Sebanyak 16 biksu yang melakukan perjalanan thudong dari Candi Sima Jepara menuju Candi Sewu Klaten sempat bersilaturahmi ke Kantor Gubernuran Jawa Tengah (Jateng) di Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Setelahnya, mereka mampir ke Vihara Tanah Putih di Kecamatan Candisari, Kota Semarang.
Pantauan detikJateng, Senin (25/5/2026), belasan biksu berjalan dari Kantor Gubernuran Jateng melalui Jalan Sriwijaya di Kecamatan Candisari. Kemudian mereka berjalan menuju Jalan Dr. Wahidin ke Vihara Tanah Putih.
Mereka berjalan sekitar 1 jam untuk menuju ke wihara itu. Di tempat ibadah tersebut, rombongan biksu disambut oleh sejumlah Atthasilani atau wanita Buddhis yang menjalani jalan hidup suci.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para Atthasilani tampak mengenakan jubah putih. Sementara rombongan biksu mengenakan jubah oranye. Di dalam wihara, tampak beberapa umat Buddha turut menyambut kedatangan biksu.
Seorang biksu yang mengikuti perjalanan thudong, Aggacitto Thera, menerangkan kedatangan mereka ke Vihara Tanah Putih adalah untuk silaturahmi. Di wihara itu juga kebetulan ada program pembinaan kepada para Atthasilani.
"Intinya kami silaturahmi ya kan, terus kemudian kita bincang-bincang ya kan, memberikan nasihat. Karena kebetulan di sini ada pelatihan, ada program pembinaan kepada Atthasilani seperti itu," ungkap Aggacitto dari Candi Sima itu kepada detikJateng di Vihara Tanah Putih hari ini.
Dia menjelaskan, perjalanan thudong kali ini mengusung tema Walk for Peace. Perjalanan yang ditempuh pun terasa begitu menyenangkan.
16 biksu yang melakukan perjalanan Thudong saat mampir di Vihara Tanah Putih di Kecamatan Candisari, Kota Semarang, Senin (25/5/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng |
"Perjalanan dari thudong ini pastinya menyenangkan, seru di luar dari ekspektasi kami ya. Seperti yang memang sudah kami gaungkan Thudong Walk for Peace, mengangkat tema tentang jalan damai," jelasnya.
Bagi Aggacitto, lelah bukan penghalang bagi para biksu untuk mencapai tujuan, selama menempuh perjalanan thudong. Hal penting yang perlu dijaga adalah mental dan semangat yang kuat.
"Ya, kalau yang namanya capek itu wajar namanya manusia tetapi capek bukan menjadi alasan untuk tidak melangkah kita. Kita tetap melangkah sampai akhir," katanya.
Selama perjalanan, dia menjumpai kuatnya toleransi beragama. Selain itu, banyak anak-anak yang begitu antusias terhadap kegiatan mereka sehingga menjadi api semangat dalam perjalanan thudong.
"Anak-anak tuh histeris gitu, teriak-teriak dan pengin ngejar kita. Jadi ini sukacita mereka. Nah, ini ini itu juga jadi obat vitamin kita dalam langkah ini. Rasa capek kita terobati saat melihat mereka," ungkapnya.
Para biksu hanya membawa sepasang alas kaki yang digunakan sehari-hari. Aggacitto mengatakan alas kaki yang dibawa cukup untuk perjalanan 11 hari.
"Kalau alas kaki kita satu set cukup. Nggak habis itu," sebutnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Karakasabha Vihara Tanah Putih, Agghadhammo Warto, mengaku senang bisa menyambut para biksu.
"Kita menyampaikan selamat datang. Kemudian juga menyampaikan ikut sukacita, ikut berbahagia, atas kedatangan Bante Thudong yang melakukan perjalanan spiritual dari Candi Sima Jepara yang akan menuju ke Candi Sewu di Klaten," kata Warto.
Warto menerangkan nasihat para biksu ke Atthasilani yakni seputar memberikan semangat agar dapat menjalani kehidupan spiritual.
"(Para biksu di Vihara Tanah Putih) Memberi nasihat pada para Atthasilani, memberi semangat, memberi penguatan pada para Atthasilani yang saat ini berlatih untuk menjalani kehidupan spiritual sebagai umat Tuhan," pungkasnya.
(apu/ams)

