Banjir di Kalibanteng Semarang, Akses Jalan Terputus-Puluhan Warga Mengungsi

Banjir di Kalibanteng Semarang, Akses Jalan Terputus-Puluhan Warga Mengungsi

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Sabtu, 16 Mei 2026 15:30 WIB
Kondisi talud Sungai Cilandak dan Jalan Jembawan 1, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, remuk, Sabtu (16/5/2026).
Kondisi talud Sungai Silandak dan Jalan Jembawan 1, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, remuk, Sabtu (16/5/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Semarang -

Banjir di permukiman dekat Sungai Silandak, Jalan Jembawan 1, Kalibanteng Kulon, Semarang Barat sempat mencapai setinggi leher orang dewasa. Akses Jalan Jembawan 1 pun terputus karena amblas terbawa arus dan membuat puluhan warga terpaksa mengungsi.

Pantauan detikJateng di lokasi, Sabtu (16/5) pukul 11.30 WIB, sejumlah warga tampak melakukan kerja bakti membersihkan lumpur yang masuk ke rumah setelah banjir terjadi. Dapur umum juga didirikan di Pos Kamling RT 6 RW 1.

Warga Jembawan RT 6 RW 1, Dwi Susilo (49) mengatakan banjir besar dan tanggul Sungai Silandak jebol terjadi kemarin malam.Peristiwa itu disebut berlangsung cepat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Habis Magrib itu air cepat naik. Sehingga kita mau antisipasi itu sudah terlambat langsung air begitu cepat naik sampai segini," kata Dwi sambil membuat garis dengan tangan pada lehernya untuk menunjukkan kondisi banjir, Sabtu (16/5/2026).

ADVERTISEMENT

Dwi menuturkan saat banjir itu terjadi, hanya keluarganya yang bisa dievakuasi. Sedangkan, barang-barangnya hilang tersapu banjir.

"Ya, alhamdulillah langsung evakuasi keluarga. Sepatu hilang, terus baju kemarin nyuci terus hilang. Macam-macam lah. Mesin cuci sampai sini (terseret ke depan rumah) tadi malam. Itu kursi sampai sana," ujar Dwi.

Dwi pun mengeluhkan sulitnya akses keluar masuk dari rumahnya, sebab jalan yang berada di depan rumahnya kini hilang tidak bersisa. Dia dan keluarganya pun kini mengungsi di Masjid Al Hikmah yang berada di dekat rumahnya.

"Kesulitannya ya sulit (akses jalannya)," keluh Dwi.

Dwi yang lahir pada 1977 dan sudah tinggal di Jembawan sejak lahir menceritakan talud Sungai Silandak tersebut berusia sangat tua. Talud yang sempat ambles itu kini semakin remuk gegara diguyur hujan deras.

"Kemungkinan tanggul ini 82 (1982, red) dibangun. Saya masih kecil ya dulu. Belum (pernah ada perbaikan). Baru kali ini (amblas), mungkin sudah saking lamanya," ungkap Dwi.

Dwi berharap talud dan jalan di kampungnya segera diperbaiki. Ia khawatir dampak tanggul ambles bisa merembet hingga ke rumahnya.

"Harapannya segera dibenahi aja. Takutnya (melebar) soale punya saya dampak utama," urai Dwi.

25 Warga Mengungsi di Masjid Terdekat

Di tempat yang sama, Lurah Lurah Kalibanteng Kulon, Parjono mengatakan setidaknya ada 25 warga yang harus mengungsi di Masjid Al Hikmah akibat peristiwa ini.

"Hasil pendataan tadi malam ada 6 KK 25 warga. Terus kemudian penanganan pengungsi tadi malam sudah sementara ngungsi di Masjid Al Hikmah," kata Parjono.

Jalan yang ambles bersamaan dengan talut ini juga menjadi satu-satunya akses 25 warga tersebut. Selain itu, jalan ini juga menjadi salah satu akses utama warga dari beberapa RT.

"Saat ini (warga yang terdampak langsung) lewat di samping Masjid Al-Hikmah ini, tidak bisa dilalui kendaraan, hanya jalan kaki. Di sini merupakan salah satu akses utama untuk warga, utamanya di RT 3, RT 6, RT 7," terang Parjono.

Parjono menuturkan warga kini tengah berupaya menyelamatkan harta benda mereka pascabanjir. Dapur umum untuk warga terdampak juga telah disiapkan.

"Ini berusaha untuk bisa menyelamatkan barang yang mungkin masih bisa dipakai seperti itu. Karena tadi malam tidak sempat menyelamatkan barang apapun," ucap Parjono.

"Tadi malam untuk bantuan-bantuan logistik dan lain sebagainya, dapur umum sudah disiapkan dari kecamatan, kemudian dari BPBD, kemudian ada dari Dinas Sosial dan PMI," tambahnya.

Dia menyebut sebelum tanggul ambles kian parah, sempat ada upaya penanganan dengan curah aspal. Namun saat aspal belum menyatu, hujan deras dan debit air yang tinggi justru menghancurkan semuanya.

"Kemarin sebenarnya sudah ada penanganan yaitu dikasih curah aspal. Harapannya nanti kan bisa menyatukan aspal yang retak, tapi ternyata begitu sore hujan ini yang awalnya sudah dikasih curah aspal ternyata tidak bisa menyatukan aspal yang retak tadi dan semakin ambles," kata Parjono.

Parjono kini sedang menunggu penanganan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Ia berharap talut dan jalan bisa segera diperbaiki.

"Sampai hari ini kami juga masih menunggu penanganan dari BBWS agar nantinya tidak melebar dan merembet ke kanan kirinya. Harapan kami yang pertama talud diperbaiki lebih kuat lagi, terus kemudian (jalan) ini bisa dikembalikan, difokuskan sebagai jalan seperti yang dulu," ujar Parjono.

3 Kecamatan di Semarang Terdampak Banjir


Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang pada Sabtu (16/5) per pukul 06.00 WIB, tercatat ada tiga kecamatan yakni Ngaliyan, Semarang Barat, dan Tugu yang terdampak luapan air sungai.

Di Kecamatan Ngaliyan, ada 146 KK di Kelurahan Purwoyoso terdampak banjir. Sementara di Kelurahan Bambankerep, 16 KK atau 49 jiwa terdampak banjir.

Kemudian di Kecamatan Semarang Barat, 22 KK atau 60 jiwa di Kalibanteng Kulon terdampak banjir. Kemudian di Kembangarum, 43 rumah dengan rincian 59 KK atau 191 jiwa juga terdampak banjir. Wilayah Krapyak RT 1, 2, dan 3 RW 9 juga sempat terjadi genangan air.

Sedangkan di Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu, banjir melanda RW 1, 3 4, dan 5. Total 313 KK atau 1252 jiwa di wilayah ini terdampak banjir yang terjadi tadi malam.

Sementara itu, dilaporkan ada dua korban banjir dalam peristiwa ini. Satu orang bernama Maryam (70) di Kalibanteng Kulon tewas karena hanyut dan satu orang bernama Wahyu Adi Kristanto (41) di Kembangarum mengalami luka ringan patah tulang tangan karena terpeleset.

Halaman 2 dari 2
(ams/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads