Giliran Tedjowulan Ungkap Rencana Gelar Kirab Malam 1 Suro 16 Juni

Giliran Tedjowulan Ungkap Rencana Gelar Kirab Malam 1 Suro 16 Juni

Tara Wahyu NV - detikJateng
Kamis, 04 Jun 2026 17:14 WIB
Abdi dalem membawa kerbau bule peranakan pusaka kerbau Kyai Slamet untuk mengikuti kirab Satu Sura di Keraton Kasunanan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (26/6/2025) malam. Kirab tersebut dalam rangka memperingati pergantian tahun baru Hijriah yang dalam penanggalan Jawa disebut Satu Sura. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/bar
Kirab malam satu sura Keraton Kasunanan Solo Foto: ANTARA FOTO /MOHAMMAD AYUDHA
Solo -

Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, juga bakal menggelar kirab pusaka Malam 1 Suro Tahun Be 1960/2026. Rangkaian kirab pusaka digelar pada Selasa (16/6) malam.

Juru bicara KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, Kanjeng Pakoenegoro, mengatakan rapat mengenai kirab pusaka sudah digelar bersama Kementerian Kebudayaan. Dari hasil rapat, rangkaian kirab akan digelar pada hari Selasa 16 Juni 2026.

"Prinsipnya Selasa malam ya. Jamnya belum tahu, karena itu mengikuti dinamika di keadaan pada waktu itu. Bisa segera jam 23.30 mungkin, bisa agak, agak malam mungkin jam 1 dini hari, mungkin jam 2 dini hari, kurang tahu kami. Karena itu kami tidak, tidak di bidang itu. Yang jelas malam, Selasa malamnya, Selasa malam Rabu," katanya dihubungi awak media, Kamis (4/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ditanya mengenai kirab pusaka yang berbarengan dengan pihak Paku Buwono XIV Purbaya, Pakoenegoro menyebut itu menjadi perhatian Tedjowulan. Menurutnya, bila beda hari seperti Grebeg Besar masih bisa dimaklumi.

ADVERTISEMENT

"(Pihak PB XIV Purbaya juga di tanggal sama apakah akan tabrakan?) Nah itu dia, yang menjadi perhatian dari Gusti Tedjowulan. Harapan beliau kan rukun, rukun, rukun, kompak, gitu lho. Kalau, kalau kemarin itu kan Grebeg Besar, oke lah, masih bisa dua tanggal, gitu ya, dua pihak, dua tanggal," ungkapnya.

"Tapi kalau malam 1 Suro ini kan nggak bisa dua tanggal. Artinya akan bertemu kan, kalau masih ada kepentingan personal atau kelompok, akan ada lebih dari satu kelompok, bertemu di satu tanggal, bertemu di satu malam, bertemu di satu tempat, itu kan dinamikanya cukup, cukup mengkhawatirkan ya, gitu," sambungnya.

Pakoenegoro menyebut bahwa pihaknya juga telah menjalin komunikasi dengan PB XIV Purbaya saat rapat bersama Kementerian Kebudayaan. Menurutnya, selama ditunjuk sebagai Pelaksana Keraton Solo, Tedjowulan bersikap netral.

"Semua pihak diundang waktu rapat dengan Kementerian Kebudayaan. Jadi harapannya memang rukun saja. Dari dulu kami pesannya juga itu aja, rukun, kompak, gitu. Jangan, jangan lagi mengatasnamakan personal atau kelompok. Tapi kenyataannya dinamikanya kan seperti ini sampai sekarang," terangnya.

"Jadi Gusti Tedjowulan ini netral, berada di tengah. Bukan Gusti Tedjowulan yang mengadakan, ini keraton yang punya gawe," lanjutnya.

Lebih lanjut, pihaknya mengaku terus menjalin komunikasi termasuk dengan putra dan putri Dalem Paku Buwono XII dalam keberadaan pusaka Keraton Solo. Apalagi, untuk bisa melihat pusaka bukan sembarang orang.

"Gusti Tedjowulan juga akan melibatkan Gusti-Gusti sepuh, putra dalem, putri dalem yang sawargo PB XII. Karena beliau-beliau ini yang lebih memahami tentang keberadaan dan keadaan pusaka-pusaka. Kan tidak bisa sembarang orang, harus putra-putri dalem yang sudah disumpah," bebernya.

Mengenai pendataan pusaka Keraton Solo, Pakoenegoro menyebut sudah dilakukan sejak sebulan yang lalu. Pendataan dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X.

"Sudah sekitar sebulan yang lalu pihak pendata, yaitu dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah wilayah X dan Kementerian Kebudayaan, memulai pendataan kekayaan budaya di Keraton Surakarta Hadiningrat, dan masih berjalan sampai sekarang. Artinya berkelanjutan, dan pusaka-pusaka juga menjadi prioritas dari pendataan itu," pungkasnya.




(apu/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads