Uniknya Perkumpulan Orang Tak Saling Kenal Bermain-Lepas Penat di Semarang

Uniknya Perkumpulan Orang Tak Saling Kenal Bermain-Lepas Penat di Semarang

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Sabtu, 09 Mei 2026 21:23 WIB
Suasana muda-mudi Kota Semarang saling berkumpul dan bermain dengan orang asing di Aloon-aloon Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Sabtu (8/5/2026).
Suasana muda-mudi Kota Semarang saling berkumpul dan bermain dengan orang asing di Aloon-aloon Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Sabtu (8/5/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Ada pemandangan menarik sore ini di Aloon-aloon Kauman Semarang. Sejumlah anak muda yang tak saling kenal duduk melingkar sambil bermain 'domikado', tanpa sibuk menatap layar ponsel.

Di atas rerumputan aloon-aloon, gelak tawa muda-mudi itu terdengar nyaring. Mereka tertawa lepas sambil bermain permainan anak-anak kecil seperti domikado. Ponsel mereka dikumpulkan di tengah lingkaran.

Mereka yang awalnya tidak saling kenal itu dipertemukan lewat unggahan sederhana di media sosial yang mengajak muda-mudi Kota Semarang untuk berkumpul bermain bersama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sang penggagas, Tata Oktawandari (34), mengaku awalnya hanya iseng mengunggah ajakan bermain-bermain tanpa gadget bersama orang asing di akun Threads-nya.

"Ini berangkat dari keresahan bahwa kita di umur segini sudah terlalu banyak main HP. Akhirnya aku mencoba ngajak di Threads," kata Tata kepada detikJateng di Aloon-aloon Kauman, Sabtu (8/5/2026).

ADVERTISEMENT

Ajakan itu ternyata disambut ramai. Dalam hitungan hari, ratusan orang merespons unggahannya. Mereka lalu sepakat berkumpul di Aloon-aloon Kauman.

"Jujur belum kepikiran konsep acaranya seperti apa. Tapi beruntungnya teman-teman mau datang. Jadi kita ya sudah sekumpulnya, kita kenalan, main bareng sampai capek," ungkapnya.

Suasana sore itu pun menurutnya terasa seperti potongan masa kecil yang hidup kembali. Saat domikado dimulai, peserta yang salah langsung dihukum lari kecil mengelilingi lingkaran.

Teriakan dan gelak tawa pecah tanpa canggung meski mereka baru pertama kali bertemu. Tata sendiri mengaku sempat takut mengadakan acara yang mempertemukan orang-orang tak dikenal itu.

"Takut karena kan kita juga nggak tahu orangnya. Tapi saya justru mengkhawatirkan isi acara ini. Karena kan yang saya colek itu milenial dan gen Z awal, range usianya cukup luas, cowok atau cewek silakan datang," ucapnya.

"Nah, saya mikir ada nggak ya nanti oknum yang menyalahgunakan event ini, yang harusnya asyik jadi ada macam-macam," lanjutnya.

Namun, kekhawatiran Tata perlahan hilang setelah melihat suasana yang cair. Mahasiswa S2 Undip itu bahkan mengaku sebenarnya ia merupakan sosok introvert dan butuh keberanian besar untuk datang.

"Fun fact-nya saya cukup introvert. Jadi effort juga memberanikan diri buat datang ke sini," katanya sambil tertawa.

Satu aturan sederhananya yakni peserta diminta menyimpan ponsel selama bermain. Hal itu menurutnya menjadi kesempatan bagi peserta untuk rehat sejenak dari ponsel yang kini dipakai untuk bekerja, mencari informasi, hingga mencari hiburan.

"Harapan saya selama bermain di sini kita ambil jeda dulu dari gadget. Kita simpan dulu, paling nggak 1-2 jam supaya fokus, aware dengan orang-orang yang ada di sekitar kita, nggak melulu scrolling," jelas warga Banyumanik itu.

Tata yang merupakan ibu rumah tangga itu juga mengajak kedua anaknya bermain di Aloon-aloon Kauman. Menurutnya, anaknya yang cenderung sering terpapar gadget itu juga jadi salah satu pemicu dirinya menggagas 'main bareng strangers' ini.

"Saya ngajak anak, pertimbangannya juga karena anak terlalu banyak terpapar medsos, nge-game, YouTube. Nah ini akan membuat suasana baru supaya nggak main hp terus," terangnya.

"Di sini juga nggak ada obrolan politik, kita lupakan semuanya, karena kita terlalu sering mendengar berita buruk. Pokoknya jangan ngomongin kerjaan atau apapun yang berat," lanjutnya.

Di tengah derasnya tren doomscrolling dan kesibukan media digital, sore ini di Aloon-aloon Kauman itu terasa berbeda menurutnya. Tak ada notifikasi, tak ada suara video pendek berseliweran. Dia pun mengaku ingin kembali menggelar pertemuan serupa dan berharap bisa jadi komunitas resmi.

Salah satu peserta, Ashar (23), merasa acara sore ini menjadi pelarian sejenak dari rutinitas kerja yang melelahkan. Ashar yang merupakan engineer asal Salatiga itu mengaku rela berangkat sendiri ke Semarang demi ikut bermain bersama orang asing.

"Sebenarnya aku kayak cari komunitas permainan, dan kebetulan nemu Threads itu. Karena nggak percaya diri buat komentar, aku langsung DM. Terus aku langsung nurutin intrusive thoughts, jadi langsung ke sini," ucapnya.

Ia mengaku memang menggemari permainan seperti board game atau aktivitas apapun yang bisa pelarian alias short escape dari lelahnya pekerjaan.

"Kadang kita burnout di tempat kerja. Jadi sometimes we need to escape (kadang kita butuh pelarian). Salah satunya aku suka bermain. Entah itu board game atau cuma nongkrong sama teman," ujarnya.

Ashar sendiri tiba di Semarang sekitar pukul 17.10 WIB setelah berangkat dari Salatiga pukul 15.30 WIB. Meski datang sendiri dan tanpa rencana lain, ia mengaku puas dan bisa bernostalgia ke masa kecilnya.

"Udah lama nggak main kayak gini di umur segini. Mau ngajak orang di kantor juga pasti dikira childish banget kesannya. Jadi ini seru karena permainan zaman dulu kayak gini yang bikin nostalgia, kayak kembali ke masa kecil," tuturnya.

Saat suara azan maghrib berkumandang, mereka pun sempat berhenti bermain dan salat bagi yang melaksanakan. Hal itu mengingatkan kala kecil di saat pengingat untuk berhenti bermain hanyalah suara azan.




(azu/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads