- 12 Puisi Hari Buruh 2026 untuk Aksi Demonstrasi Penuh Semangat Puisi Hari Buruh 2026 #1: Suti Puisi Hari Buruh 2026 #2: Ayolah, Warsini Puisi Hari Buruh 2026 #3: Teka-teki yang Ganjil Puisi Hari Buruh 2026 #4: Satu Mimpi Satu Barisan Puisi Hari Buruh 2026 #5: Leuwigajah Masih Haus Puisi Hari Buruh 2026 #6: Makin Terang Bagi Kami Puisi Hari Buruh 2026 #7: Edan Puisi Hari Buruh 2026 #8: Peringatan Puisi Hari Buruh 2026 #9: Dalam Pameran Produksi Puisi Hari Buruh 2026 #10: Jabodetabek Puisi Hari Buruh 2026 #11: Bicara Tentang Buruh Bicara Tentang Marsinah Puisi Hari Buruh 2026 #12: Sumpah Buruh
Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap 1 Mei selalu menjadi momen penting bagi para pekerja untuk menyuarakan aspirasi. Di berbagai daerah, aksi demonstrasi kerap digelar sebagai bentuk perjuangan menuntut kesejahteraan, keadilan, hingga perlindungan hak buruh. Dalam suasana tersebut, berbagai bentuk ekspresi digunakan untuk menyampaikan pesan, salah satunya melalui puisi.
Puisi bukan sekadar rangkaian kata, tetapi juga media yang mampu menggugah emosi dan membakar semangat massa. Melalui diksi yang kuat dan penuh makna, puisi sering dibacakan saat orasi atau dituliskan dalam poster aksi untuk memperkuat pesan perjuangan. Tak heran, puisi menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan demonstrasi Hari Buruh.
Bagi detikers yang sedang mencari referensi, berikut 12 puisi Hari Buruh 2026 yang penuh semangat dan cocok digunakan untuk aksi demonstrasi, orasi, maupun media sosial. Yuk simak daftar lengkapnya!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
12 Puisi Hari Buruh 2026 untuk Aksi Demonstrasi Penuh Semangat
Dikutip dari skripsi "Potret Buruh Indonesia Pada Masa Orde Baru dalam Kumpulan Puisi Nyanyian Akar Rumput Karya Wiji Thukul dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Sekolah" oleh Dimas Albiyan Yuda Nurhakiki, buku Jentera Terkasa: Kumpulan Puisi Penyair Jawa Tengah oleh Balai Bahasa Jawa Tengah, Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul, Kumpulan Sajak Nun oleh Abdul Wachid B.S., dan laman Universitas Brawijaya, berikut kumpulan puisi Hari Buruh.
Puisi Hari Buruh 2026 #1: Suti
Pencipta: Wiji Thukul
Suti tidak pergi kerja
Pucat ia duduk dekat ambennya
Suti di rumah saja
Tidak ke pabrik tidak ke mana-mana
Suti tidak ke rumah sakit
Batuknya memburu
Dahaknya berdarah
Tak ada biaya
Suti kusut masai
Di benaknya menggelegar suara mesin
Kuyu matanya membayangkan
Buruh-buruh yang berangkat pagi
Pulang petang
Hidup pas-pasan
Gaji kurang
Dicekik kebutuhan
Suti meraba wajahnya sendiri
Tubuhnya makin susut saja
Makin kurus menonjol tulang pipinya
Loyo tenaganya
Bertahun-tahun diisap kerja
Suti batuk-batuk lagi
Ia ingat kawannyà
Sri yang mati
Karena rusak paru-parunya
Suti meludah
Dan lagi-lagi darah
Suti memejamkan mata
Suara mesin kembali menggemuruh
Bayangan kawannya bermunculan
Suti menggeleng
Tahu mereka dibayar murah
Suti meludah
Dan lagi-lagi darah
Suti merenungi resep dokter
Tak ada uang
Tak ada obat
Puisi Hari Buruh 2026 #2: Ayolah, Warsini
Pencipta: Wiji Thukul
Warsini! Warsini!
Apa kamu sudah pulang kerja, warsini?
Apa kamu tidak letih?
Seharian berdiri di pabrik, warsini
Apa celana dan kutangmu digeledah lagi?
Karena majikanmu curiga
Kamu menyelipkan moto
Ini malam minggu, warsini
Berapa utangmu minggu ini?
Apa kamu bingung hendak membagi gaji?
Apakah kamu masuk salon
Potong rambut lagi?
Ayolah, warsini
Kawan-kawan sudah datang
Kita sudah berkumpul di sini
Kita akan latihan sandiwara lagi
Kamu nanti jadi mbok bodong
Si joko biar jadi rentenirnya
Jangan malu, warsini
Jangan takut dikatakan kemayu
Kamu tak perlu minder dengan pekerjaanmu
Sebab mas yanto juga tidak sekolah, warsini
Ia pun cuma tukang pelitur
Marni juga tidak sekolah
Kerjanya cuma mbordir saputangan di rumah
Wahyuni juga tidak sekolah
Bapaknya tak kuat mbayar uang pangkal sma
Partini? Ia pun cuma penjahit pakaian jadi
Di perusahaan konveksi milik tante lili
Ayolah, warsini
Ini malam minggu, warsini
Kami menunggumu di sini
Kita akan latihan sandiwara lagi
Puisi Hari Buruh 2026 #3: Teka-teki yang Ganjil
Pencipta: Wiji Thukul
Pada malam itu kami berkumpul dan berbicara
Dari mulut kami tidak keluar hal-hal yang besar
Masing-masing berbicara tentang keinginannya
Yang sederhana dan masuk akal
Ada yang sudah lama sekali ingin bikin dapur
Di rumah kontraknya
Dan itu mengingatkan yang lain
Bahwa mereka juga belum punya panci, kompor
Gelas minum dan wajan penggoreng
Mereka jadi ingat bahwa mereka pernah
Ingin membeli barang-barang itu
Tetapi keinginan itu dengan cepat terkubur oleh keletihan kami
Dan upah kami dalam waktu singkat telah berubah
Menjadi odol-sampo-sewa rumah
Dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi
Ternyata banyak di antara kami yang masih susah
Menikmati teh hangat
Karena kami masih pusing bagaimana mengatur
Letak tempat tidur dan gantungan pakaian
Ada yang sudah lama ingin mempunyai kamar mandi sendiri
Dari situ pembicaraan meloncat ke soal harga semen
Dan juga cat tembok yang harganya tak pernah turun
Kami juga berbicara tentang kampanye pemilihan umum yang sudah berlalu
Tiga partai politik yang ada kami simpulkan
Tak ada hubungannya sama sekali dengan kami: buruh
Mereka hanya memanfaatkan suara kami
Demi kedudukan mereka
Kami tertawa karena menyadari
Bertahun-tahun kami dikibuli
Dan diperlakukan seperti kerbau
Akhirnya kami bertanya
Mengapa sedemikian sulitnya buruh membeli sekaleng cat
Padahal tiap hari ia bekerja tak kurang dari 8 jam
Mengapa sedemikian sulitnya bagi buruh
Untuk menyekolahkan anak-anaknya
Padahal mereka setiap hari menghasilkan berton-ton barang
Lalu salah seorang di antara kami berdiri
Memandang kami satu per satu kemudian bertanya:
"adakah barang-barang yang kalian pakai yang tidak dibikin oleh buruh?"
Pertanyaan itu mendorong kami untuk mengamati barang-barang yang ada di sekitar kami
Neon, televisi, radio, baju, buku....
Sejak itu kami selalu merasa seperti sedang menghadapi teka-teki yang ganjil
Dan teka-teki itu selalu muncul
Ketika kami berbicara tentang panci-kompor-gelas minum-wajan penggorengan
Juga di saat kami menghitung upah kami
Yang dalam waktu singkat telah berubah
Menjadi odol-sampo-sewa rumah
Dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi
Kami selalu heran dan bertanya-tanya
Kekuatan macam apakah yang telah mengisap
Tenaga dan hasil kerja kami
Puisi Hari Buruh 2026 #4: Satu Mimpi Satu Barisan
Pencipta: Wiji Thukul
Di lembang ada kawan sofyan
Jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
Karena mogok karena ingin perbaikan
Karena upah, ya, karena upah
Di ciroyom ada kawan sodiyah
Si lakinya terbaring di amben kontrakan
Buruh pabrik the
Terbaring pucat dihantam tipus
Juga ada neni
Kawan bariah
Bekas buruh pabrik kaus kaki
Kini jadi buruh di perusahaan lagi
Dia dipecat, ya dipecat
Kesalahannya: karena menolak
Diperlakukan sewenang-wenang
Di cimahi ada kawan udin buruh sablon
Kemarin kami datang dia bilang
Umpama dirontgen pasti tampak
Isi dadaku ini pasti rusak
Karena amoniak, ya amoniak
Di cigugur ada kawan siti
Punya cerita harus lembur sampai pagi
Pulang lunglai lemas ngantuk letih
Membungkuk 24 jam
Ya, 24 jam
Di majalaya ada kawan eman
Buruh pabrik handuk dulu
Kini luntang-lantung cari kerjaan
Bini hamil tiga bulan
Kesalahan: karena tak sudi
Terus diperah seperti sapi
Di mana-mana ada sofyan, ada sodiyah, ada bariyah
Tak bisa dibungkam kodim
Tak bisa dibungkam popor senapan
Di mana-mana ada neni, ada udin, ada siti
Di mana-mana ada eman
Di bandung, solo, jakarta, tangerang
Tak bisa dibungkam kodim
Tak bisa dibungkam popor senapan
Satu mimpi
Satu barisan
Puisi Hari Buruh 2026 #5: Leuwigajah Masih Haus
Pencipta: Wiji Thukul
Leuwigajah tak mau berhenti
Dari pagi sampai pagi
Bus-mobil pengangkut tenaga murah
Bikin gemetar jalan-jalan
Dan debu-debu tebal membubung
Mesin-mesin tak mau berhenti
Membangunkan buruh-buruh tak berkamarmandi
Tanpa jendela, tanpa cahaya matahari
Tidur jejer-berjejer alas tikar
Lantai-dinding dingin, lembab, pengap
Lidah-lidah penghuni rumah kontrak
Terus bercerita buruk:
Lembur paksa sampai pagi
Tubuh mengelupas, jari jempol putus, upah rendah
Mogok? Pecat!
Seperti nyabuti bulu ketiak
Tubuh-tubuh muda
Terus mengalir ke leuwigajah
Seperti buah-buah disedot vitaminnya
Mesin-mesin terus menggilas
Memerah tenaga murah
Satu kali dua puluh empat jam
Masuk, absen, tombol ditekan
Dan truk-truk pengangkut produksi
Meluncur terus ke pasar
Leuwigajah tak mau berhenti
Dari pagi sampai pagi
Asap cerobong terus kotor
Selokan air limbah berwarna
Mesin-mesin tak mau berhenti
Terus minta darah tenaga muda
leuwigajah makin panas
Berputar dan terus menguras
Puisi Hari Buruh 2026 #6: Makin Terang Bagi Kami
Pencipta: Wiji Thukul
Tempat kami sempit
Bola lampu kecil, cahaya sedikit
Tapi makin terang bagi kami
Tangerang, solo, jakarta kawan kami
Kami satu: buruh
Kami punya tenaga
Tempat pertemuan kami sempit
Di langit bintang kelap-kelip
Tapi makin terang bagi kami
Banyak pemogokan di sana-sini
Tempat pertemuan kami sempit
Tapi pikiran ini makin luas
Makin terang bagi kami
Kegelapan disibak tukar pikiran
Kami satu: buruh
Kami punya tenaga
Tempat pertemuan kami sempit
Tanpa buah cuma kacang dan air putih
Tapi makin terang bagi kami
Kesadaran kami tumbuh menyirami
Kami satu: buruh
Kami punya tenaga
Jika kami satu hati
Kami tahu mesin berhenti
Sebab kami adalah nyawa
Yang menggerakkannya
Puisi Hari Buruh 2026 #7: Edan
Pencipta: Wiji Thukul
Sudah dengar cerita mursilah?
Edan!
Dia dituduh maling
Karena mengumpulkan serpihan kain
Dia sambung-sambung jadi mukena
Untuk sembahyang
Padahal mukena tak dibawa pulang
Padahal mukena dia taruh
Di tempat kerja
Edan!
Sudah diperas
Dituduh maling pula
Sudah dengar cerita santi?
Edan!
Karena istirahat gaji dipotong
Edan!
Karena main kartu
Lima kawannya langsung dipecat majikan
Padahal tak pakai uang
Padahal pas waktu luang
Edan!
Kita mah bukan sekrup
Puisi Hari Buruh 2026 #8: Peringatan
Pencipta: Wiji Thukul
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.
Puisi Hari Buruh 2026 #9: Dalam Pameran Produksi
Pencipta: Edi Romadhon
Ribuan pejalan antar stand saling merubah
kaki-kaki memburu kepala yang menyediakan laci-laci
tangan-tangan mengulurkan hati penuh laci
laci-laci menjadi anjing pelacak dengan liurnya ke toko-toko
sebab toko-toko saling menjadi gadis manis dari bibirnya berkepulan ganja
otak-otak dimamahnya sangat sempurna
seperti para majikan yang selalu mengajari para pelayan menjadi tanah liat.
Merdeka, produksi makin sempurna
pelayan membentangkan beha-beha celana-celana
Merdeka, produksi makin sempurna
pelayan amat cekatan mengeruki laci-laci kepala pembeli
Merdeka, produksi makin sempurna
barang habis menjadi berbagai ruang di rumah-rumah
para toko saling terkekeh habis dibohongi
Merdeka, produksi siapa makin sempurna
memasuki Indonesia
Puisi Hari Buruh 2026 #10: Jabodetabek
Pencipta: Puntadewa
Sepotong ketela kumakan pagi-pagi
Saat mentari belum menari
Mengiringi embun-embun berlari mencari-cari jati diri
Seteguk air putih menyapa lidah selamat pagi tuan
Sudahkah bendera kelaparan tuan kibarkan
Batu-batu nisan tuan gadaikan
Semen-semen tuan timbun di gudang kemarahan
Buruh-buruh kecil tuan beri sayap
Biar terbang seperti debu-debu jalanan
Hinggap di kebun singkong
Kurus juga badan bertulang kemauan
Dan peluh-peluh berceceran
Di tanah bebatuan
Jika sebatang rokok terbakar
Asap mengepul tak henti-henti
Ke mana tuan berjalan
Pabrik-pabrik diam tak menyapa
Pohon-pohon meranggas pucat menunggu ajal
Di pinggir jalan
Matahari hadir
Puisi Hari Buruh 2026 #11: Bicara Tentang Buruh Bicara Tentang Marsinah
Pencipta: Sitor Situmorang
Bicara tentang buruh
Kita mengenang Marsinah:
Mengenang keteladanannya
Mengabdi kemudian berkorban nyawa
Marsinah kita kenang
Sebaik murid hal ajaran
Azas perikemanusiaan keadilan
Harkat serta martabat buruh
Jadi soko guru masyarakat berdemokrasi
Dalam wujud negara RI 45
Poros semangat berdikari sekalian pelopor
Barisan pendukung emansipasi peradaban
Maju sebagai pelaku dan teladan gerakan
Pembaharuan masyarakat meninggalkan kekolotan
Menggalang setiakawan dengan segenap
Pejuang demokrasi seantero bumi
Siap menghadapi tantangan perjuangan
Mengakhiri sistem dan kekuasaan
Yang masih belum sedia melepaskan prinsip:
Penghisapan manusia atas manusia!
Puisi Hari Buruh 2026 #12: Sumpah Buruh
Pencipta: Abdul Wachid B.S
Kita manusia indonesia
Beralam satu alam indonesia
kita manusia indonesia
Bermodal satu modal indonesia
kita manusia indonesia
Bersumpah satu memanusiakan manusia
kita manusia indonesia
Bertekad satu menolak kenaikan harga harga
Kita manusia indonesia
Bernurani satu bayar buruh selayak keringatnya
Itulah kumpulan puisi tentang Hari Buruh yang bisa dibacakan saat menjalankan aksi peringatan Hari Buruh 1 Mei 2026. Semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(sto/dil)