Dugaan Keracunan Gas di Balik Tewasnya Sekeluarga Saat Kamping di Temanggung

Round up

Dugaan Keracunan Gas di Balik Tewasnya Sekeluarga Saat Kamping di Temanggung

Tim detikJateng - detikJateng
Sabtu, 30 Mei 2026 05:09 WIB
Bagas Amar Hakiki yang tewas bersama keluarganya di Temanggung dimakamkan di Semarang, Kamis (28/5/2026).
Bagas Amar Hakiki yang tewas bersama keluarganya di Temanggung dimakamkan di Semarang, Kamis (28/5/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
Solo -

Satu keluarga yang tewas di lokasi kamping wisata Posong, Kabupaten Temanggung diduga keracunan gas. Asal gas diduga dari gas yang digunakan untuk pembakaran barbeque.

Keempat korban tersebut adalah Muhammad Ali Munawar atau MAM (52), Alvino Evan Hakim atau AEH (17) dan Bagas Amar Hakiki atau BAH (21) yang merupakan laki-laki, serta seorang perempuan berinisial Maghfirah atau M (43). Mereka merupakan ayah, ibu, dan dua anak asal Ambarawa, Kabupaten Semarang yang ditemukan tewas di dalam tenda pada Rabu (27/6) sore.

Dugaan Keracunan Gas

Polisi menyebut ada dua kemungkinan penyebab mereka meninggal dunia. Pertama yaitu keracunan makanan dan kedua keracunan gas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dapat kami jelaskan bahwa sudah dilaksanakan autopsi kemarin pada, Kamis (28/5) selesainya di siang hari. Untuk hasil pemeriksaan awal berdasarkan keterangan dari dokter yang memeriksa, diduga kematiannya ini ada dua dugaan kuat. Yang pertama diduga karena keracunan makanan dan yang kedua diduga karena keracunan gas hasil pembakaran," kata Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Deputra kepada wartawan di Lobil Polres Temanggung, Jumat (29/5/2026).

Dalam pemeriksaan kasus tersebut, polisi mengamankan sejumlah barang termasuk satu set kompor gas dan gas portable yang digunakan untuk barbeque.

ADVERTISEMENT

"Untuk pemeriksaan itu lima handphone berbagai merek yang diamankan, satu unit mobil Honda Jazz, satu unit kamera, satu set kompor gas portable, satu tungku tanah liat untuk membakar briket. Dan pemeriksaan terkait dengan sisa-sisa makanan seperti daging, sosis, sayur, dan nasi putih yang dibawa oleh korban untuk masak barbeque di TKP," jelas Komang

"Untuk temu di TKP-nya masih terpasang dan sudah dalam keadaan off (kompor gas portable). Setelah kami melaksanakan penyelidikan di dalam tenda maupun di luar tenda di sekitaran TKP itu tidak ditemukan bekas muntah atau dugaan lain yang bisa diamankan tidak ada," imbuhnya.

Komang menjelaskan, penyidik telah melaksanakan olah TKP. Kemudian petugas yang mendatangi lokasi menemukan satu set kompor gas portable yang digunakan barbeque tersebut itu tepat berada di mulut tenda atau teras tenda.


"Diduga kemungkinan ketika gas hasil pembakaran ini, mungkin itu adalah CO, karbon monoksida, ini naik kemungkinan ada yang masuk ke dalam tenda. Nah, tenda tersebut kan berbentuk limas. Diduga ada asap hasil pembakaran tersebut yang masuk dan terperangkap di dalam tenda," bebernya.

"Diduga setelah selesai melaksanakan masak-masak tersebut, ketika istirahat, dengan gas atau asap tersebut masih terperangkap di dalam tenda. Ditutup lah dengan rapat pintu dan ventilasi yang ada di kanan dan kiri. Dari pihak Dokkes Polda Jawa Tengah, menduga adanya gas hasil pembakaran. Nah, dimungkinkan dengan persesuaian dengan TKP tersebut, itulah dimungkinkan yang dihirup secara terus-menerus oleh korban hingga menyebabkan meninggal dunia," jelasnya.

Kondisi TKP Tanpa Ventilasi

Dirreskrimum Polda Jawa Tengah (Jateng), Kombes Anwar Nasir mengatakan, penyidik mendalami penyebab kematian. Kemungkinan gas dari kompor portabel terperangkap di dalam tenda yang tertutup.

"Pada saat itu tidak ada ventilasi. Ini masih dilakukan penyelidikan," kata Anwar di Mapolda Jateng, Semarang, Jumat (29/5/2026).

polisi masih menunggu hasil pemeriksaan toksikologi Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng. Pemeriksaan dilakukan terhadap sampel organ tubuh korban, makanan, hingga tabung gas yang ditemukan di lokasi.

"Yang diperiksa gasnya dan makanannya. Termasuk tabung gas juga dilakukan pemeriksaan," katanya.

Anwar menjelaskan polisi juga telah memeriksa rumah korban di Kabupaten Semarang untuk memastikan sumber makanan yang dikonsumsi keluarga tersebut. Namun, hasil pengecekan sementara tidak menemukan hal mencurigakan.

"Kita khawatir makanannya dari sana, tapi hasil pemeriksaan nihil," jelasnya.

Perkiraan Waktu Kematian

Para korban tiba di lokasi wisata tersebut pada Selasa (26/5). Kemudian mereka ditemukan petugas glamping pada Rabu (27/5) sore sekitar 15.45 WIB.

"Kalau untuk perkiraan dari dokter, korban ditemukan pada pukul 15.45 WIB itu sudah dalam keadaan kaku. Otomatis (meninggalnya) delapan sampai 12 jam sebelum ditemukan," jelas Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Deputra.

"Berarti kemungkinan antara malam sampai pagi sudah meninggal dunia. Jadi kemungkinan dari malam sampai pagi itu sudah meninggal dunia, hingga ditemukan sore harinya sudah kaku," sambungnya.

1 Korban Diautopsi

Satu dari empat korban dilakukan autopsi untuk mengetahui penyebab pasti kematian. Jenazah yang diautopsi adalah Alvino Evan Hakim (17).

"Yang diautopsi itu dengan inisial AEH, 17 tahun, laki-laki, seorang pelajar. Dari permintaan kami, tentunya kami ingin mengautopsi secara menyeluruh. Namun, dari pihak keluarga tentunya merasa keberatan," ujar Komang.

"Oleh sebab itu, dengan berbagai upaya kami, akhirnya keluarga dari korban tersebut menentukan satu yang akan diautopsi. Itu yang paling muda karena dianggap yang paling muda ini inisial AEH, paling sehat. Karena kebetulan juga merupakan atlet sehingga itu yang kami laksanakan pemeriksaan," imbuhnya.

Saat ini polisi masih menunggu hasil forensik dan hasil uji lab terhadap sampel makanan yang dikiri. Sedangkan jenazah sudah dimakamkan hari Rabu (27/5).




(alg/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads