Meninggal di Bekasi, Masinis Penyintas Tragedi Bintaro Dimakamkan di Purworejo

Meninggal di Bekasi, Masinis Penyintas Tragedi Bintaro Dimakamkan di Purworejo

Rinto Heksantoro - detikJateng
Rabu, 03 Jun 2026 15:26 WIB
Jenazah masinis KA di Tragedi Bintaro, Slamet Suradio (87), tiba di rumah duka, Rabu (3/6/2026) siang.
Jenazah masinis KA di Tragedi Bintaro, Slamet Suradio (87), tiba di rumah duka, Rabu (3/6/2026) siang. Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng
Purworejo -

Masinis penyintas tragedi Bintaro, Slamet Suradio (87) meninggal dunia dini hari tadi di Bekasi, Jawa Barat. Jenazahnya kemudian dimakamkan di kampung halamannya di Purworejo, Jawa Tengah.

Sebelum meninggal, kondisi kesehatan Mbah Slamet memang menurun sehingga dirawat oleh salah satu anaknya yang tinggal di Bekasi. Mbah Slamet meninggal di Cengkareng, Bekasi, pada Rabu (3/6) dini hari tadi.

"Ya sakit karena sudah sepuh. Meninggal tadi dini hari sekitar jam 01.00 WIB. Meninggalnya di tempatnya kakak," kata anak bungsunya, Safitri (26) saat ditemui detikJateng di rumah duka, Rabu (3/6/2026) siang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah diantar melalui perjalanan darat, jenazah Mbah Slamet tiba di rumah duka sekitar pukul 13.30 WIB. Isak tangis keluarga dan kerabat korban pun menyambut kedatangan jenazah Mbah Slamet. Bahkan, Safitri sempat pingsan saat tak kuasa menahan sedih.

ADVERTISEMENT

Setelah disucikan dan disalati, jenazah Mbah Slamet kemudian diimakamkan di kampung halamannya di Dusun Krajan, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo.

"Saya tahunya (bapak meninggal) dikabari ini tetangga. Ini dimakamkan di sini," ujar Safitri sembari menyeka air mata.

Sementara itu, Basori (72) yang merupakan tetangga dekat Mbah Slamet menuturkan bahwa Mbah Slamet berangkat ke Bekasi sejak tanggal 17 Mei 2026. Pria kelahiran 18 Agustus 1939 itu meninggalkan seorang istri, empat anak, dan empat cucu.

"Pergi ke Bekasi tanggal 17 Mei 2026 ke tempat anaknya karena udah sakit-sakitan, di sana kan dirawat sama anaknya," kata Basori.

Diketahui, Slamet Suradio ialah masinis KA 225 rute Rangkasbitung-Tanah Abang yang bertabrakan dengan KA 220 Patas Merak di daerah Pondok Betung, Bintaro, pada 19 Oktober 1987. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan Tragedi Bintaro 1987. Insiden tragis akibat salah komunikasi persilangan antarstasiun tersebut menewaskan lebih dari 130 orang.




(dil/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads