Sholat Idul Adha merupakan salah satu ibadah yang dikerjakan pada Hari Raya Kurban oleh umat Islam. Hari raya kedua Islam itu sendiri jatuh pada 10 Dzulhijjah yang tahun ini bertepatan dengan Rabu, 27 Mei. Lantas, sholat Idul Adha itu wajib atau sunnah?
Pertanyaan tersebut bukan perkara sepele karena berhubungan dengan syariat agama. Selain itu, memahami hukumnya membuat pelaksanaannya akan lebih tepat dengan dasar yang pasti. Dengan demikian, penting bagi kita untuk mengetahui hukum dari sholat Idul Adha sebelum melaksanakannya.
Tidak hanya hukum pelaksanaannya, tata cara sholat Idul Adha juga penting dipahami agar ibadah dapat dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Oleh karena itu, mari simak ulasan lengkap mengenai hukum sholat Idul Adha, tata cara pelaksanaannya, serta surat sunnah yang dianjurkan berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hukum Sholat Idul Adha Menurut Ulama
Sholat Idul Adha merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Bersama dengan sholat Idul Fitri, sholat ini termasuk dalam sholat idain yang selalu dilaksanakan umat Muslim setiap tahunnya pada hari raya.
Kendati demikian, para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai hukum pelaksanaan sholat Idul Adha, mulai dari wajib, sunnah muakkadah, hingga fardhu kifayah. Berdasarkan penjelasan di buku Panduan Sholat Rasulullah 2 karya Imam Abu Wafa, terdapat tiga pendapat ulama terkait hukum sholat Idul Adha, sebagai berikut.
1. Wajib
Pendapat pertama berasal dari mazhab Hanafi yang menyatakan bahwa sholat Id hukumnya wajib bagi setiap individu Muslim. Pendapat ini didasarkan pada kebiasaan Rasulullah SAW yang tidak pernah meninggalkan sholat Id sekalipun serta selalu melaksanakannya secara berjamaah.
2. Sunnah Muakkad
Sementara itu, pendapat kedua yang dianut mazhab Syafi'i dan Maliki menyebutkan bahwa sholat Id hukumnya sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan. Mereka berdalil pada hadits Rasulullah SAW berikut:
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ. فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ؟ قَالَ: لَا، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ.
Artinya: "Rasulullah SAW bersabda: 'Lima kali sholat sehari semalam.' Ia berkata: 'Apakah ada kewajiban bagiku selainnya?' Beliau menjawab: 'Tidak, melainkan jika kamu ingin mengerjakan yang sunnah.'" (HR Muslim)
3. Fardhu Kifayah
Adapun pendapat ketiga berasal dari mazhab Hanbali yang menyatakan bahwa sholat Id hukumnya fardhu kifayah. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat Al-Kautsar ayat 2, berikut:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya: "Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah."
Meski terdapat perbedaan pendapat, Imam Abu Wafa menjelaskan bahwa pendapat yang paling kuat menurut jumhur ulama adalah sholat Idul Adha hukumnya sunnah muakkadah. Hal ini juga diperkuat dalam buku Fikih 4 karya Siti Khomisil Fatatil Aqillah dan Kiki Rejeki yang menyebutkan bahwa sholat idain sangat dianjurkan bagi laki-laki maupun perempuan yang sedang mukim atau menetap.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan Sholat Idul Adha
Selain memahami hukumnya, umat Muslim juga perlu mengetahui waktu dan tempat pelaksanaan sholat Idul Adha agar ibadah dapat dilakukan sesuai sunnah Rasulullah SAW. Hal ini penting mengingat adanya ketentuan khusus terkait kapan sholat Id dimulai dan di mana tempat yang paling utama untuk melaksanakannya.
Berdasarkan buku Panduan Sholat Rasulullah 2 karya Imam Abu Wafa, waktu pelaksanaan sholat Id dimulai ketika matahari terbit setinggi tombak hingga sebelum masuk waktu zawal atau saat matahari mulai condong ke arah barat. Jika dikira-kira, waktu tersebut sekitar 15 menit setelah matahari terbit.
Lebih khusus, pelaksanaan sholat Idul Adha disunnahkan lebih awal. Anjuran ini berkaitan dengan penyembelihan hewan kurban. Dengan sholat lebih awal, maka jamaah memiliki waktu lebih longgar untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban.
Sementara itu, mengenai tempat pelaksanaannya, Rasulullah SAW., menganjurkan agar sholat Idul Adha dilakukan di tanah lapang atau area terbuka. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri berikut:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى.
Artinya: "Kami Rasulullah SAW, biasa keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha menuju tanah lapang." (HR Bukhari)
Imam An-Nawawi juga menjelaskan bahwa hadis tersebut menjadi dalil utama anjuran melaksanakan sholat Id di tanah lapang karena dinilai lebih utama dibandingkan di masjid. Namun, jika terdapat kondisi tertentu seperti hujan, tempat sempit, atau kendala lainnya, maka sholat Id tetap boleh dilaksanakan di masjid.
Tata Cara Sholat Idul Adha yang Benar
Sholat Idul Adha memiliki tata cara yang sedikit berbeda dibandingkan dengan sholat wajib pada umumnya. Perbedaan tersebut terletak pada jumlah takbir tambahan atau takbir zawaid yang dilakukan dalam dua rakaat sholat Id. Meski demikian, secara umum gerakan sholatnya tetap sama seperti sholat lainnya.
Sholat Idul Adha tidak diawali dengan azan maupun iqamah. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Jabir bin Abdillah yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW., memulai sholat Id sebelum khutbah tanpa azan dan iqamah.
Tata cara sholat Idul Adha yang benar adalah sebagai berikut:
- Memulai sholat dengan takbiratul ihram seperti sholat pada umumnya.
- Membaca doa iftitah.
- Bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama sebelum membaca Surat Al-Fatihah.
- Membaca dzikir atau pujian kepada Allah SWT di sela-sela takbir zawaid. Salah satu bacaan yang dianjurkan adalah:
- Membaca Surat Al-Fatihah dan surat lainnya.
- Melanjutkan gerakan sholat seperti rukuk, iktidal, sujud, dan duduk sebagaimana biasa.
- Bangkit ke rakaat kedua sambil bertakbir.
- Bertakbir lima kali pada rakaat kedua sebelum membaca Surat Al-Fatihah.
- Membaca Al-Fatihah dan surat lainnya.
- Menyempurnakan rakaat kedua hingga salam.
- Setelah sholat selesai, dilanjutkan khotbah Id.
Di sela-sela takbir zawaid sholat Idul Adha, detikers bisa membaca:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي.
Arab Latin: Subhaanallahi walhamdulillahi wa laa ilaaha illallaahu wallahu akbar. Allahummaghfirlii warhamnii.
Artinya: "Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada Tuhan selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku."
Surat Sunnah saat Sholat Idul Adha
Selain tata caranya, Rasulullah SAW juga memberikan tuntunan mengenai surat-surat yang dianjurkan untuk dibaca saat sholat Idul Adha. Bacaan surat sunnah ini menjadi bagian penting karena meneladani kebiasaan Rasulullah ketika melaksanakan sholat Id.
Berdasarkan sumber yang sama, Rasulullah SAW pernah membaca Surat Qaf pada rakaat pertama dan Surat Al-Qamar pada rakaat kedua. Hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim ketika Umar bin Khattab bertanya kepada Waqid Al-Laitsi tentang surat yang dibaca Nabi SAW saat sholat Id.
Selain itu, Rasulullah SAW., juga sering membaca Surah Al-A'la pada rakaat pertama dan Surah Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua. Kedua surat tersebut bahkan dianjurkan pula dibaca ketika hari raya bertepatan dengan hari Jumat.
Beberapa surat sunnah yang dianjurkan dibaca saat sholat Idul Adha antara lain:
- Al-Quran Surat Al-A'la pada rakaat pertama
- Al-Quran Surat Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua
- Al-Quran Surat Qaf pada rakaat pertama
- Al-Quran Surat Al-Qamar pada rakaat kedua
Meski demikian, para ulama menjelaskan bahwa membaca surat selain surat-surat tersebut tetap diperbolehkan. Sebab, inti dari sholat Id tetap terletak pada kekhusyukan dan kesempurnaan pelaksanaannya sesuai tuntunan syariat Islam.
Demikian itulah hukum sholat Idul Adha lengkap dengan tata cara, waktu dan tempat pelaksanaan, serta surat-surat yang disunnahkan untuk dibaca. Semoga bermanfaat ya, Lur!
Artikel ini ditulis oleh Mardliyyah Hidayati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(num/dil)