Histeris Dewi Saat Temukan Bilqis Tewas Bersimbah Darah Dibunuh Perampok

Histeris Dewi Saat Temukan Bilqis Tewas Bersimbah Darah Dibunuh Perampok

sragenkita, Tim detikJateng - detikJateng
Minggu, 07 Jun 2026 14:41 WIB
Ibu Bilqis, Dewi Sri Lestari, saat diwawancarai di rumahnya di Dukuh Bromoasri, Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Sabtu (6/6/2026).
Ibu Bilqis, Dewi Sri Lestari, saat diwawancarai di rumahnya di Dukuh Bromoasri, Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Sabtu (6/6/2026). Foto: Dok. detikJateng
Sragen -

Seorang bocah perempuan berusia 11 tahun di Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Sragen tewas dibunuh perampok. Mayat bocah kelas 5 SD bernama Bilqis Rajiansyah Lestari (11)itu pertama kali ditemukan oleh ibunya, Dewi Sri Lestari (34).

Saat ditemukan kondisi mayat Bilqis sangat mengenaskan. Sejumlah luka ditemukan di tubuh bocah yang masih duduk di kelas 5 SD itu.

Dewi menuturkan, Jumat (5/6) sore sekitar pukul 16.00 WIB, dirinya baru pulang dari bekerja di pabri. Dia mendapati rumahnya tertutup rapat, dan ada gembok yang tidak terkunci.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian, Dewi mulai memanggil putrinya itu sembari masuk ke rumah. Sosok Bilqis ternyata berada di kasur ruang tengah dengan posisi tengkurap tanpa menjawab panggilan ibunya.

"Aku memanggil anakku, lalu aku bangunin. Aku panggil Bilqis Bilqis, bocahnya diam, apa sakit ya cuma diam pakai selimut kakinya setengah badan. Aku buka dikit-dikit banyak darahnya di kakinya, sprei dan selimut juga banyak darah. Aku tengkurapin, muka sudah ada luka bacok, sama tangan, dan saya menyalakan lampu, matikan kipas," terangnya, Sabtu (6/6/2026).

ADVERTISEMENT

Mendapati kondisi putrinya yang cukup mengenaskan, Dewi pun berteriak histeris dan berlari keluar mencari pertolongan. Warga yang mendengar teriakan Dewi berdatangan. Peristiwa itu kemudian dilaporkan ke polisi.

Kepala Desa Dawung, Aris Sudaryanto, menceritakan jasad korban pertama kali ditemukan oleh ibu kandungnya sendiri, Dewi, sepulang bekerja dari pabrik rokok sekitar pukul 16.00 WIB.

"Ibunya pulang kerja sekitar jam 4 sore, lalu histeris (melihat kondisi anaknya). Mendengar itu, Mbah Wadi (warga sekitar) datang melihat, lalu langsung melapor ke RT dan diteruskan ke saya," terang Aris.

Saat dirinya tiba di lokasi, kondisi rumah sudah ramai. Ia langsung bergegas masuk dan mendapati korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa dengan luka parah di beberapa bagian tubuhnya.

"Kondisi jenazah banyak bekas bacokan, di bagian tangan dan muka. Bahkan mukanya sudah tidak berbentuk. Di lantai juga banyak bekas telapak kaki, kondisinya (darah) sudah kering. Karena itu, langsung saya suruh warga keluar semua dan melarang ada yang memfoto," jelasnya.

Menurut Aris, saat kejadian korban berada di rumah seorang diri. Kedua orang tuanya diketahui sedang pergi bekerja sejak pagi hari. Lingkungan sekitar rumah korban juga cenderung sepi saat siang hari karena mayoritas tetangga bekerja sebagai petani tebu dan pedagang.

"Korban ini anak tunggal, anak bawaan dari ibunya. Ayah kandungnya sudah meninggal, lalu ibunya menikah lagi dengan Pak Sukardi. Mereka juga baru sekitar 3 bulan pindah dan menempati rumah baru ini," tambah Aris.




(apl/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads