thukul

Suti tidak pergi kerja

Pucat ia duduk dekat ambennya

Suti di rumah saja

Tidak ke pabrik tidak ke mana-mana

Suti tidak ke rumah sakit

Batuknya memburu

Dahaknya berdarah

Tak ada biaya


Suti kusut masai

Di benaknya menggelegar suara mesin

Kuyu matanya membayangkan

Buruh-buruh yang berangkat pagi

Pulang petang

Hidup pas-pasan

Gaji kurang

Dicekik kebutuhan


Suti meraba wajahnya sendiri

Tubuhnya makin susut saja

Makin kurus menonjol tulang pipinya

Loyo tenaganya

Bertahun-tahun diisap kerja


Suti batuk-batuk lagi

Ia ingat kawannyà

Sri yang mati

Karena rusak paru-parunya

Suti meludah

Dan lagi-lagi darah


Suti memejamkan mata

Suara mesin kembali menggemuruh

Bayangan kawannya bermunculan

Suti menggeleng

Tahu mereka dibayar murah


Suti meludah

Dan lagi-lagi darah


Suti merenungi resep dokter

Tak ada uang

Tak ada obat

Puisi Hari Buruh 2026 #2: Ayolah, Warsini

Pencipta: Wiji Thukul

Warsini! Warsini!

Apa kamu sudah pulang kerja, warsini?

Apa kamu tidak letih?

Seharian berdiri di pabrik, warsini

Apa celana dan kutangmu digeledah lagi?

Karena majikanmu curiga

Kamu menyelipkan moto

Ini malam minggu, warsini

Berapa utangmu minggu ini?

Apa kamu bingung hendak membagi gaji?

Apakah kamu masuk salon

Potong rambut lagi?


Ayolah, warsini

Kawan-kawan sudah datang

Kita sudah berkumpul di sini

Kita akan latihan sandiwara lagi

Kamu nanti jadi mbok bodong

Si joko biar jadi rentenirnya

Jangan malu, warsini

Jangan takut dikatakan kemayu


Kamu tak perlu minder dengan pekerjaanmu

Sebab mas yanto juga tidak sekolah, warsini

Ia pun cuma tukang pelitur

Marni juga tidak sekolah

Kerjanya cuma mbordir saputangan di rumah

Wahyuni juga tidak sekolah

Bapaknya tak kuat mbayar uang pangkal sma

Partini? Ia pun cuma penjahit pakaian jadi

Di perusahaan konveksi milik tante lili


Ayolah, warsini

Ini malam minggu, warsini

Kami menunggumu di sini

Kita akan latihan sandiwara lagi


Puisi Hari Buruh 2026 #3: Teka-teki yang Ganjil

Pencipta: Wiji Thukul

Pada malam itu kami berkumpul dan berbicara

Dari mulut kami tidak keluar hal-hal yang besar

Masing-masing berbicara tentang keinginannya

Yang sederhana dan masuk akal


Ada yang sudah lama sekali ingin bikin dapur

Di rumah kontraknya

Dan itu mengingatkan yang lain

Bahwa mereka juga belum punya panci, kompor

Gelas minum dan wajan penggoreng

Mereka jadi ingat bahwa mereka pernah

Ingin membeli barang-barang itu

Tetapi keinginan itu dengan cepat terkubur oleh keletihan kami

Dan upah kami dalam waktu singkat telah berubah

Menjadi odol-sampo-sewa rumah

Dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi


Ternyata banyak di antara kami yang masih susah

Menikmati teh hangat

Karena kami masih pusing bagaimana mengatur

Letak tempat tidur dan gantungan pakaian


Ada yang sudah lama ingin mempunyai kamar mandi sendiri

Dari situ pembicaraan meloncat ke soal harga semen

Dan juga cat tembok yang harganya tak pernah turun

Kami juga berbicara tentang kampanye pemilihan umum yang sudah berlalu

Tiga partai politik yang ada kami simpulkan

Tak ada hubungannya sama sekali dengan kami: buruh

Mereka hanya memanfaatkan suara kami

Demi kedudukan mereka


Kami tertawa karena menyadari

Bertahun-tahun kami dikibuli

Dan diperlakukan seperti kerbau


Akhirnya kami bertanya

Mengapa sedemikian sulitnya buruh membeli sekaleng cat

Padahal tiap hari ia bekerja tak kurang dari 8 jam

Mengapa sedemikian sulitnya bagi buruh

Untuk menyekolahkan anak-anaknya

Padahal mereka setiap hari menghasilkan berton-ton barang


Lalu salah seorang di antara kami berdiri

Memandang kami satu per satu kemudian bertanya:

"adakah barang-barang yang kalian pakai yang tidak dibikin oleh buruh?"

Pertanyaan itu mendorong kami untuk mengamati barang-barang yang ada di sekitar kami

Neon, televisi, radio, baju, buku....


Sejak itu kami selalu merasa seperti sedang menghadapi teka-teki yang ganjil

Dan teka-teki itu selalu muncul

Ketika kami berbicara tentang panci-kompor-gelas minum-wajan penggorengan

Juga di saat kami menghitung upah kami

Yang dalam waktu singkat telah berubah

Menjadi odol-sampo-sewa rumah

Dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi


Kami selalu heran dan bertanya-tanya

Kekuatan macam apakah yang telah mengisap

Tenaga dan hasil kerja kami


Puisi Hari Buruh 2026 #4: Satu Mimpi Satu Barisan

Pencipta: Wiji Thukul

Di lembang ada kawan sofyan

Jualan bakso kini karena dipecat perusahaan

Karena mogok karena ingin perbaikan

Karena upah, ya, karena upah


Di ciroyom ada kawan sodiyah

Si lakinya terbaring di amben kontrakan

Buruh pabrik the

Terbaring pucat dihantam tipus

Juga ada neni

Kawan bariah

Bekas buruh pabrik kaus kaki

Kini jadi buruh di perusahaan lagi

Dia dipecat, ya dipecat

Kesalahannya: karena menolak

Diperlakukan sewenang-wenang


Di cimahi ada kawan udin buruh sablon

Kemarin kami datang dia bilang

Umpama dirontgen pasti tampak

Isi dadaku ini pasti rusak

Karena amoniak, ya amoniak


Di cigugur ada kawan siti

Punya cerita harus lembur sampai pagi

Pulang lunglai lemas ngantuk letih

Membungkuk 24 jam

Ya, 24 jam


Di majalaya ada kawan eman

Buruh pabrik handuk dulu

Kini luntang-lantung cari kerjaan

Bini hamil tiga bulan

Kesalahan: karena tak sudi

Terus diperah seperti sapi


Di mana-mana ada sofyan, ada sodiyah, ada bariyah

Tak bisa dibungkam kodim

Tak bisa dibungkam popor senapan

Di mana-mana ada neni, ada udin, ada siti

Di mana-mana ada eman

Di bandung, solo, jakarta, tangerang

Tak bisa dibungkam kodim

Tak bisa dibungkam popor senapan

Satu mimpi

Satu barisan


Puisi Hari Buruh 2026 #5: Leuwigajah Masih Haus

Pencipta: Wiji Thukul

Leuwigajah tak mau berhenti

Dari pagi sampai pagi

Bus-mobil pengangkut tenaga murah

Bikin gemetar jalan-jalan

Dan debu-debu tebal membubung


Mesin-mesin tak mau berhenti

Membangunkan buruh-buruh tak berkamarmandi

Tanpa jendela, tanpa cahaya matahari

Tidur jejer-berjejer alas tikar

Lantai-dinding dingin, lembab, pengap


Lidah-lidah penghuni rumah kontrak

Terus bercerita buruk:

Lembur paksa sampai pagi

Tubuh mengelupas, jari jempol putus, upah rendah

Mogok? Pecat!

Seperti nyabuti bulu ketiak


Tubuh-tubuh muda

Terus mengalir ke leuwigajah

Seperti buah-buah disedot vitaminnya


Mesin-mesin terus menggilas

Memerah tenaga murah

Satu kali dua puluh empat jam

Masuk, absen, tombol ditekan

Dan truk-truk pengangkut produksi

Meluncur terus ke pasar

Leuwigajah tak mau berhenti

Dari pagi sampai pagi


Asap cerobong terus kotor

Selokan air limbah berwarna

Mesin-mesin tak mau berhenti

Terus minta darah tenaga muda


leuwigajah makin panas

Berputar dan terus menguras


Puisi Hari Buruh 2026 #6: Makin Terang Bagi Kami

Pencipta: Wiji Thukul

Tempat kami sempit

Bola lampu kecil, cahaya sedikit

Tapi makin terang bagi kami

Tangerang, solo, jakarta kawan kami

Kami satu: buruh

Kami punya tenaga


Tempat pertemuan kami sempit

Di langit bintang kelap-kelip

Tapi makin terang bagi kami

Banyak pemogokan di sana-sini


Tempat pertemuan kami sempit

Tapi pikiran ini makin luas

Makin terang bagi kami

Kegelapan disibak tukar pikiran


Kami satu: buruh

Kami punya tenaga


Tempat pertemuan kami sempit

Tanpa buah cuma kacang dan air putih

Tapi makin terang bagi kami

Kesadaran kami tumbuh menyirami


Kami satu: buruh

Kami punya tenaga

Jika kami satu hati

Kami tahu mesin berhenti

Sebab kami adalah nyawa

Yang menggerakkannya


Puisi Hari Buruh 2026 #7: Edan

Pencipta: Wiji Thukul

Sudah dengar cerita mursilah?

Edan!

Dia dituduh maling

Karena mengumpulkan serpihan kain

Dia sambung-sambung jadi mukena

Untuk sembahyang

Padahal mukena tak dibawa pulang

Padahal mukena dia taruh

Di tempat kerja

Edan!

Sudah diperas

Dituduh maling pula


Sudah dengar cerita santi?

Edan!

Karena istirahat gaji dipotong

Edan!

Karena main kartu

Lima kawannya langsung dipecat majikan

Padahal tak pakai uang

Padahal pas waktu luang

Edan!

Kita mah bukan sekrup


Puisi Hari Buruh 2026 #8: Peringatan

Pencipta: Wiji Thukul

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gawat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!.


Puisi Hari Buruh 2026 #9: Dalam Pameran Produksi

Pencipta: Edi Romadhon

Ribuan pejalan antar stand saling merubah

kaki-kaki memburu kepala yang menyediakan laci-laci

tangan-tangan mengulurkan hati penuh laci

laci-laci menjadi anjing pelacak dengan liurnya ke toko-toko

sebab toko-toko saling menjadi gadis manis dari bibirnya berkepulan ganja

otak-otak dimamahnya sangat sempurna

seperti para majikan yang selalu mengajari para pelayan menjadi tanah liat.


Merdeka, produksi makin sempurna

pelayan membentangkan beha-beha celana-celana

Merdeka, produksi makin sempurna

pelayan amat cekatan mengeruki laci-laci kepala pembeli

Merdeka, produksi makin sempurna

barang habis menjadi berbagai ruang di rumah-rumah

para toko saling terkekeh habis dibohongi

Merdeka, produksi siapa makin sempurna

memasuki Indonesia


Puisi Hari Buruh 2026 #10: Jabodetabek

Pencipta: Puntadewa

Sepotong ketela kumakan pagi-pagi

Saat mentari belum menari

Mengiringi embun-embun berlari mencari-cari jati diri

Seteguk air putih menyapa lidah selamat pagi tuan

Sudahkah bendera kelaparan tuan kibarkan

Batu-batu nisan tuan gadaikan

Semen-semen tuan timbun di gudang kemarahan

Buruh-buruh kecil tuan beri sayap

Biar terbang seperti debu-debu jalanan

Hinggap di kebun singkong

Kurus juga badan bertulang kemauan

Dan peluh-peluh berceceran

Di tanah bebatuan


Jika sebatang rokok terbakar

Asap mengepul tak henti-henti

Ke mana tuan berjalan

Pabrik-pabrik diam tak menyapa

Pohon-pohon meranggas pucat menunggu ajal

Di pinggir jalan

Matahari hadir


Puisi Hari Buruh 2026 #11: Bicara Tentang Buruh Bicara Tentang Marsinah

Pencipta: Sitor Situmorang

Bicara tentang buruh

Kita mengenang Marsinah:

Mengenang keteladanannya

Mengabdi kemudian berkorban nyawa


Marsinah kita kenang

Sebaik murid hal ajaran

Azas perikemanusiaan keadilan

Harkat serta martabat buruh


Jadi soko guru masyarakat berdemokrasi

Dalam wujud negara RI 45

Poros semangat berdikari sekalian pelopor

Barisan pendukung emansipasi peradaban


Maju sebagai pelaku dan teladan gerakan

Pembaharuan masyarakat meninggalkan kekolotan

Menggalang setiakawan dengan segenap

Pejuang demokrasi seantero bumi


Siap menghadapi tantangan perjuangan

Mengakhiri sistem dan kekuasaan

Yang masih belum sedia melepaskan prinsip:

Penghisapan manusia atas manusia!


Puisi Hari Buruh 2026 #12: Sumpah Buruh

Pencipta: Abdul Wachid B.S

Kita manusia indonesia

Beralam satu alam indonesia


kita manusia indonesia

Bermodal satu modal indonesia


kita manusia indonesia

Bersumpah satu memanusiakan manusia


kita manusia indonesia

Bertekad satu menolak kenaikan harga harga


Kita manusia indonesia

Bernurani satu bayar buruh selayak keringatnya


Itulah kumpulan puisi tentang Hari Buruh yang bisa dibacakan saat menjalankan aksi peringatan Hari Buruh 1 Mei 2026. Semoga bermanfaat!

Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.




(sto/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads